
Sambil menikmati makan malam, Alisa masih terus merasa dongkol. Ditambah lagi perempuan yang ada dihadapannya itu adalah sosok yang sudah menjadi pesaing beratnya.
Karena sama-sama dari keluarga terpandang dan juga sama kayanya, tentu saja sama kuatnya. Tapi tidak untuk Aluv, dirinya tidak pernah merasa memiliki pesaing ataupun lawan.
Dengan perasaan yang cemburu, Alisa cepat-cepat menghabiskan makanannya. Sedangkan Aluv sendiri menikmatinya dengN santai, tak peduli dengan reaksi yang akan ditunjukkan oleh Alisa.
Setelah cukup lama menikmati makan malamnya, satu per satu telah selesai. Siapa lagi kalau bukan Tuan Topan dan istrinya. Karena tidak ingin tertinggal, Kenaya sendiri buru-buru menghabiskan makanannya. Begitu juga dengan Alisa sendiri, yang akhirnya dapat menghabiskan makanannya.
Sebelum bangkit dari posisi duduknya, Tuan Topan dan istrinya mencoba menikmati puding buatan menantunya.
"Wah, siapa ini yang membuat puding? rasanya sangat enak dan juga lembut." Tanya Tuan Topan memuji puding buatan menantunya setelah menikmatinya.
"Yang membuat pudingnya menantu kita, Pa. Siapa lagi kalau bukan Aluvia." Sahut Ibunda Holena.
__ADS_1
Tuan Topan benar-benar tidak menyangka-nya, jika Aluv rupanya tidak jauh berbeda dengan istrinya yang selalu bisa melakukan apapun. Bisa dikatakan, bahwa Aluv berasal dari keluarga yang lebih dari kata mampu, tetapi mempunyai nilai baik menjadi seorang istri maupun menjadi seorang perempuan.
"Papa benar-benar tidak pernah menyangka-nya, jika Nak Aluv cukup pandai." Ucap Tuan yang kembali memuji menantunya.
"Papa tidak perlu berlebihan, karena Aluv hanya membuat puding saja kok, Pa. Aluv tidak pantas untuk mendapatkan pujian." Jawab Aluv berusaha untuk merendah.
"Memang benar yang dikatakan Papa, puding yang kamu buat memang benar enak dan juga rasanya tidak terlalu manis. Bahkan, pudingnya terasa lembut." Puji Ibu mertua yang ikut menimpali.
Alisa yang mendengarnya pun terasa panas dan juga kesal, pastinya. Lagi-lagi Aluv yang terus mendapatkan pujian, tidak di kampus maupun dimana saja.
"Wah, puding buatan Kak Aluv beneran sangat enak dan juga lembut. Boleh nih kalau Aluv ikutan belajar sama Kakak, siapa tahu saja bisa jadi hobby." Kata Kenaya ikut memujinya, Aluv hanya tersenyum sambil mengunyah makanan.
"Jangan sampai kamu mengajari Kenaya membuat puding, bisa-bisa tiap hari kita akan disuguhkan dengan puding buatannya, pagi, sore, siang dan malam. Tidak, tidak akan aku izinkan. Mendingan juga kamu sekolah masak saja, itu jauh lebih baik." Ucap Edwin ikut berkomentar mengenai keinginan adik perempuannya.
__ADS_1
"Dih, kenapa Kakak mikirnya kek gitu sih? itu kan, dulu." Jawab Naya dibuat cemberut.
"Sudah, sudah, selesaikan makan malam kalian. Setelah itu, kalian semua segera pindah ke ruang keluarga, ok." Ucap Ibunda Holena.
"Ya Ma, ya." Jawab Kenaya tanpa diikuti oleh yang lainnya, termasuk sang kakak dan Aluv maupun Alisa.
Berbeda dengan Aluv dan Edwin, keduanya masih menikmati makan malamnya tanpa harus terburu-buru.
"Aluvia, jangan lupa minum susunya dan juga vitaminnya." Ucap ibu mertua mengingatkan sebelum meninggalkan ruang makan, sedangkan Aluv sendiri mengangguk.
"Ya, Ma. Terimakasih sudah mengingatkan Aluv." Jawab Aluv sebelum menyuapi mulutnya sendiri.
Kemudian, Tuan Topan dan Ibunda Holena bergegas bangkit dari posisinya dan pindah tempat ke ruang keluarga untuk bersantai setelah makan malam.
__ADS_1
Kini tinggallah Aluv bersama suaminya, dan juga masih ada Kenaya dan Alisa yang sedang makan buah dan puding buatan Aluv sebagai cuci mulut.