Penutup Noda

Penutup Noda
Kejutan bikin jengkel


__ADS_3

"Kedua temanku sudah datang ke rumah, aku mau temui dia. Jika ada sesuatu, kamu tekan saja tombolnya." Ucap Edwin berpamitan.


"Ya, tidak apa-apa." Jawab Aluv dibarengi dengan anggukan.


Sebelumnya, Edwin menc*ium keningnya ketika mau keluar dari kamarnya.


"Angkat tangan! atau senjata ini akan melumpuhkan mu." Ucap Edwan cukup lantang sambil menodong.


"Serahkan semuanya padaku, termasuk isi dompet mu." Kata Dokter Viktor tak kalah dari temannya, Edwan.


"Benar-benar sudah gila, kalian berdua ini. Singkirkan itu mainan."


"Yah! ngegas, jangan gitu dong, Bro. Eh, mana putramu. Kita berdua ingin memberi hadiah buat keponakan baru loh."


Bukannya menjawab pertanyaan dari temannya, justru pandangannya terarah pada tumpukan hadiah yang sudah tersusun rapi di ruang tamu. Tepatnya tidak jauh dari pintu utama, Edwin langsung menatap satu per satu pada temannya.


"Kalian sedang meledekku rupanya, itu hadiah apa paketan orang yang kamu rampas? lihatlah, aku sendiri tidak bisa menghitung jumlahnya. Benar-benar sudah gila, kalian ini." Tuduh Edwin dengan tatapan tajam, Dokter Viktor dan Edwan hanya nyengir pasta gigi ketika melihat temannya tengah geram karena ulahnya sendiri yang membawa hadiah yang begitu banyak.


"Pak Samsu." Panggil Edwin pada orang kepercayaan di rumah.


"Bro, mam*pus! kita. Jangan-jangan kita disuruh bawa balik, lagi." Bisik Edwan didekat telinga Dokter Viktor.


"Mana masih banyak yang belum datang lagi, itu paketan. Siap-siap kita bakal jadi batagor, Boro, yang siap disantap." Jawab Dokter Viktor.


"Elu sih, nyari ide konyol bener." Tuduh Edwan setelah menyenggol Dokter Viktor.


"Biarin, sekali-kali. Ini kan, anak pertamanya. Kita harus bikin suprise yang besar, sekalian biar jadi tukang jualan mainan." Kata Dokter Viktor dan tak lupa keduanya tertawa kecil dengan apa yang dipikirkan oleh masing-masing.


"Ya, Tuan. Maaf, ada apa, Tuan?"

__ADS_1


Dengan terburu-buru, Pak Samsu segera menghadap pada majikannya.


"Tolong ambilkan buku catatan, biarkan mereka berdua ini yang membuka hadiahnya sekaligus menulis jenis hadiahnya." Jawab Edwin, kemudian melirik ke arah kedua temannya.


"Baik, Tuan." Jawabnya segera pergi dari hadapan Bosnya.


Dokter Viktor dan Edwin yang mendengarnya pun, keduanya saling menatap satu sama lain.


Saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari depan. Seketika, kedua temannya membuang napasnya kasar, lantaran sudah dapat menebak siapa yang pada datang. Siapa lagi kalau bukan pesanan kado dari Dokter Viktor dan Edwan sendiri.


"Ada apa Pak Dami? kenapa terburu-buru?"


"Em ... itu, Tuan." Jawabnya sambil garuk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.


Sedangkan Dokter Viktor dan Edwan saling senggol menyenggol.


"Gimana ini, Bro? paketan udah pada dateng semua. Siap-siap jadi adonan donat, kita berdua ini." Bisik Dokter Viktor.


"Katakan saja, Pak. Di luar ada siapa dan ada apa sebenarnya?" tanya Edwin yang sudah tidak sabar ingin melihatnya sendiri.


"Banyak yang mengirim paket hadiah ke rumah Tuan, sekitar ada 100 pengirim dan semuanya tengah berjejer di depan pintu gerbang utama." Jawab Pak Dami selaku penjaga rumah.


"Apa! paket hadiah?"


Sontak kaget dibuatnya, Edwin kembali mengarahkan pandangannya pada kedua temannya, Dokter Viktor dan Edwan.


"Kalian! benar-benar, ya. Lihat saja, bakal aku balas kalian." Kata Edwin yang mulai geram.


"Jangan menolak, Bro. Aku dan Edwan memberi hadiah semuanya hanya untuk putramu." Ucap Dokter Viktor.

__ADS_1


"Ya, Bro. Yang dikatakan Viktor itu benar adanya." Timpal Edwan ikut bicara. Sedangkan Edwin tidak menanggapinya, ia fokus berbicara dengan Pak Dami.


"Aku serahkan semuanya pada Pak Dami, biar saya akan menghukum mereka berdua." Ucap Edwin pada penjaga rumah.


"Gil*a benar, kalian berdua ini. Tidak sekaligus pabriknya yang kalian kirim, nanggung amat jadi orang kaya."


"Ada apa ini? kok, rame banget."


"Tante Holen, kita berdua kesini mau memberi surprise, Tante." Sahut Edwan sambil tersenyum.


"Hadiah, wah ... terimakasih banyak ya, Nak Edwan dan Nak Viktor." Ucap Bunda Holena mendekati putranya.


"Hadiah macam apa itu, Ma. Kirim hadiah udah kek ngerampok paketan saja mereka berdua ini." Timpal Edwin sambil menunjuk pada tumpukan hadiah yang tengah berada di ruang tamu yang tidak jauh dari pintu utama.


Bukannya merasa geram, justru Bunda Holena tertawa melihat begitu banyaknya hadiah untuk cucunya.


"Kenapa Mama tertawa? apanya yang lucu, yang ada mah mengerjai-ku. Asal Mama tahu, di depan rumah masih banyak hadiahnya."


"Berarti putramu membawa keberuntungan, Nak." Kata Bunda Holena dengan senyuman.


"Tuh, kan ... yang dikatakan Tante Holena baru benar." Timpal Edwan mencari pembelaan.


"Hem, ya ya ya. Terserah kalian aja, salah juga tetap benar oleh kalian berdua." Kata Edwin dengan kesal.


"Ngomong-ngomong, kalian berdua tidak kerja?" tanya Bunda Holena.


"Edwan izin libur, Tante. Kebetulan, hari ini cuma penerimaan karyawan baru. Jadi, sekali-kali pulang lebih awal." Jawab Edwan.


"Kalau Viktor aktif kerjanya nanti nmalam, Tante." Timpal Dokter Viktor.

__ADS_1


"Kirain, kalian berdua bolos kerja."


"Itu kan, dulu, Tante." Jawab keduanya serempak.


__ADS_2