Penutup Noda

Penutup Noda
Mogok di jalan


__ADS_3

"Kamu serius mau balik di kediaman kakek kamu?" tanya Naya saat mendengar Alisa berpamitan untuk angkat kaki dari rumah Tuan Topan Galeyandra.


"Ya, Nay. Lagi pula untuk apa aku berada disini? sama aja nonton orang berduaan. Mendingan juga aku kembali ke rumah kakek." Jawab Alisa.


"Aku kira ada semingguan, rupanya sudah mau balik aja." Kata Naya.


"Kamu tenang aja, aku akan sering hubungi kamu. Tidak cuma itu, kita bisa ketemuan." Jawab Alisa.


"Ya deh, salam buat Omma sama Kakek Radensa." Ucap Naya menitipkan salam.


"Ya, nanti aku sampaikan salam darimu. Ya sudah kalau kamu bersiap-siap pergi ke kantor, aku juga mau bersiap-siap pulang ke rumah kakek." Jawab Alisa dan segera mengemasi barang yang sudah ia keluarkan dari dalam koper.


Begitu juga dengan Naya, dirinya segera bersiap-siap.


Setelah keduanya selesai, kemudian segera keluar dari kamar.


Edwin yang sudah siap berangkat, masih ditemani sang istri didepan rumah.


"Ingat, jangan banyak aktivitas di rumah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, bila kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa minta tolong sama Bi Inah atau asisten yang lainnya." Ucap Edwin berpesan sebelum berangkat ke kantor.


"Ya, Kak Edwin tenang saja." Jawab Aluv.


Tidak lama kemudian, Naya dan Alisa keluar dari rumah setelah berpamitan dengan Tuan Topan dan istrinya.


Lagi-lagi Alisa kembali melihat Aluv dan Edwin tengah menunggu di depan rumah.


"Edwin," panggil Tuan Topan.


"Ya, Pa." Jawab Edwin.


"Papa minta tolong sama kamu, antarkan Alisa ke rumah kakeknya." Ucap sang ayah berpesan.


"Aku ada rapat lagi ini, Pa. Waktuku tidak banyak, minta tolong sama supir Papa saja." Jawab Edwin berusaha menolak.


"Ya sudah, cepetan kalian berdua berangkat." Ucap Tuan Topan sekaligus mengusir putranya agar segera pergi ke kantor.


"Ya, Pa." Jawab Edwin.


Sebelum berangkat, Edwin mencium kening milik istrinya. Tak peduli baginya jika harus dilihat oleh kedua orang tuanya dan juga adiknya sendiri maupun Alisa.


Malu, itu hanya ada pada Aluv. Dirinya tidak pernah menyangka, secepat itu suaminya berubah. Entah disengaja karena Alisa, atau memang benar kemauannya.


Alisa yang melihatnya pun, dia mulai membuang rasa cemburunya yang hanya membuat hatinya terasa sakit dan kecewa.

__ADS_1


"Alisa, aku berangkat dulu, ya." Ucap Naya berpamitan pada Alisa dan tak lupa keduanya berpelukan.


Tidak ingin datang terlambat, Naya dan Edwin segera berangkat ke kantor.


Kini, tinggallah Alisa yang belum berangkat ke rumah sang kakek. Saat itu juga, mobil yang akan mengantarkannya pulang, kini sudah ada didepan Alisa.


"Alisa, hati-hati diperjalanan. Salam buat Kakek Radensa ya, Nak." Ucap Tuan Topan, Alisa mengangguk.


"Ya, Paman. Kalau begitu Alisa pamit pulang ya, Tante, Paman."


"Ya, hati-hati di perjalanan." Ucap Ibunda Holena.


Setelah berpamitan dengan pemilik rumah, pandangan Alisa menoleh pada Aluv yang tengah berdiri didekat ibu mertuanya.


"Aluv, aku pulang, ya. Maaf sebelumnya, jika aku ada salah sama kamu. Oh ya, aku ucapkan selamat atas pernikahan kamu dan semoga kamu dan Kak Edwin bahagia." Ucap Alisa berpamitan sekaligus memberi ucapan selamat untuk teman yang pernah dijadikan pesaingnya.


"Terimakasih, semoga kamu segera menyusul. Hati-hati juga di perjalanan, semoga selamat sampai tujuan." Jawab Aluv, kemudian keduanya berpelukan.


Usai berpamitan, Alisa bergegas naik ke mobil. Lambaian tangan, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Alisa ketika sudah berada didalam mobil.


Aluv sendiri maupun kedua mertuanya sama halnya melakukan lambaian tangan pada Alisa yang mulai tak terlihat bayangan mobil yang ditumpangi.


Satu per satu telah pergi dari rumah, kini tinggallah Tuan Topan bersama sang istri dan Aluv menantunya. Karena harus bersiap-siap untuk berangkat ke Luar Negri, Tuan Topan bergegas untuk memeriksa kembali sesuatu yang akan dibawanya.


"Ya, Ma." Jawab Aluv.


"Hari ini kamu sedang tidak sibuk, 'kan?" tanya ibu mertua.


"Tidak, Ma. Aluv tidak ada kesibukan apapan di rumah." Jawab Aluv.


"Kalau kamu mau, Mama mau mengajak kamu keluar untuk mengantarkan Papa ke Bandara. Tidak hanya ke Bandara saja, tentunya untuk jalan-jalan agar kamu tidak suntuk di rumah terus."


"Tapi, kalau Kak Edwin melarangnya, bagaimana, Ma?"


"Kamu tenang saja, nanti Mama yang mau meminta izin sama suami kamu." Ucap ibu mertua meyakinkan menantunya.


"Aluv nurut saja sama Mama." Jawab Aluv.


"Ya sudah kalau gitu, lebih baik sekarang kamu bersiap-siap. Mama juga mau bersiap-siap." Ucap ibu mertua, Aluv mengiyakan dan bergegas masuk ke kamarnya untuk menuruti ajakan dari ibu mertuanya.


Berbeda dengan Naya dan Edwin, keduanya masih dalam perjalanan.


"Kak, kok berhenti?" tanya Naya saat tiba-tiba mobilnya berhenti begitu saja.

__ADS_1


"Kurang tahu Kakak, coba Kakak mau turun sebentar. Sepertinya bannya bocor, semoga saja tidak." Jawab Edwin dan bergegas turun dari mobil untuk mengecek kondisi mobil yang dikendarainya.


"Sial! pakai ban bocor segala, lagi. Aaaaaaa!" umpat Edwin dan menendang ban mobilnya yang bocor itu dan mengacak rambutnya yang sudah rapi.


"Turun, ban mobilnya bocor." Ucapnya sambil mengetuk kaca jendela mobil.


Naya yang mengerti maksudnya, segera ia turun dari mobil.


"Kenapa lagi, Kak?" tanya Naya sambil memperhatikan ban mobilnya.


"Itu, bocor."


"Terus ..."


"Cepat kamu hubungi taksi atau ojek juga tidak apa-apa." Perintah Edwin pada adiknya.


"Kenapa gak telpon supir di rumah saja?"


"Kelamaan, sudah cepetan kamu hubungi taksi atau ojek kek, apa kek, yang penting kita segera sampai di kantor."


"Ya Kak, ya." Jawab Naya dan segera merogoh ponselnya di dalam tas bawaan.


Sudah berkali-kali mencoba untuk menghubungi nomor taksi maupun ojek online, tetap aja kesusahan sinyal pada ponselnya.


"Tetap sial kitanya ini, Kak. Lihatlah, tidak ada sinyal yang tersisa di ponselku. Bagaimana ini, Kak?"


"Terpaksa kita harus jalan kaki sambil mencari ojek." Ucap Edwin yang tidak mempunyai pilihan lain selain harus berjalan kaki.


"Apa? kita harus jalan kaki? tidak, aku tidak mau. Nanti kalau kaki aku keram, bagaimana? bisa-bisa aku tepar."


"Hem, manja. Sudahlah, ayo kita jalan kaki. Kakak mau ambil tas Kakak dulu." Ucap Edwin yang akhirnya harus berjalan kaki.


"Semoga saja nanti akan ada pangeran yang akan menyelamatkan aku, biar Kak Edwin jalan kaki sendiri." Gumam Naya, tanpa disadari tengah didengarkan oleh sang kakak.


"Aw! sakit, Kak ..."


"Makanya, kalau berdoa itu ya jangan do'ain diri sendiri." Kata Edwin setelah menjewer telinga adik perempuannya.


"Ya deh, ya."


"Hem."


Ketika sudah siap untuk berjalan kaki, terasa berat bagi Naya harus berjalan.

__ADS_1


Sedang dalam perjalanan dengan kecepatan sedang, ada seseorang yang mengenali sosok Edwin saat berdiri didekat mobilnya, segera menepikan mobilnya.


__ADS_2