Penutup Noda

Penutup Noda
Penasaran


__ADS_3

Di kediaman keluarga Galeyandra, semua tengah disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Aluv yang sedari tadi pagi sudah bangun dari tidurnya, ia tengah berada di dapur untuk membuat sarapan pagi dibantu oleh Bi Inah.


"Non, sebaiknya Nona tidak perlu berada di dapur. Biar Bibi dan pelayan lainnya yang akan menyiapkan sarapan pagi, Non. Bibi tidak ingin Nona Aluv kenapa-kenapa. Meski sudah mendapatkan izin dari Tuan Edwin, tetap saja takut." Ucap Bi Inah yang dipenuhi perasaan takut jika terjadi sesuatu pada Aluv.


"Tidak apa-apa kok, Bi. Lagian cuman membuat sarapan pagi, Bibi tenang saja." Jawab Aluv dengan kalimat yang sudah pernah diucapkan pagi kemarin.


"Ya sudah deh, Bibi nurut saja sama Nona Aluv."


"Nah, gitu dong, Bi. Oh ya Bi, saya boleh bertanya sesuatu, 'kan?"


Aluv yang penasaran, ia memberanikan diri untuk bertanya meski sambil membuat sarapan pagi.


Bi Inah langsung menoleh pada Aluv, tentunya juga sama halnya menyimpan rasa penasaran dengan istri Bosnya.


"Memangnya Nona Aluv mau bertanya apa?"


"Kalau boleh tahu, hubungan Alisa di rumah ini, apa ya, Bi?"


Akhirnya, rasa penasarannya telah di ungkapkan-nya.


Bi Inah tersenyum mendengar pertanyaan dari Aluv.


"Nona Alisa itu sebenarnya ..." tiba-tiba Bi Inah merasa keberatan untuk menjawabnya.


"Kok berhenti, kenapa Bi? Alisa sebenarnya siapanya, Bi?"

__ADS_1


"Em ... Nona Alisa sebenarnya dulu itu mau dijodohkan dengan Tuan Edwin. Tapi ... Nona Alisa menolak karena statusnya yang sudah duda." Jawab Bi Ina dan langsung menutup mulutnya.


"Oh, begitu ya, Bi." Kata Aluv yang tiba-tiba merasa tidak enak hati.


"Ya, Non. Maafkan Bibi, bukan maksudnya Bibi untuk menambah beban pikiran untuk Nona. Tapi, Bibi rasa, Tuan Edwin tidak akan mengabaikan Nona. Saya dapat melihatnya dari sikap Tuan Edwin begitu perhatian pada Nona Aluv." Ucap Bi Inah dengan perasaan takut, jika terjadi sesuatu pada Aluv.


"Tidak apa-apa kok, Bi. Kalau begitu, saya mau melanjutkan menyiapkan sarapan pagi." Kata Aluv dan melanjutkan aktivitasnya.


Saat itu juga, Bi Inah dikejutkan dengan sosok yang sudah berdiri diambang pintu dengan memberikan sebuah kode untuknya.


Tidak bisa menolak, itu sudah pasti. Dengan mundur beberapa langkah, Bi Inah akhirnya dapat menjauh dari istri Bosnya.


"Bi, tolong ambilkan mangkoknya." Pinta Aluv sambil menengadahkan tangannya untuk meminta diambilkan sebuah mangkok.


Sedangkan pandangannya masih tertuju pada masakannya itu.


Seketika, Aluv terkejut dibuatnya dan langsung menoleh ke samping.


"Kak Edwin, Bibi Mana?"


Dengan gugup, Aluv mencari keberadaan Bi Inah.


Edwin mengernyit ketika istrinya mencari keberadaan Bi Inah.


"Rupanya suami kamu ini tidak dianggap keberadaannya." Ucap Edwin dengan posisi kedua tangannya berada di saku celananya.

__ADS_1


"Bukan begitu, ini masalahnya aku lagi masak." Jawab Aluv dengan gugup.


"Makanya, kamu tidak perlu menyiapkan sarapan pagi. Karena apa? karena aku ingin kamu itu fokus dengan suami kamu, bukan dengan masakan ini. Aku mengizinkan kamu untuk sibuk di dapur, tapi bukan berarti untuk melakukannya setiap hari. Biarkan Bi Inah yang akan menyiapkan semuanya, karena ini tugasnya." Ucap Edwin dan langsung meraih tangannya untuk meninggalkan ruang dapur.


"Bi Inah, lanjutkan pekerjaan Bibi." Ucap Edwin pada Bi Inah saat keluar dari dapur.


"Baik, Tuan." Jawab Bi Inah disertai dengan anggukan.


Aluv sendiri merasa bersalah pada Bi Inah lantaran sudah memaksakan diri untuk tetap menyiapkan sarapan pagi.


"Cie ... bau-bau roman nih." Ledek Kenaya saat mendapati sang kakak tengah menggandeng tangan kakak iparnya.


"Sok tau, kamu ini. Anak kecil minggir, mendingan kamu itu fokus dengan karirmu." Ucap Edwin sembari memberi nasehat kecil untuk adik perempuannya.


Berbeda dengan Alisa, meski mencoba untuk tidak menyimpan rasa cemburu, tetap saja hatinya terasa panas ketika melihat Aluv dan Edwin tengah bergandengan tangan.


Alisa sendiri tidak bisa membayangkan jika Aluv tengah dici*um mesra di depannya, bisa lebih panas ketika merasa cemburu karena selalu bersaing dengan orang sama.


Aluv yang tahu mau diajak kemana-nya, ia sengaja berhenti.


"Kak Edwin mau mengajakku kemana?" tanya Aluv ingin tahu.


"Ke taman belakang, aku ingin mengajakmu mengitari taman yang cukup dijadikan olahraga kecil untuk perempuan hamil sepertimu." Jawab Edwin dan diakhiri dengan anggukan, seraya mengajaknya untuk pergi ke belakang.


Tanpa menjawab, Aluv mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Alisa yang selalu ingin tahu, akhirnya dirinya mengikuti dari belakang. Tentu saja, ingin tahu apa yang dilakukan oleh keduanya.


__ADS_2