
Ibu mertua yang mendapati menantunya tengah menangis, segera menghapuskan air matanya.
"Mama tahu, ini sangat berat untukmu. Tapi percayalah sama Mama, bahwa kamu mampu untuk melewati ini semua." Ucap ibu mertua, Aluv mengangguk sambil menghapus air matanya sebelah kiri.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mama percaya, kamu adalah perempuan yang tangguh dan kuat." Ucap ibu mertua dan memeluk menantunya.
Lagi-lagi Aluv masih seperti mimpi, masih tidak menyangka jika ibu mertuanya begutu baik dan juga perhatian.
"Terimakasih ya, Ma. Aluv akan terus berusaha untuk menjadi perempuan yang kuat, seperti yang Mama harapkan." Jawab Aluv masih berpelukan dengan ibu mertuanya.
Setelah itu, keduanya saling melepaskan pelukannya.
"Sudah malam, ayo kita turun. Sekarang sudah waktunya untuk makan malam, kamu tidak perlu takut dan malu berada di rumah ini. Karena apa? karena kamu sudah menjadi bagian keluarga Galeyandra."
Ucap ibu mertua dan mengajak menantunya untuk makan malam.
"Ya, Ma." Jawab Aluv dengan singkat karena tidak tahu harus berbasa-basi apa dengan ibu mertuanya, pikir Aluv dilema.
Kemudian, Aluv dan ibu mertuanya segera bergegas keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
Sama halnya dengan Edwin, yang juga segera keluar dari kamarnya setelah salah asisten rumah memanggilnya.
Sampainya di ruang makan, Aluv sudah duduk lebih dulu ketimbang suaminya yang baru saja masuk ke ruang makan.
"Cie ... yang pengantin baru, diam-diam aja nih." Ledek Kenaya yang tak bisa lepas untuk membuat suasana menjadi rame.
__ADS_1
Edwin hanya menatapnya tajam pada sang adik sambil menarik kursinya dan langsung duduk disebelah istrinya. Mau semarah apapun, Edwin tetap menerima Aluv sebagai istrinya.
"Kenaya, cukup. Jangan lanjutkan lelucon-mu itu, sekarang kita mau makan malam. Jika kamu mau bersenda gurau, pergi dari ruangan ini." Timpal sang ayah tanpa ampun.
Aluv yang baru mulai mengetahui keluarga suaminya, ia lebih memilih untuk diam dan tidak untuk bersuara. Aluv sadar dengan posisinya saat ini, hanya pungguk merindukan bulan.
Edwin yang tahu jika istrinya terlihat malu, ia lebih memilih untuk melayani istrinya sebagaimana selalu melayani istrinya dulu.
"Makanlah dengan cukup, dan jangan berlebihan. Ingat, jangan sampai anak yang ada didalam kandungan kamu itu kurang asupan gizi. Dan kamu tahu? Bapak mertuaku bisa-bisa menerkam-ku hanya gara-gara kamu tak patuh dan nurut denganku." Ucap Edwin yang tak lupa mengingatkan istrinya.
"Ii--i-ya." Jawab Aluv cukup singkat, dan tentunya sangat gugup.
Aluv yang tidak bisa melakukan penolakan apapun, ia sendiri hanya bisa nurut dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh suaminya sendiri.
"Nak Aluv, jangan sungkan berada di rumah ini. Kamu sudah menjadi bagian keluarga kami, tidak ada yang perlu kamu takuti. Ayo, kita nikmati makan malam bersama." Ucap Tuan Topan, agar menantunya tidak begitu merasa sungkan dan bersikap biasa-biasa saja.
"Ya, Pa. Terimakasih banyak karena karena sudah menerima Aluv menjadi bagian keluarga Papa." Jawab Aluv sedikit gugup.
"Ya Nak, kamu tidak perlu sungkan ataupun canggung di rumah ini. Sekarang kita sudah menjadi keluarga. Ya sudah kalau begitu, ayo kita nikmati makan malamnya. Nanti keburu dingin, tidak enak loh." Sambung ibu mertua, kemudian mengajak menantunya untuk makan malam.
"Ya, Ma. Terimakasih banyak, Aluv benar-benar sangat beruntung." Jawab Aluv,
Karena tidak ingin obrolannya semakin panjang, Aluv maupun mertuanya dan suami serta adik iparnya tengah menikmati makan malamnya tanpa bersuara.
Karena masih merasa canggung, Aluv tidak berani buru-buru untuk menghabiskan makanannya. Takut, dirinya akan disangka rakus dan seperti orang kelaparan.
__ADS_1
Akibat makan dengan santai, Aluv belum juga selesai menghabiskan makanannya. Sedangkan suami sudah lebih dulu selesai bersama kedua orang tuanya dan adiknya.
"Mama dan Papa, duluan ya. Nanti Edwin yang akan menemanimu." Ucap ibu mertua yang sudah selesai menikmati makan malamnya.
Kemudian, disusul oleh Kenaya yang juga sudah selesai makannya.
"Kak Aluv, aku duluan, ya. Buat Kak Edwin, selamat berduaan ...." Ucap Naya dan tidak lupa meledek kakaknya sendiri.
"Ya, sudah sana pergi. Yang ada kamu akan bikin rusuh, sana pergi." Jawab Edwin dengan sorot matanya yang tajam.
Bukannya takut, justru Kenaya tertawa kecil sambil menjulurkan lidahnya dengan kedua tangannya bermain diatas telinganya.
Edwin yang merasa geram, hanya menatapnya tajam pada adik perempuannya.
Aluv yang melihat kakak-beradik tengah bersenda gurau, dirinya pun teringat dengan keluarganya sendiri. Siapa lagi kalau bukan sosok Kemal yang tidak lain adalah kakak laki-lakinya yang selalu memberi kasih sayang untuknya.
Kini, seakan dirinya tidak bisa mendapatkan perhatian itu lagi karena seterusnya yang sudah bersuami.
"Mau makan atau mau melamun? cepat kamu habiskan makananmu, aku masih ada kesibukan lainnya selain menemani kamu makan."
Ucap Edwin yang tidak sabar menunggu, karena dirinya tidak ingin mengingat masa lalunya yang begitu banyak memberi perhatian penuh pada istrinya yang dulu dan yang ia dapat hanyalah sakit hati.
Apalagi dengan istrinya yang sekarang, membuat Edwin harus berhati-hati karena takut tergoda. Wajar saja jika Edwin akan tergoda, karena dirinya lelaki normal dan juga sudah pernah menikah. Tentunya ada rasa haus dengan sebuah sent*uhan dengan lawan jenisnya.
Aluv yang merasa takut, secepatnya untuk menghabiskan makanannya. Dirinya pun tidak ingin berlama-lama berada di ruang makan.
__ADS_1