
Edwin yang tidak ingin ribut di rumah, akhirnya segera mencari cara untuk bisa bicara dengan istrinya.
"Berhenti, Pak." Perintah Edwin.
Mobilnya pun berhenti secara mendadak, hampir saja Aluv terbentur.
"Bapak boleh keluar, ada yang ingin saya bicarakan dengan istri saya, Pak."
"Baik, Tua. Kalau begitu, saya akan turun." Jawab Pak Supir.
Setelah Pak Supir keluar, tinggallah Edwin dengan istrinya di dalam mobil. Tentunya, Aluv berubah menjadi bingung dan juga takut.
"Kak Edwin mau bicara apa?" tanya Aluv memberanikan diri untuk bertanya duluan.
"Apa kamu sudah gila, ha! dengan terang-terangan kamu membuka aib kamu. Apakah urat malumu itu sudah putus? sampai-sampai kamu berubah menjadi bo*doh, ha!"
Aluv pun kaget mendengarkannya, sungguh diluar dugaannya.
"Maksud Kak Edwin itu, apa?" tanya Aluv yang belum juga mengerti.
__ADS_1
Edwin yang sudah merasa geram, langsung menunjukkan barang bukti dihadapan istrinya.
"Lihat! dimana otak waras kamu itu, ha!" bentak Edwin dengan berani.
Bahkan sampai lupa dengan istrinya yang tengah hamil.
Aluv yang melihat serta mendengarkannya begitu sangat jelas, dirinya begitu malu pada suaminya sendiri atas perbuatan bod*ohnya itu.
"Maafkan aku, Kak. Bukan niatku ingin membuka aib, tapi aku benar-benar lupa dengan keadaanku sendiri." Jawab Aluv dengan gemetaran.
"Seharusnya kamu itu malu dengan kondisimu ini, tapi kamu tidak memikirkan hal itu." Ucap Edwin yang berusaha untuk menahan amarahnya.
Aluv yang merasa bersalah atas tindakannya itu, dirinya hanya bisa menangis sesenggukan.
"Kamu yang berbuat, dan seolah kamu yang menderita. Hentikan air mata buaya kamu itu." Tuduh Edwin yang menyimpan kekesalannya.
Aluv yang terpojok oleh perkataan suaminya, hanya bisa diam dan menangis sesenggukan.
"Terlalu dangkal cara berpikirnya kamu, mengambil jalan pintas yang tidak sesuai dengan otakmu."
__ADS_1
"Aku tahu, aku memang salah. Bukankah aku sudah menolak untuk tidak ikut pergi, tetapi Kak Edwin yang memaksaku untuk ikut." Jawab Aluv yang tidak mempunyai alasan lain, tak hentinya juga ia menangis dengan penuh sesal.
Karena tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana, Aluv segera melepas sabuk pengamanannya.
"Kamu mau kemana? ha!"
Dengan kuat, Edwin mencengkram lengan milik istrinya.
"Mati! ya! lebih baik aku mati, puas! lepaskan tanganmu, Kak." Jawab Aluv dengan suara yang cukup keras.
"Aaaa!" teriak Edwin saat tangannya mendapat gigitan dari istrinya cukup kuat dan mengeluarkan darah segar.
Dengan tertatih karena kondisinya yang sedang hamil, Aluv berjalan dengan langkah kakinya yang cukup lebar. Berharap bisa melarikan diri dari suaminya, karena tidak ingin terus menerus mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya.
Aluv sadar diri, jika dirinya tidak pantas untuk memiliki suami. Dan lebih lagi Aluv ketakutan jika anaknya kelak akan diabaikan.
Edwin tidak peduli dengan luka yang ada pada tangannya itu, ia lebih mementingkan keselamatan calon anak yang berada dalam kandungan istrinya.
Meski bukan benihnya sendiri yang ada di rahim istrinya, setidaknya dirinya dapat menyelamatkan nyawa yang tidak berdosa itu, pikirnya.
__ADS_1
Aluv yang kelelahan karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berlari, akhirnya berhenti sejenak sambil menghapus air matanya.