
Edwin yang merasa keberatan untuk mengatakannya langsung pada istrinya, ia duduk sejenak untuk meyakinkan tekadnya.
"Hukum tetap lah hukum, tidak bisa untuk di ganti dengan ulah tangan manusia. Maafkan aku, sayang, jika perkataan ku nanti akan menyakiti hatimu." Ucapnya lirih dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Tidak ingin menjadi masalah yang berlarut-larut, Edwin bergegas keluar dari ruang kerjanya.
Senyum yang menghiasi wajah tampan seorang Edwin, telah dilemparkan pada istrinya.
"Sudah tidur, rupanya." Ucap Edwin sambil duduk didekat istrinya.
"Ya, dia langsung tidur saat Kak Edwin berada di ruang kerja. Oh ya, sudah menemukan nama untuk lanjutannya? soalnya acaranya besok."
Edwin terdiam. Ingin rasanya menjawab pertanyaan dari sang istri, namun bibirnya terasa kelu.
"Sebelumnya aku minta maaf, bukan maksudku untuk menyinggung atau membuat kamu kecewa, tetapi ini masalah hukum, aku tidak bisa bermain-main. Lebih detailnya, kamu dengarkan apa yang dijelaskan dalam video tersebut. Aku harap, kamu tidak salah paham."
Jawab Edwin sedikit ada rasa cemas, jika istrinya tidak bisa menerima penjelasan yang ada dalam video tersebut.
"Ya, aku akan mendengarkannya dengan seksama." Jawab Aluv.
__ADS_1
Sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang dimaksudkan oleh suaminya, Aluv mulai membenarkan posisinya ketika telinga dan matanya di fokuskan pada layar ponsel suaminya.
Edwin yang merasa takut jika istrinya tidak akan bisa menerima penjelasan dari video tersebut, tak henti-hentinya untuk berdoa agar bisa menerimanya dengan lapang, meski menyayat hati sekalipun.
Pemutaran video dari detik ke menit, Aluv mendengarkannya dengan sangat fokus dan teliti. Bahkan, tidak ada satupun penjelasan yang terlewati.
Ketika dalam pertengahan video, napasnya seakan harus ditarik paksa. Saat itu pun, Aluv menyadari akan segala kesalahannya dimasa lalu.
Aluv memejamkan kedua matanya, berharap dirinya baik-baik saja meski dihantui dengan rasa bersalahnya.
Edwin yang berada di samping istrinya yang mulai menangis sesenggukan, ia langsung memeluknya untuk memberi ketenangan.
"Maafkan aku, sayang. Bukan maksudku untuk membuatmu menangis, tetapi kita tidak bisa menentang hukum yang berlaku. Meski bukan darah daging-ku, aku akan menyayanginya dan menjadikannya putraku." Ucap Edwin sambil mengusap lengan istrinya.
"Jadikan semua yang sudah terjadi adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga, karena hidup kita tidak lepas dari ujian." Ucap Edwin sedikit memberi kata-kata bijak pada istrinya.
Aluv menyeka air matanya, dan melepaskan pelukan dari suami. Kemudian, ia memperhatikan bayinya yang tengah tidur dengan pulas. Pelan-pelan, Aluv mendaratkan ciu*mannya tepat pada pipi kirinya.
"Maafkan Mama, sayang. Mama begitu bodoh yang mudah terbuai oleh naf*su semata, maafkan Mama." Ucapnya lirih penuh penyesalan sambil memperhatikan bayinya yang tengah tidur dengan pulas.
__ADS_1
"Sudah, cukup. Penyesalan cukup dijadikan penyesalan, tapi tidak untuk diulangi. Lebih baik kamu fokus untuk merawat dan membesarkannya, itu poin utama." Ucap Edwin dan mengusap punggung milik istrinya.
"Masih bayi saja sudah menerima kenyataan pahit, bagaimana ketika dia besar nanti saat dewasa? aku tidak bisa membayangkannya." Kata Aluv kembali menangis karena sebuah penyesalan.
"Jangan kamu teruskan tangisanmu dan juga jangan banyak berpikir, kesehatanmu bisa terganggu. Percayalah denganku, semua akan baik-baik saja."
"Tapi ..." ucapnya terhenti ketika Edwin menempelkan satu jari telunjuknya tepat pada bibir istrinya. Kemudian, ia kembali memeluknya.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku. Kamu tidak perlu cemas." Kata Edwin berusaha untuk membuat istrinya tidak banyak pikiran karena sebuah pernyataan dan penjelasan yang sudah didengarnya.
Karena tidak ingin kesehatannya terganggu, Aluv mencoba untuk menenangkan pikirannya agar menjadi lebih tenang. Sudah menjadi resikonya, mau tidak mau, siap tidak siap, Aluv menerima konsekuensinya dari awal pernikahan.
Dan benar, kini Aluv mulai merasakannya dan sebisa mungkin untuk bisa menerimanya dengan lapang.
Edwin yang merasa sudah membuat istrinya bersedih, ia melepaskan pelukannya dan menatap serius pada istrinya.
"Ada aku yang akan selalu berada di samping-mu, kita besarkan bersama dan didik dengan baik. Tidak perlu kamu hiraukan dengan cemoohan dari orang lain, fokus memberinya kasih sayang dan perhatian, serta mendidiknya dengan baik." Ucap Edwin untuk tidak membuat istrinya patah semangat.
"Jadi, Kak Edwin mau memberinya nama, siapa?" tanya Aluv.
__ADS_1
"Radien Praja. Ya, itu yang diizinkan. Kamu tidak keberatan kan, jika aku menyambungkan nama dari keluarga kamu? nanti aku akan meminta kedua orang tuamu untuk datang ke rumah, kita harus membicarakannya dengan baik, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman." Jawab Edwin.
"Ya, tidak apa-apa. Semoga semua akan baik-baik saja tanpa ada kesalahpahaman." Kata Aluv yang berusaha untuk menerima kenyataan.