Penutup Noda

Penutup Noda
Merasa kesal


__ADS_3

Nuza yang juga sudah merasa mengantuk, akhirnya tertidur dengan pulas. Begitu juga dengan Kenaya, dirinya begitu nyenyak saat sudah mengganti posisi tidurnya dengan memeluk tubuh suaminya.


Nuza yang sudah hilang kesadarannya karena rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya, tak merasakan apapun saat istrinya memeluk tubuhnya bak guling hidup.


Begitu nyenyak keduanya terbawa dengan mimpinya masing-masing, tak sadar diri jika mentari pagi sudah menghangatkan.


Nuza maupun Kenaya sedikit-sedikit mulai tersadar dari tidurnya, hanya saja belum membuka matanya masing-masing.


Naya yang tersadar penuh meski dengan mata terpejam, ia langsung membuka matanya dan mengucek bagian mata agar penglihatannya sempurna tanpa ada yang mengganjal.


Dengan posisi kaki kanan yang menindih suaminya bagian pa_ha, dan juga tangan yang tengah memeluk suaminya. Sedangkan jarak pandangannya begitu sangat dekat, tak ada satu jengkal di antara Naya dan Nuza.


Saat itu juga, kedua mata mereka bertemu dan saling menatap. Awalnya menatapnya dengan biasa, selanjutnya tatapan Naya maupun Nuza seperti hendak menyala dan siap memangsa.


"Aaaaaaaa!"


Teriak Naya dengan suara melengking, tentunya mengganggu indra pendengaran suaminya sendiri, termasuk Naya sang pelaku.

__ADS_1


Naya yang merasa mendapat siap, langsung berbaring, menoleh saja, tidak. Nuza justru menahan tawanya saat ide konyolnya tengah berhasil mengerjai istrinya sendiri.


Dengan percaya diri, Nuza mengganti posisinya dengan bersandar, dan tak lepas dengan kedua tangannya yang menyilang di dada bidangnya.


"Bilang aja kalau takut ketahuan. Pulas kan, tidurmu saat memeluk tubuhku ini yang penuh kehangatan. Masih untung kamu, tidak ada yang pada bangun. Kalau sampai ada yang bangun, maka kamu harus bertanggung jawab."


Kenaya langsung menoleh suaminya.


"Dih! sapa juga yang mau bangunin, apa lagi bertanggung jawab, apanya aku, siapanya aku, pula."


"Karena kamu istriku, tak ada penolakan apapun jika aku meminta, bahkan tanpa meminta sekalipun padamu." Ucap Nuza menakuti istrinya, Kenaya langsung menutup mulutnya karena takut sang suami akan berbuat nekad.


Lebih lagi dalam kamar hotel yang dihuni hanya berdua saja, tentu saja sangat mudah bagi Nuza untuk melakukan hubungan dengan dirinya.


"Stop, stop, ok. Perutku lapar, bisakah kamu memesankan makanan untukku? aku pingin makan."


Nuza mengernyit.

__ADS_1


"Gak sabaran banget kamu ini, ntar kan makanannya datang sendiri. Lebih baik kamu itu mandi, biar badan kamu tidak bau. Habis itu, baru kamu makan." Kata Nuza, dan kembali ke posisi semula.


"Ish! kau ini, benar-benar sangat menyebalkan. Pantas aja, semua perempuan pada lari melihat kamu. Kamunya sih, cerewet permanen. Ya iya lah, banyak yang takut."


"Kamu bilang apa barusan? banyak yang takut denganku? memangnya siapa yang takut denganku, palingan juga kamu."


"Dih! kepedean banget kamu itu, siapa juga yang takut denganmu." Tantang Kenaya pada suaminya sendiri, Nuza sengaja mulai dengan idenya.


"Yakin nih kamu tidak takut denganku? ingat ya, ini hotel. Bukan warung kopi, disini tidak akan ada yang bisa menolong kamu." Ucap Nuza sambil meninggikan satu alisnya.


"Yakinlah, ngapain takut dengan kamu. Memangnya ini hotel milik nenek moyang Lu! ngaca dulu sana."


Nuza justru tertawa mendengarnya.


"Tertawa lagi, cepat kamu pesankan makanan untukku. Aku bisa laporin kamu, karena sudah mengabaikan perutku yang lapar ini."


"Silakan, tuh kalau mau laporin ke nomor yang tertera di sebelah telpon." Jawab Nuza sambil menunjuk, dan memilih tengkurap dan melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2