Penutup Noda

Penutup Noda
Benar-benar terkejut


__ADS_3

Edwin yang sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya, secepatnya langsung membawanya ke rumah sakit.


"Ma, tolong jaga Radien. Aku mau antar Aluv ke rumah sakit."


"Aku gak apa-apa, serius. Istirahat saja sudah cukup, kok." Timpal Aluv yang tidak ingin periksa.


"Lihatlah, kondisi kamu sendiri lemah. Wajah kamu juga terlihat pucat. Pokoknya aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit, titi. Karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, dan kamu dilarang untuk protes." Kata Edwin yang tetap pada pendiriannya.


"Ya, Luv. Kamu harus periksa, setidaknya dokter sudah memeriksa kesehatan kamu. Radien biar sama Mama dan Naya, kalian cepat berangkat." Timpal Bunda Holena ikut bicara dan juga menyuruh menantunya untuk segera memeriksa kondisi kesehatannya.


"Ya Kak, biar Radien sama Naya. Lagi pula ada Mbak Mala, Kak Aluv tak perlu khawatir." Ucap Naya ikut menimpali.


"Cepat, bawa istrimu ke rumah sakit dan periksakan kesehatannya." Perintah Tuan Topan pada putranya yang tidak ingin melihat menantunya kenapa-napa.


Edwin yang sudah tidak sabar, akhirnya langsung menggendongnya sampai didalam mobil.


Dengan kecepatan sedang, Edwin mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Aluv yang tengah duduk di samping kemudi, kepalanya semakin terasa pusing. Bahkan, perutnya juga ikutan mual dan tidak karuan rasanya.


Tidak lama kemudian, akhirnya telah sampai di depan rumah sakit. Dengan tenaganya yang cukup gesit, Edwin membantu istrinya melepaskan sabuk pengamannya karena ketidaksabaran.


Edwin bergegas turun dari mobil, lanjut membuka pintu mobil yang dimana istrinya duduk. Secepatnya, Edwin menggendong istrinya sampai di dalam ruang pemeriksaan.


Dokter Elsa yang mendapati Edwin berjalan begitu cepat dan terlibat setengah berlari, secepatnya menyusul untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Aluv yang sudah masuk dalam ruang pemeriksaan, Dokter Elsa sendiri langsung masuk ke ruang pemeriksaan karena rasa penasarannya.


Dengan fokus, Dokter Elsa segera memeriksanya dan tidak lupa untuk menanyakan keluhannya.


Ketika mendapatkan banyak pertanyaan dari Dokter Elsa, Aluv menjelaskannya begitu sangat detil. Dokter Elsa tersenyum mendengarnya, dan Aluv pun membalasnya.


"Periksa kandungan dulu ya, Nyonya Edwin." Ucap Dokter Elsa dengan ramah.


"Periksa kandungan? yang benar saja, Dok. Memangnya saya ini hamil? ada-ada saja Bu Dokter."

__ADS_1


Spontan, Aluv begitu kaget saat mendengar pemeriksaan kandungan. Setau Aluv, suaminya tidak bisa memberinya keturunan, alias man*dul.


Tentu saja, Aluv seperti tidak percaya dan seakan dirinya tengah diajak bersenda gurau dengan Dokter Elsa yang tidak lain adalah teman akrab suaminya.


Dokter Elsa mengangguk dan tersenyum. Tidak mungkin juga, jika Aluv mengatakan suaminya tidak bisa memberinya keturunan. Yang ada, anak yang sudah dilahirkannya akan ketahuan hasil perbuatan kotornya.


Aluv hanya bisa nurut dan juga pasrah, mencegahnya pun tidak mungkin.


Dengan fokus, Dokter Elsa memeriksa kandungan. Kemudian, Aluv diminta untuk melihat hasil pemeriksaan.


Alangkah terkejutnya saat melihat begitu jelas jika didalam rahimnya ada benih yang tumbuh.


"Dok, itu serius, saya hamil?" tanya Aluv masih belum juga percaya dengan apa yang ia lihat.


Dokter Elsa mengangguk dan tersenyum padanya, membuat Aluv merasa seperti tengah di kerjain.


"Dok, jangan ngada-ngada deh." Ucap Aluv yang masih belum juga percaya.


"Saya sedang tidak mengada-ngada, Nyonya Edwin. Saya menunjukkan hasil yang benar, bahwa tidak ada kebohongan apapun dengan hasilnya." Jawab Dokter Elsa dan tak lupa untuk tersenyum.


"Bagaimana keadaan istriku, Dokter Elsa?" tanya Edwin penuh kekhawatiran.


Lagi-lagi Dokter Elsa tersenyum pada Edwin, dan juga mengulurkan tangannya.


"Ngapain pakai mau berjabat tangan segala, tidak lucu. Cepat katakan padaku, bagaimana keadaan istriku, Dok?"


"Selamat, ya. Akhirnya kamu akan mempunyai anak lagi. Kamu ini, benar-benar top cer setelah bercerai dengan Sora, mantan istrimu." Ucap Dokter Elsa memberi ucapan selamat pada temannya.


Edwin hanya mengerutkan keningnya itu, lantaran seperti tengah dikerjain oleh temannya sendiri.


"Maksudnya, Dok?" tanya Edwin yang masih belum mengerti.


Dokter Elsa yang malas banyak bicara dan juga tidak ingin menjelaskannya lagi, akhirnya memilih untuk menunjukkan hasilnya.


"Lihatlah dengan fokus dan juga seksama, ok." Ucap Dokter Elsa pada Edwin.

__ADS_1


Karena penasaran, akhirnya Edwin mengiyakan dan menatap fokus pada layar.


"Istri kamu hamil, lihatlah dengan jelas." Ucap Dokter Elsa dengan sangat jelas.


Seketika, Edwin tercengang melihat serta mendengarnya. Sungguh, apa yang ia lihat dan dengar seperti mimpi saja.


Dirinya yang sudah di vonis tidak bisa mempunyai keturunan, rupanya mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan.


Saat itu juga, ingatan Edwin kembali pada masa lalunya bersama istrinya bernama Soraya, kerap dipanggil Sora. Yang mana dirinya tidak dapat mempunyai keturunan setelah pernikahannya berusia dua tahun.


Tiba-tiba tatapannya berubah menjadi tajam setajam silet. Edwin mendadak mengepalkan kedua tangannya cukup kuat, otaknya ikut terasa mendidih. Detak jantungnya bergemuruh hebat.


'Sora! kau harus menjelaskannya padaku.' Batin Edwin dengan segala emosinya yang berusaha untuk ia tahan.


Tidak mungkin juga untuk marah di khalayak umum, tentunya akan mencoreng nama baiknya sendiri.


Lagi-lagi Edwin bingung dengan perasaannya sendiri, antara harus bersedih apa harus bahagia. Lantaran, kabar bahagianya harus tercampur dengan perasaan yang teramat sangat dongkol dan juga kesal.


Ingin marah dan berteriak pun, itu tidak akan mungkin. Hanya diam dan diam yang bisa untuk dilakukannya.


"Edwin, kenapa kamu melamun?" tanya Dokter Elsa setelah menepuk punggung temannya.


"Ah ya, aku sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini yang teramat dalam, sampai-sampai aku tidak bisa berkata apa-apa untuk mengutarakan perasaan bahagiaku karena istriku hamil lagi." Jawab Edwin meyakinkan, berharap istrinya tidak memiliki prasangka buruk terhadap dirinya.


"Ya sudah, nanti kamu tebus obat dan vitaminnya seperti dulu. Aku sedang ada pasien lagi yang harus aku tangani. Selamat untukmu, jaga baik-baik istrimu. Satu lagi, jika tidak memungkinkan untuk memberi anak pertama dengan ASI, boleh pakai cara lain. Yang terpenting, istrimu dan janin yang ada di dalam kandungannya, baik-baik saja. Jangan memaksakan diri jika fisiknya tidak mampu." Ucap Dokter Elsa memberi banyak penjelasan untuk Edwin, temannya.


"Terimakasih atas sarannya, Dok. Kalau begitu, aku boleh membawa istriku pulang, 'kan?"


"Tidak boleh, kenapa?"


"Hem, aku pulang." Ucap Edwin yang tidak ingin berurusan dengan istri sahabatnya sendiri.


"Ya, hati-hati diperjalanan. Salam buat Tante, Holena." Jawab Dokter Elsa, Edwin mengangguk sambil membantu istrinya turun dari atas ranjang pasien.


Karena tidak suka berlama-lama dan memakan waktu yang terbuang sia-sia, Edwin kembali menggendong istrinya untuk menebus obat serta vitamin.

__ADS_1


__ADS_2