
Saat kancing baju milik Aluv terlepas semua, Edwin langsung beralih menggendong istrinya sampai ke ruang istirahat privatnya.
Sampainya didalam ruangan khusus, Edwin terus melakukan aksinya yang tidak hanya melepaskan kancing baju milik istrinya. Bahkan lebih dari itu, Edwin tidak akan pernah berhenti dengan kepuasannya yang sudah menjalar di otak kotornya.
Dengan malu, Aluv segera meraih selimut tebalnya untuk menutupi tubuh polosnya yang tengah dinikmati suaminya. Takut, itu sudah pasti.
"Kak, aku sedang hamil." Ucap Aluv dengan berani untuk mengingatkan suaminya. Bukan tidak mau melayani sang suami, hanya saja dirinya tidak ingin melakukan sesuatu yang salah kedua kalinya.
"Aku tidak akan melakukan hal itu, setidaknya saat ini kamu dapat memua*skan aku." Jawabnya berbisik didekat telinga istrinya, Aluv hanya mengangguk dan mengerti apa yang harus dilakukannya.
Tanpa rasa canggung dan juga malu, Edwin berterus terang apa yang diinginkannya itu. Begitu juga dengan Aluv sendiri, dirinya tidak dapat menolaknya lantaran dengan suaminya sendiri.
Dengan pasrah, Aluv melayani suaminya seperti yang diinginkannya. Tidak hanya sebuah ciu*man yang mendarat ke bibir istrinya, dengan rakus, Edwin melanjutkannya ke lebih mendalam lagi untuk menumpahkan segala has*ratnya yang sudah terpendam begitu lamanya.
Tidak hanya sampai di tengkuk lehernya saja saat memberi tanda kepemilikan, Edwin semakin menggila saat melihat semua yang ada pada istrinya. Otak kotornya semakin cepat bekerja, hingga sesuatu yang tertahan ingin rasanya ditumpahkan pada sang istri.
Edwin yang sudah sekian lama tidak mendapatkan sent*uhan dari seorang perempuan yang berstatus istri, akhirnya pertahannya pun lepas begitu saja.
__ADS_1
Setelah pertahanannya lepas karena ulah istrinya yang sudah memuaskan ha*srat sang suami, Edwin tersenyum lega tanpa sepengetahuan istrinya.
"Aku akan bersabar menunggumu sampai anak ini lahir." Ucapnya lirih didekat telinganya dan sambil memegangi perut yang mulai terlihat buncit.
Aluv hanya bisa mengangguk ketika mendengar ucapan dari suaminya yang tidak begitu keras suaranya, tetapi masih dapat untuk didengar.
"Istirahat saja dulu, aku yang akan mandi duluan. Karena hari ini aku ada rapat, kamu tetap berada di ruangan-ku." Ucap Edwin yang tidak lupa untuk memberi pesan istrinya.
"Bajuku basah, aku harus bagaimana?"
"Jangan khawatir, aku akan memesankan baju untuk kamu." Jawab Edwin dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Aluv sendiri memilih untuk beristirahat, dikarenakan tidak ada baju yang bisa dipakai. Tidak mungkin juga jika dirinya mengenakan baju suaminya, yang jelas akan terlihat aneh, pikirnya.
Sedangkan diluaran sana, Naya yang belum ingin pulang ke rumah, dirinya memilih untuk pergi ke restoran. Tidak peduli baginya jika harus sendirian, yang terpenting bisa membuat sang kakak dapat menikmati waktunya bersama sang istrinya pun, sudah merasa senang.
"Padahal masih jam segini, tumben sudah rame." Gumam Naya sambil berjalan mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman untuk sendirian.
__ADS_1
"Sepertinya di sana tempatnya cukup nyaman, duduk sana aja ah ...." Gumamnya sambil berjalan menuju tempat duduk yang sudah diincarnya.
Sampainya di tempat duduk yang sudah menjadi pilihannya, Naya segera duduk tanpa ada teman satupun.
"Permisi, Nona. Maaf, jika saya sudah mengganggu. Silakan memilih menu makanan dan minuman yang akan Nona pesan." Ucap seorang pelayan.
Naya segera mendongakkan pandangannya pada pelayan tersebut.
"Kak-kamu kan, yang waktu malam itu menabrak aku, 'kan?"
Dengan terbata-bata sambil mengingat, Aluv mencoba menebaknya.
"Ya, waktu itu Nona yang sudah menabrak saya. Sekarang silakan untuk memilih pesanannya, dan saya tidak akan menanggapi apapun yang bukan mengenai pesanan dari restoran ini."
"Dih, sadis banget sih kamu ini. Siapa juga yang mau membahasnya, kepedean."
Lelaki yang berstatus pelayan tersebut, hanya tersenyum tipis ketika mendapati Naya yang tiba-tiba berubah terlihat kesal.
__ADS_1