
Perasaan dongkol, kesal, geram, dan cemburu telah menjadi satu rasa.
"Aaaaaa!"
"Alisa!" teriak Aluv ketika melihat Alisa yang sudah terjatuh didekat teras belakang rumah. Edwin dan Aluv segera menghampirinya.
"Da*sar! kucing sialan, gara-gara kau aku harus terjatuh." Umpat Alisa dengan penuh kesal, lantaran dirinya harus terjatuh begitu saja saat memperhatikan sepasang suami istri yang tengah membicarakan sesuatu.
"Kamu tidak apa-apa? kenapa kamu bisa terjatuh, Alisa?"
"Tadi itu ada kucing sialan, aku tidak sengaja menginjak ekornya." Jawab Alisa sambil mengusap lututnya yang cukup memar karena menghantam lantai.
Seketika, Alisa mendapatkan ide yang bisa membuatnya puas, pikirnya.
"Kak Edwin, aku tidak bisa berdiri. Bantuin aku dong Kak, sakit banget kakiku." Ucap Alisa sanbil mengulurkan tangannya.
Edwin segera menoleh pada istrinya, seraya meminta pendapat padanya.
"Pak Udin, sini." Panggil Edwin ketika melihat Pak Udin tengah membawa selang untuk menyiram bunga.
"Ya, Tuan." Sahut Pak dan segera mendekat pada Bosnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Pak Udin.
"Tolong bantu Alisa berdiri ya, Pak." Jawab Edwin dan langsung menoleh pada Alisa yang sedang duduk dilantai.
__ADS_1
"Maaf ya, Alisa. Aku buru-buru ada rapat di kantor, waktuku hanya sedikit. Aluv, ayo kita masuk." Ucap Edwin pada Alisa, dan sekaligus mengajak istrinya masuk ke rumah.
Tidak lupa juga, Edwin menggandeng tangan milik istrinya. Alisa yang merasa diabaikan, hanya mendengus kesal.
"Sudah sana, Bapak pergi saja, aku tidak membutuhkan bantuan dari Bapak." Ucap Alisa dan langsung berdiri begitu saja meski ada rasa nyeri pada bagian lututnya dan bergegas masuk ke rumah.
Pak Udin yang melihatnya pun, tak lupa menggelengkan kepalanya.
"Rupanya cuma alasan, pantas saja Tuan Edwin tidak mau membantunya. Sukurin tuh, memangnya enak tidak dipedulikan sama Tuan Edwin." Gumam Pak Udin dengan tawanya.
Sedangkan Edwin dan Aluv sudah duduk di ruang makan dengan posisinya yang berdekatan.
"Nay, dimana Alisa?" tanya Ibundanya.
"Itu Alisa, Ma."
Ucap Edwin sambil menunjuk pada sosok Alisa yang tengah berjalan biasa saja, hanya sedikit merasa nyeri tetapi ia tahan.
"Oh, ya. Alisa, ayo kita sarapan pagi dulu."
"Ya, Tante." Jawab Alisa sambil berjalan dan juga menahan rasa nyeri.
"Loh, kamu kenapa?" tanya Ibunda Holena sambil memperhatikan Alisa saat berjalan.
"Tidak apa-apa kok, Tante. Tadi kaki Alisa tidak sengaja menginjak ekor kucing. Karena kaget, Alisa terjatuh. Sepertinya kaki Alisa terkilir loh, Tante. Oh ya, Kak Edwin kan, pinter memijat sama urut." Jawab Alisa yang tidak pernah ada kata puas untuk terus menjadi pengganggu.
__ADS_1
"Waktuku sangat sibuk, aku tidak mempunyai waktu untuk mengurut ataupun memijat. Mendingan kamu pijat pada yang ahlinya, nanti aku akan hubungi tukang pijatnya saja." Ucap Edwin yang berusaha menghindari demi menjaga perasaan istrinya.
"Tidak usah, nanti biar aku olesin dengan balsem aja sudah cukup kok." Kata Alisa dan segera duduk.
Kemudian, dengan perasaan dongkol, buru-buru mengambil menu sarapan paginya.
Begitu juga dengan Aluv, sekarang gilirannya untuk melayani suaminya sebagaimana sang suami yang sudah pernah melayani dirinya dengan baik.
Bukannya segera makan, Edwin sibuk memperhatikan istrinya yang begitu telaten melayani dirinya sebagai sang suami.
'Apakah ini yang namanya jatuh cinta? konyol sekali aku ini, baru kemarin sudah jatuh cinta dengannya. Memang benar sih, aku merasa nyaman berada di dekatnya. Bahkan, sosok istri yang aku dambakan, semua ada pada diri Aluv. Entah kenapa, aku serasa terhipnotis dengannya.' Batin Edwin masih memperhatikan istrinya yang tengah menikmati sarapan paginya dengan roti dan juga selesai.
Tidak hanya itu saja, Aluv juga menikmati sup tulang iga kesukaannya.
Merasa diperhatikan oleh suaminya, Aluv menjadi salah tingkah akibat suaminya yang terus memperhatikan dirinya.
"Kak, kenapa belum dimakan?"
Aluv sengaja menegur suaminya dengan sekali tepukan pada bagian punggung suaminya.
"Cie ... yang sedang melamun, sampai lupa mau makan." Ledek Naya sambil menggoda.
"Rese bener kamu itu, dihabiskan dulu makananmu." Sahut Edwin dan segera menikmati sarapan paginya.
Lagi-lagi Alisa kembali cemburu, hingga dirinya sampai lupa dengan lelaki yang akan direbutkan kembali. Siapa lagi kalau bukan Nuza.
__ADS_1