
Tidak memakan waktu lama, Aluv dan suami telah sampai di depan Restoran. Takut, itu yang sedang menguasai pikiran Aluv saat ini. Ingin menolak dan mengajak suaminya pulang pun, itu tidak akan mungkin bisa.
Mau tidak mau, Aluv ikut keluar dari mobil. Edwin yang tidak ingin istrinya terabaikan, segera menggandeng tangannya layaknya suami-istri yang saling mencintai.
"Ayo, kita masuk ke dalam." Ajaknya, Aluv hanya mengangguk.
Saat berada di pintu masuk, rupanya Tuan Daka sudah menunggunya.
"Selamat datang Tuan Edwin dan juga Nyonya Edwin, mari silakan masuk di restoran kami." Ucap Tuan Daka menyambut kedatangan Edwin dengan ramah.
Tuan Daka langsung terkejut ketika melihat sosok perempuan yang sangat dikenalinya, siapa lagi kalau bukan Aluv.
"Nak Aluv, 'kan?"
Seperti tidak percaya, Tuan Daka mencoba memastikan sosok perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Ya, Paman. Saya Aluv, putri dari keluarga Gentaram Praja." Jawab Aluv dengan gugup.
"Apakah kamu istrinya Tuan Edwin?"
__ADS_1
Tuan Daka yang penasaran, akhirnya kembali bertanya dan mencoba untuk memastikan.
"Beb-benar, Paman." Jawab Aluv masih gugup.
"Oh, selamat atas pernikahan mu dengan Tuan Edwin. Paman doakan, semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu." Ucap Tuan Daka dan tak lupa memberi ucapan selamat untuk Aluv.
Edwin yang merasa aneh dan mencurigai istrinya pun, ingin rasa-rasanya menginterogasi dan segera mengetahui kebenarannya.
Tapi, karena berhubung ditempat umum dan ada janji untuk makan bersama, Edwin memilih untuk bersabar hingga waktunya pulang.
"Tuan Edwin, saya minta untuk tidak berprasangka buruk dengan Nak Aluv, karena saya dan Tuan Gentaram adalah berteman." Ucap Tuan Daka mencairkan suasana agar tidak menjadi tegang.
"Oh, kirain saya ada sesuatu yang lainnya. Maaf, jika saya sudah salah menduga." Jawab Edwin beralasan.
Tetap saja, Edwin semakin penasaran dan tentunya ada rasa ingin tahu.
"Ah sudahlah, lebih baik kita duduk saja dulu. Setelah itu, kita akan makan bersama. Daripada membuang-buang waktu yang tidak penting, lebih baik kita mengobrol yang lainnya." Ucap Tuan Daka untuk mengalihkan persoalan mengenai kecurigaan Edwin pada istrinya.
"Ya, Tuan." Jawab Edwin disertai dengan anggukan. Kemudian, Tuan Daka menunjukkan tempat yang akan dijadikan tempat duduk yang nyaman untuk menikmati makanan serta mengobrol.
__ADS_1
Ketika sudah berada di dalam ruangan khusus, Aluv masih terasa gusar. Takut, akan bertemu dengan seseorang.
Tuan Daka yang tidak ingin ada perseteruan antara Aluv dan Edwin, Beliau memilih untuk membahas hal lainnya. Apalagi kalau bukan mengenai kerja samanya.
Begitu juga dengan Aluv sendiri, dirinya lebih memilih untuk diam dan tetap tenang. Meski keadaan yang sebenarnya sangat penat.
Masalah satu sudah dapat diatasi, kini harus kembali dengan masa lalunya. Aluv benar-benar tidak tahu harus berbuat apa serta harus bagaimananya.
"Kak Edwin, aku mau ke toilet sebentar, tidak apa-apa, 'kan? bentar saja kok." Ucap Aluv memberanikan diri untuk meminta izin dengan suaminya.
"Ya, jangan lama-lama." Jawabnya disertai anggukan.
Karena ingin menghindar dari kegusaran, Aliv memilih untuk pergi ke toilet. Berharap, dirinya bisa memenangkan pikirannya agar tidak begitu gelisah.
Pelan-pelan sambil celingukan, Aluv berjaga-jaga agar dirinya tidak dipertemukan dengan seseorang.
"Aluv."
Seketika, kedua bola matanya membulat dengan sempurna saat sepasang matanya saling bertemu.
__ADS_1