
Tidak ingin ada kesalahpahaman saat acara di mulai, Sebelumnya Edwin segera menghubungi ayah mertuanya untuk diminta datang ke rumah.
Usai permintaannya di terima oleh ayah mertua, Edwin juga tidak lupa untuk membicarakan pada kedua orang tuanya.
"Sayang," panggil Edwin sambil mendekat.
"Ya, Kak." Sahut Aluv yang tengah duduk di depan cermin yang hendak melepas ikat rambutnya.
"Aku mau menemui Papa sebentar, nanti aku kembali lagi." Ucap Edwin, Aluv pun mengangguk sambil menyisir rambutnya.
Ketika sudah berada di ruang keluarga, rupanya sang ayah tengah duduk bersantai dengan ibunya. Edwin ikut duduk diantara kedua orang tuanya.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibunda Holena yang dapat menangkap gerak geriknya sang anak.
"Begini, Ma, Pa, ada sesuatu yang ingin Edwin bicarakan sama Papa dan Mama mengenai bayi yang dilahirkan istriku." Jawab Edwin menjelaskannya.
"Mengenai bayi? memangnya kenapa?" tanya sang ayah ikut menimpali.
Edwin sendiri tengah mengatur pernapasannya.
Berharap, apa yang akan disampaikannya dapat diterima baik oleh kedua orang tuanya.
Karena terasa sulit untuk menjelaskan, Edwin akhirnya memilih membuka layar ponselnya untuk menunjukkan video yang juga sudah ditunjukkan kepada istrinya sendiri.
Tuan Topan dan istrinya yang tengah penasaran, sedari tadi fokus untuk mendengarkan rekaman video yang ditunjukkan oleh putranya yang dijadikan tempat penyelesaian masalah.
__ADS_1
Detik berganti menit, durasi semakin panjang, Tuan Topan maupun Bunda Holena mulai mengerti mengenai penjelasan dari video tersebut.
"Terus, bagaimana dengan kedua orang tua Aluv? mertua kamu sendiri. Kalau mereka tidak teeima, bagaimana? apa yang akan kamu lakukan, Win?"
"Aku akan berbicara secara baik-baik, jika tidak bisa, tetap harus menerima keputusan dariku. Jika namanya tidak boleh dipakai, aku tidak akan memberinya nama dari keluarga Praja maupun Galeyandra." Jawab Edwin dengan tegas, sesuai keputusan darinya.
Meski itu sangat menyedihkan, Tuan Topan dan istrinya tidak bisa menentukan pilihan dengan semaunya sendiri.
"Apakah kamu sudah menghubungi kedua orang tua Aluv?"
"Sudah, Pa. Katanya, nanti malam akan datang." Jawab Edwin.
"Mama jadi takut, jika Tuan Gentaram murka." Ucap Bunda Holena khawatir dengan yang dilakukan oleh putranya.
"Mama tenang saja, pilihan dan keputusan ada pada Aluv. Jadi, Mama tidak perlu khawatir." Kata Edwin mencoba meyakinkan ibunya.
Takut, jika putranya mendapatkan kesialan dari ayah mertuanya.
"Do'ain saja, Ma. Semoga tidak ada masalah apapun diantara keluarga Gentaram dan keluarga Galeyandra." Jawab Edwin yang tak henti-hentinya untuk meyakinkan sang ibu.
"Ya, Nak. Oh ya, udah waktunya untuk makan malam. Lebih baik kita makan dulu, setelah itu kita tunggu mertua kamu datang." Ucap Bunda Holena sekaligus mengajak putranya makan malam.
"Ya, Ma. Tolong sampaikan sama Bi Inah untuk mengantarkan makan malam-ku ke kamar. Malam ini aku ingin makan malam bersama istriku, tidak apa-apa kan, Ma?"
"Ya, tidak apa-apa. Memang seharusnya begitu, temani istri jauh lebih baik." Kata Bunda Holena.
__ADS_1
Kemudian, Edwin segera kembali ke kamarnya. Dan dilihatnya sang istri tengah disibukkan dengan bayinya yang ternyata sudah bangun dari tidur pulasnya.
"Sudah waktunya makan malam, biar aku panggilkan baby sitter. Kamu bersiap-siaplah untuk makan malam bersamaku."
"Makan malam bersama Kakak?"
"Ya, tapi tidak di restoran maupun di ruang makan."
"Terus, makan dimana?" tanya Aluv yang juga belum mengerti, dikarenakan pikirannya masih fokus pada bayinya.
"Di kamar ini, sayang. Memangnya mau makan malam dimana, sayang? nanti kalau sudah besar, kita ajak keluar untuk jalan-jalan dan makan di luar. Untuk saat ini, kita libur dulu makan di luarnya."
"Ah ya, aku sampai lupa. Sekarang aku sudah punya bayi. Baiklah, aku akan menunggunya sampai waktunya bisa diajak keluar." Kata Aluv yang baru menyadarinya.
"Ya sudah, aku panggilkan baby sitter dulu." Ucap Edwin dan dibalas dengan anggukan oleh istrinya.
Tidak lama kemudian, Bi Inah dan baby sitter masuk ke kamar dengan tugasnya masing-masing.
Bi Inah yang tengah melayani kedua majikannya, sedangkan Mbak Mala selaku baby sitter, tengah menemani si bayi.
"Mbak Mala, aku makan duluan ya, aku titip bayiku sebentar." Ucap Aluv sebelum memulai makan makamnya bersama sang suami.
"Ya, Nona. Silakan menikmati makan malamnya." Jawab Mbak Mala.
Edwin mengangguk dan tersenyum, kemudian mendekat dan mendaratkan ciu*man hangat pada bi*bir ranum milik istrinya.
__ADS_1
Sudah beberapa hari, Edwin hanya bisa menc*ium istrinya. Meski terasa hampa, Edwin berusaha untuk bersabar menunggu.