
Keduanya terhanyut dalam sunyi-nya malam, ditambah lagi dengan cuaca diluaran sana mulai terdengar suara rintikan hujan semakin deras dan juga dibarengi dengan suara petir yang menggelegar.
Edwin yang tidak dapat lagi untuk menahan sesuatu, ingin rasanya segera menikmati malam pertamanya yang sudah sekian lama dinanti-nantikan-nya.
Begitu juga dengan Aluv, dirinya sendiri tak dapat memungkiri atas keinginannya yang juga sama dengan suaminya.
Edwin yang tidak sabar karena beberapa bulan lamanya menunggu, dirinya harus bersabar dan tidak untuk menuruti egonya hingga bayi yang dikandung istrinya lahir. Tidak cukup sampai disitu saja, dirinya masih diminta untuk kembali bersabar hingga lewat masa nifasnya. Itupun, masih di minta untuk bersabar dengan hadirnya seorang anak dari sang istri.
Aluv sendiri mengakui, jika dirinya pun menginginkan perlakuan lebih dari suaminya. Tak cukup hanya sekedar ciu*man, Edwin mulai tergoda yang lebih mendetil.
Rasa ketidaksabaran dari seorang Edwin, dengan lihainya, satu helai benang saja tak menempel pada tubuh keduanya. Hanya balutan satu selimut yang menjadi penutup.
Edwin terus mencu*mbu mesra istrinya, hingga Aluv semakin terbuai dengan perlakuan suaminya yang membuatnya melanglang buana.
__ADS_1
Semakin lama, semakin menggebu dan lama-lama semakin liar dan menuntutnya lebih dari sekedar duet rasa solo. Kini, Edwin semakin menjadi-jadi hingga lolosnya pertahanan yang sekian lama ditunggu.
Meski tak ada lagi mahkota milik istrinya, Edwin tetap menerimanya tanpa harus menuntutnya yang sempurna.
Tubuh yang dipenuhi keringat karena ritualnya, sedikitpun tak membuatnya gerah. Semua sudah tercampur dengan kelegaan yang selama ini sudah ditahan.
Edwin mengeratkan pelukannya, dan menc*ium daun telinga istrinya hingga membuatnya terasa geli.
"Terimakasih, sayang. Akhirnya aku dapat memilikimu sepenuhnya." Ucap Edwin dengan lirih didekat indra pendengaran istrinya.
"Tapi aku sudah mengecewakan Kak Edwin, aku tak sempurna dan tak dapat memberi mahkotaku dengan sempurna." Jawab Aluv masih dengan posisinya yang tak menatap wajah sang suami.
Edwin memeluknya kembali, dan juga menc*ium ujung kepalanya.
__ADS_1
"Aku tak butuh yang sempurna, yang aku inginkan hanya seorang istri yang mau nurut denganku serta setia untuk selamanya tanpa pengkhianatan. Apa untungnya aku mendapatkan mahkota yang sempurna, tetapi pada akhirnya mahkota itu membusuk dengan penghianatan." Ucap Edwin yang masih memeluk istrinya.
Aluv segera mendongak dan menatap wajah suaminya dengan lekat.
"Aku percaya sama kamu, meski kamu istri pilihan dari orang tuaku. Tetaplah bersamaku, selagi aku tidak menjadi penghianat untukmu." Ucapnya lagi sambil menatap istrinya dengan fokus.
Aluv tersenyum bahagia saat mendapatkan pengakuan dari suaminya sendiri. Meski bukan kata cinta, tetapi ucapan yang di utarakan-nya melebihi kata cinta.
Tanpa malu-malu dan juga canggung, Aluv langsung menc*ium suaminya dengan perasaan penuh bunga-bunga cinta.
Saat itu juga, Aluv maupun Edwin tengah dikagetkan dengan suara tangisan bayi yang cukup membuyarkan keseriusan keduanya yang tengah berbicara.
Dengan sigap, Aluv langsung menarik selimutnya karena kondisi tubuhnya yang polos itu. Sedangkan Edwin sendiri segera menyambar pakaiannya.
__ADS_1
Cukup melengking suara tangisan bayi Radien, Aluv mencoba untuk menenangkannya dan memberinya ASI. Tetapi sebelumnya telah dicuci dengan air hangat, mau bagaimanapun kebersihan tetap dijaga.
'Bayi pengertian, bangun dengan waktu yang tepat.' Batin Edwin merasa lega.