
Masih berada dalam kantor, Aluv baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
Sedangkan Edwin, dirinya tengah disibukkan dengan pekerjaannya. Ditambah lagi akan ada sebuah pertemuan penting untuk bekerja sama dengan perusahaan baru, tentunya harus menimbangnya lagi sebelum jatuh terpuruk.
"Permisi, Tuan. Maaf, apakah Tuan Edwin sudah siap untuk ikut rapat? semuanya sudah menunggu." Ucap sekretaris Lee.
Saat itu pun, sekretaris Lee terkejut ketika mendapati sosok perempuan yang baru saja keluar dari kamar privat milik Bosnya. Aluv pun melempar senyum pada sekretaris Lee tanpa sepengetahuan suaminya, entah cemburunya seperti apa jika Edwin mengetahuinya.
"Tuan, perempuan itu, siapa?" tanya sekretaris Lee sambil menunjuk ke arah Aluvia.
Karena tidak ingin mengganggu, Aluv memilih untuk diam.
Edwin langsung menoleh ke belakang, sedangkan Aluv sendiri berjalan mendekati suaminya.
"Dia istri baruku, kenapa Lee?"
"Tidak kenapa-napa, Tuan. Memangnya kapan, Tuan Edwin menikah? perasaan libur kerja saja cuma sehari. Sebelumnya saya ucapkan selamat menempuh hidup baru, Tuan. Semoga pernikahan Tuan akan selalu dilimpahkan kebahagiaan, dan segera meluncur Tuan Edwin junior." Ucap Lee yang tak lupa memberi sebuah ucapan selamat untuk Bosnya.
"Ya, terimakasih ucapannya. Dan kamu, buruan menyusul." Jawab Edwin sambil membereskan berkasnya.
Sedangkan Aluv sudah berdiri di disebelah suaminya.
"Kamu boleh keluar, nanti aku akan segera menyusul." Perintah Edwin pada sekretarisnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Jawabnya dan bergegas keluar dari ruang kerja Bosnya.
Kini, tinggal Aluv dan suami yang berada di ruang kerja. Edwin yang tidak ingin membuang-buang waktunya, segera bangkit dari posisinya.
"Hari ini aku ada pertemuan penting dengan rekan kerja. Jadi, jangan keluar dulu dari ruang kerjaku sebelum aku kembali, jika kamu membutuhkan sesuatu, lebih baik hubungi nomor yang tertera di atas meja kerjaku." Ucapnya sebelum meninggalkan istrinya sendirian.
"Tapi aku takut, soalnya sendirian. Coba tadi ada Naya, aku tidak kesepian." Jawab Aluv tapa canggung setengah menggerutu.
Edwin mendekati istrinya seraya berbisik di dekat telinga suaminya.
"Kalau ada Naya, kita tidak bisa menikmatinya tadi." Bisiknya pada sang istri.
Aluv yang membayangkan sesuatu yang sudah dilewati bersama suaminya pun, dirinya bergidik ngeri.
Tapi, apalah daya, karena sebuah kesalahannya sendiri, Aluv harus menerima segala resikonya.
"Ya sudah, aku tinggal dulu. Jangan kemana-mana, secepatnya aku akan segera kembali." Ucap Edwin dan segera bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Aluv yang tidak bisa untuk melarang suaminya, ia lebih memilih untuk tidak bermain dengan egonya.
Dengan langkah kakinya yang gesit karena takut terlambat, Edwin secepatnya untuk segera menemui rapatnya.
Di dalam ruangan, suasana cukup hening. Tidak ada satupun yang berucap, benar-benar sangat hening dan seperti tidak ada penghuninya.
__ADS_1
Setelah itu, Edwin telah berada di ruangan rapat tersebut. Kemudian, duduk dengan sopan. Rapat pun segera dimulai ketika semuanya sudah siap dan tidak ada yang tertinggal, berkas maupun yang lainnya.
Cukup lama rapat berjalan dengan baik, setiap keputusan telah diterima dengan baik juga. Hingga tidak terasa, rapat pun telah selesai dengan memakan waktu yang cukup lama.
Satu persatu telah meninggalkan ruangan tersebut, dan yang terakhir sosok lelaki paruh baya yang tidak jauh usianya dengan Tuan Topan.
"Terimakasih banyak atas kerjasamanya, Tuan Daka Danuarta. Semoga kita bisa berhasil dan mewujudkan kesuksesan bersama." Ucap Edwin sambil mengulurkan tangannya seraya mengajak Beliau untuk berjabat tangan.
"Sama-sama, Tuan Edwin." Jawab Tuan Daka.
"Panggil saja nama saya Edwin, Tuan. Karena sebutan Tuan terlalu kerdil jika saya dipanggil Tuan oleh Anda." Ucap Edwin yang merasa enggan ketika orang lebih dewasa darinya memanggilnya dengan sebutan Tuan, siapapun itu.
Mau di rumah mau siapun orangnya, Edwin sebenarnya selalu melarang untuk memanggil hormat padanya. Tetapi karena tidak ada yang mau memanggil namanya saja atau sebutan lain yang lebih enakan untuk didengar, Edwin pasrah saja.
"Tidak apa-apa, itu hanya sebutan saja. Kalau boleh saya minta izin, saya akan mengajak Tuan Edwin untuk makan di restoran. Kalaupun sedang sibuk dan masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, saya tidak akan memaksa."
"Sebelumnya saya ucapkan banyak terimakasih dan sekaligus meminta maaf, sepertinya saya tidak bisa menerima ajakan dari Tuan Daka. Bukan karena tidak ada waktu, hanya saja istri saya ada kantor ini. Mungkin lain waktu saja, saya akan mendatangi restoran milik Tuan."
"Tidak apa-apa, ajak saja." Kata Tuan Daka.
"Baiklah, saya akan mengajak istri saya dulu. Tuan bisa jalan duluan, nanti saya akan menyusul." Jawab Edwin.
"Ya, silakan. Kalau begitu saya duluan, nanti saya tunggu di depan restoran." Ucap Tuan Daka.
__ADS_1
Setelah itu, keduanya segera keluar dari ruang rapat dan pergi ke tujuan masing-masing.