Penutup Noda

Penutup Noda
Sudah datang


__ADS_3

Selesai menikmati makan malamnya bersama suami, rupanya si bayi tengah tidur pulas berada dalam gendongan Mbak Mala. Aluv merasa tenang ketika putranya tidak rewel maupun menangis.


"Kamu boleh tidurkan putraku. Setelah itu, kamu boleh keluar dari kamar ini. Sebelumnya, terimakasih banyak sudah mau menjaga putraku saat aku sedang menemani suamiku makan malam." Ucap Aluv sebaik mungkin, Mbak Mala mengangguk dan tersenyum ramah.


"Sudah menjadi tugas saya, Nona. Kalau begitu, saya permisi untuk pamit keluar." Jawab Mbak Mala setengah membusungkan badannya, Aluv mengangguk pelan, seraya mengiyakan.


Kini, tinggallah Aluv dan suami yang baru saja menikmati makan malam bersama. Kemudian, Edwin memanggil Bi Inah segera datang ke kamar untuk membereskan bekas makan malam yang kotor.


Bi Inah yang merasa dipanggil namanya oleh Bosnya, secepetnya untuk segera bertemu.


"Permisi, Nona dan Tuan. Maaf, jika saya tengah mengganggu waktunya." Ucap Bi Ini sebisanya untuk tetap bersikap sopan.


"Ya, Bi. Mari, silakan masuk." Jawab Aluv merasa tidak enak hati.


Karena tidak ingin melihat Bi Inah mengerjakan semuanya, Aluv ikut membantu membereskan mejanya.


"Aduh, Non. Biar Saya saja yang mengerjakan pekerjaan ini, karena sudah menjadi tanggung jawab saya, Nona." Ucap Bi Inah sambil mencegah sosok Aluv yang tetap memaksa untuk membantu membereskan mejanya.


"Sayang, biar Bi Inah yang membereskannya. Kamu baru melahirkan, dokter melarang-mu untuk melakukan pekerjaan yang berat-berat." Timpal Edwin ikut melarang istrinya.


"Tapi ini bukan pekerjaan berat dan juga kasar, Ka?"

__ADS_1


"Kamu bandel, ya. Sebentar lagi Papa dan Mama akan datang ke rumah, jadi lebih baik kamu siap-siap untuk menyambut mereka." Kata Edwin yang tetap melarang istrinya melakukan pekerjaan apapun.


"Jadi, Papa dan Mama beneran akan datang ke sini?" tanya Aluv untuk memastikan.


Edwin mengangguk. "Ya, sayang. Jadi, bersiap-siap lah untuk menyambut mereka." Jawab Edwin.


Akhirnya Aluv ikut tersenyum senang, lantaran kedua orang tuanya akan datang ke rumah, pikirnya. Meski ia tahu, apa maksudnya untuk datang ke rumah. Aluv tidak begitu memikirkannya, entah apa yang akan menjadi keputusan.


"Ya sudah, kalau begitu aku keluar dulu. Nanti kalau Mama dan Papa sudah datang, aku akan memberitahu kamu. Jadi, lebih baik kamu temani si bayi, dan kamu bisa bersantai, ok." Ucap Edwin dan bergegas keluar dari kamar.


"Ya, Kak." Jawab Aluv dengan anggukan.


"Jangan panggil aku Kakak lagi, karena aku ini suami kamu, sayang."


Edwin tertawa kecil ketika mendengar istrinya seperti canggung untuk memanggilnya dengan sebutan yang tidak pernah ia sebutkan.


"Terus belajar untuk membuatku senang, ok."


"Aku akan mulai membiasakannya." Jawab Aluv sedikit malu saat mengucapkannya.


"Aku tinggal dulu." Ucap Edwin dan kembali menc*iumnya lagi, Aluv hanya bisa tersenyum saat suaminya telah bersikap mesra dengannya.

__ADS_1


"Jangan turun kalau aku tidak menyuruhmu untuk turun ke bawah, kamu mengerti?"


Aluv mengangguk, Edwin keluar dari kamar.


"Meski jarak kita berdua cukup jauh, Kak Edwin benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik dan penuh perhatian. Semoga selamanya akan terus seperti ini." Gumam Aluv dan mendekati bayinya yang tengah tidur dengan pulas.


Ketika sudah berada di ruang tamu, saat itu juga Edwin sudah mendapati ayah dan ibu mertuanya yang baru saja masuk ke rumah. Ia langsung menghampirinya.


"Selamat malam, Pa, Ma." Sapa Edwin seramah mungkin dan tak lupa mencium punggung tangan ayah dan ibu mertuanya, meski keduanya pernah seperti tommy dan jerry saat pertama kali bertemu dan yang pertemuan yang kedua disaat pernikahannya sendiri.


"Ada perlu apa kamu meminta Papa untuk datang ke rumah? Aluv dan bayinya baik-baik saja, 'kan?" tanya Tuan Gentaram karena rasa penawarannya.


"Aluv dan bayinya baik-baik saja, Pa. Edwin meminta Papa dan Mama untuk datang ke rumah, ada sesuatu yang dibicarakan baik-baik." Jawab Edwin yang belum berani mengatakannya langsung, baginya tidak sopan.


"Tidak untuk perceraian, 'kan?"


Lagi-lagi Tuan Gentaram bertanya kembali, lantaran merasa aneh saja, karena putrinya yang sudah melahirkan. Jadi, tentu saja pikiran Tuan Gentaram mengarah sesuai kebanyakan yang terjadi, pikirnya.


Edwin tersenyum menanggapi pertanyaan dari ayah mertuanya.


"Edwin tidak akan pernah ada pikiran untuk menceraikan Aluv, Pa. Mari Pa, Ma, silakan ikut Edwin ke ruang keluarga. Kita akan membicarakannya bersama." Jawab Edwin menjelaskan.

__ADS_1


Tuan Gentaram yang juga sudah tidak sabar untuk mengetahui apa yang dibicarakan bersama menantunya, Beliau dan istrinya menuruti permintaan menantunya.


__ADS_2