Penutup Noda

Penutup Noda
Merindukan


__ADS_3

Aluv yang merasa aneh dengan tingkah suaminya sendiri, hanya menggelengkan kepalanya karena heran.


"Benar-benar aneh. Dengan kamarnya sendiri saja, lupa." Gerutunya sambil menuruni anak tangga.


Sedangkan Edwin yang sudah berada di dalam kamarnya, ternyata tengah mengutuk dirinya sendiri atas kecerobohannya itu.


"Kamu itu bodoh sekali, Edwin. Tidak seharusnya kamu itu lepas kontrol, ingat dengan keputusanmu." Ucapnya dengan lirih didepan cermin sambil berkacak pinggang.


Karena tidak ingin memikirkan yang tidak tidak, Edwin segera menepis pikirannya itu. Kemudian, Edwin memilih untuk bergegas tidur. Berharap, rasa penat yang bersemayam di kepalanya akan berkurang, pikirnya sambil menguap.


Begitu juga dengan Aluv, dirinya yang tidak ingin waktunya terasa lama, memilih untuk segera tidur. Berharap, malamnya dapat dilewati dengan mimpi yang indah. Meski ketika bangun, tetap pada kenyataannya yang ada.


Tetapi tidak di kediaman keluarga Gentaram Praja. Kemal dan sang ayah tengah duduk bersantai sambil membicarakan sesuatu, tentu saja mengenai Aluv.


"Apakah Papa sudah yakin, jika Edwin dapat dipercaya?" tanya Kemal dengan penuh kekhawatiran terhadap adik perempuannya.

__ADS_1


"Yakin tidak cukup untuk percaya begitu saja, karena kita tidak dalam satu rumah. Positif thinking saja, karena Papa sudah memberinya ancaman." Jawab Tuan Gentaram.


"Kalian berdua sedang membicarakan apa? sepertinya sangat penting, soal Aluv?" tanya sang ibu penasaran, lantaran sang anak dan suami belum juga tidur.


"Ya, Ma. Papa dan Kemal sedang membicarakan Aluv, kita berdua khawatir dengan keadaannya. Takut, jika Aluv mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya. Mama tahu sendiri, 'kan? jika Tuan Galeyandra orangnya sangat keras." Jawab Tuan Gentaram.


"Doakan saja, semoga Aluv di terima dengan baik oleh keluarga Galeyandra. Kalaupun tidak, Aluv pasti akan mengadu sama kita." Ucap sang istri, Tuan Gentaram mencoba untuk mencerna ucapan dari istrinya.


"Mama ini bagaimana sih? mana mungkin Aluv akan bercerita sama kita, yang sudah pasti putri kita sudah di bungkam mulutnya dengan ancaman."


Kata Tuan Gentaram yang tidak mudah percaya dengan keluarga Galeyandra, meski dinyatakan sangat baik sekalipun.


Ditambah lagi dengan kondisinya saat ini yang mana putri Tuan Gentaram telah hamil dari benih keluarga Galeyandra, tentunya semakin mendalam kebencian dari keluarga Tuan Gentaram sendiri. Meski tahu, putrinya juga salah.


Ingin lepas dari masalah keluarga Galeyandra, tetapi justru masuk di dalamnya. Mau tidak mau, pernikahan disegerakan walaupun dengan terpaksa sekalipun.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kalian berdua itu, tidur. Besok lagi kalau mau mendiskusikan mengenai Aluv. Tapi, Mama rasa tidak perlu khawatir. Karena Mama sangat paham dengan istri Tuan Topan, sangat baik dan bijaksana." Ucap istri Tuan Gentaram meyakinkan suami dan putranya.


"Ya Ma, ya." Jawab Kemal pasrah, karena baginya percuma jika harus berdebat dengan seorang perempuan, apalagi seorang ibu, tentunya tetap kalah untuk berdebat, pikirnya.


Karena tidak ingin mendapatkan omelan dari sang istri, Tuan Gentaram segera masuk ke kamarnya dan beristirahat. Begitu juga dengan Kemal, dirinya segera bergegas masuk ke kamarnya karena tidak ingin ibunya akan terus mengomel.


Sedangkan di kediaman keluarga Galeyandra, Aluv masih belum bisa tidur nyenyak. Karena gusar, Aluv memilih bangkit dari posisinya.


Diraihnya satu gelas air minum. Kemudian, Aluv meminumnya hingga tandas dan tidak tersisa. Untuk menghilangkan kejenuhannya, alih-alih dirinya bermain dengan ponselnya untuk menghilangkan kegusaran yang ada dalam benak pikirannya itu.


Karena tidak tahu harus berbuat apa dengan ponselnya, Aluv memilih membuka galeri-nya karena rasa rindu yang begitu dalam dengan mendiang kekasihnya. Tidak dapat untuk dipungkiri, jika dirinya masih menyimpan rasa walaupun telan tiada sekalipun.


"Andai saja kamu masih hidup, kita pasti akan bahagia bersama. Tapi, kenapa kamu pergi lebih dulu disaat aku membutuhkan mu? lihatlah, sekarang aku sedang hamil anakmu. Aku pun tidak tahu, bagaimana nasib anak kita nanti." Gumamnya dan meneteskan air matanya.


Siapa sangka, jika kematian akan mengubah nasibnya hanya dalam sekejap saja. Aluv, yang mana dirinya harus melewati kesedihannya sendiri walaupun kini telah bersuami sekalipun.

__ADS_1


Rasa rindu akan perhatian, Aluv hanya bisa berandai-andai. Dilihatnya kenangan-kenangan indah bersama kekasihnya dulu, kini kenangan itu telah berubah menjadi kesedihan yang nyata.


Cukup lama bermain dengan sebuah ponsel, rasa kantuknya pun telah menguasai dirinya. Lambat laun, Aluv tertidur dengan pulasnya.


__ADS_2