Penutup Noda

Penutup Noda
Merasa dikerjain istri


__ADS_3

Usai menepuk keningnya, Edwin mengusap wajahnya dengan kasar atas jawaban yang ia terima dari sang istri. Kemudian, Edwin menoleh padanya.


"Kamu tuh ya, benar-benar mau mengerjai-ku rupanya." Ucap Edwin membuang napasnya dengan kasar.


Justru, Aluv tertawa kecil ketika melihat suaminya yang berhasil ia kerjain.


Edwin yang masih dengan posisinya, ia menggeser posisinya untuk duduk dan bersandar.


"Tidak lucu, jangan tertawa. Seneng ya, sudah mengerjai-ku." Kata Edwin sambil memeluk bantal.


Aluv masih tertawa kecil, begitu menggemaskan suaminya saat ini yang berhasil ia kerjain.


"Ya maaf, habisnya aku tidak ada kerjaan." Jawab Aluv dengan santainya.


"Hem. Terus, aku disuruh tidur dimana? jangan bilang kalau dilantai." Ucap Edwin sambil melirik ke arah istrinya.


Dengan sengaja, Aluv mengangguk pelan.


Seketika, Edwin membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.

__ADS_1


"Apa! kamu memintaku untuk tidur di lantai? yang benar saja."


"Dengan senang hati." Jawab Aluv tak lepas dengan tawanya yang membuat Edwin semakin terasa ngenes menerima nasibnya itu.


Cepat kilat, Edwin langsung menidurkan istrinya dengan pelan. Kemudian, ia mengunci kedua tangannya agar tidak bisa berkutik sedikitpun.


Sekarang giliran Edwin yang tersenyum penuh kemenangan, tak lepas dengan mengedipkan matanya yang seperti tengah menggoda.


"Kak, lepasin. Perutku." Ucap Aluv.


Edwin langsung melepaskan tangannya yang baru saja menahan kedua tangan milik istrinya dan kembali pada posisinya.


Sedikitpun Edwin tidak merasa canggung pada istrinya, tetap saja ia bersikap layaknya suami istri pada umumnya tanpa rasa malu ataupun yang lainnya.


Edwin meraih tangan milik Aluv, tidak peduli baginya jika harus dinyatakan duda bucin sekalipun. Setidaknya ia dapat mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya itu, meski terlalu cepat dan sangat tidak masuk akal.


"Jangan pernah menjauh dariku, apapun alasannya. Janji, aku tidak akan melakukan hal bodoh yang seperti yang kamu pikirkan." Ucap Edwin, dan ia langsung memeluk istrinya.


Aluv masih diam, dirinya sendiri tak tahu harus menjawabnya apa.

__ADS_1


"Aku sedang tidak menjauh dari Kak Edwin, aku hanya menuruti permintaan Kakak, itu saja." Jawab Aluv sesuai yang diminta suaminya, pikir Aluv sendiri.


Edwin melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayu milik istrinya dengan lekat.


"Benarkah hanya itu? tapi aku merasa bahwa kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu, apa itu? katakan saja dan jangan kamu simpan sendirian."


"Tidak ada, aku sedang tidak memikirkan sesuatu. Mungkin perasaan Kak Edwin saja, sampai-sampai bertanya seperti itu." Jawab Aluv beralasan.


'Maafkan aku, Kak. Sebenarnya memang ada yang sedang aku pikirkan, tapi aku takut menyinggung Kakak.' Batin Aluv dengan segala kekhawatiran.


"Mungkin perasaanku saja. Ya sudah, ayo kita istirahat." Ucap Edwin mengajak istrinya untuk tidur.


Aluv terdiam dan hanya mengangguk. Karena tidak ingin obrolannya semakin panjang, segera mengganti posisinya yang membelakangi suaminya sambil memeluk bantal guling.


Edwin yang tidak bisa tidur jika tidak memeluk istrinya, terpaksa harus menyingkirkan bantal guling yang tengah dipeluk istrinya. Meski kesulitan, Edwin berhasil menyingkirkannya.


Dengan tersenyum karena perasaan bahagia, Edwin mendekatkan wajah tampannya tepat di leher jen*jang milik istrinya yang mulus itu. Sesekali ia menci*umnya dengan lembut. Tentu saja, Aluv menjadi terang*sang akibat ulah suaminya yang mulai aktif itu.


Ingin menghindari, justru dirinya masuk dalam perangkap suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2