
Beberapa bulan kemudian, perut Aluv semakin membesar. Pagi, siang, sore, dan malam, Aluv tinggal menunggu kelahiran anak yang ia kandung.
Pikirannya mulai tak tenang, entah harus bahagia atau bersedih. Meski hubungan pernikahannya terbilang baik-baik saja, tetapi dirinya membawa anak yang akan dilahirkan. Tentu saja, dirinya mulai gelisah untuk memikirkannya.
Bunda Holena yang melihat menantunya tengah sendirian di taman belakang, Beliau mendekatinya.
"Aluv, sedang apa kamu disini, Nak?"
Bunda Holena mengagetkan menantunya, Aluv menoleh ke samping.
"Aluv sedang menghirup udara pagi, Ma."
"Bagaimana dengan kandungan kamu, Nak? sudah periksa ke dokter, 'kan?
"Baik-baik saja, Ma. Kata Dokter Rita, Aluv di minta untuk olahraga khusus perempuan hamil, agar persalinannya lancar." Jawab Aluv.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Maafkan anak Mama, Erwan yang sudah meninggalkan beban berat ini kepadamu. Dan sekarang kamu harus berjuang sendiri tanpa ayah biologis dari anak yang kamu kandung, maafkan Erwan." Ucap ibu mertua tertunduk sedih ketika melihat menantunya yang tengah hamil tanpa ayah biologisnya dan juga merasa bersalah atas nama putranya.
Aluv meraih tangan ibu mertuanya dan mengusap punggung tangannya.
"Mama tidak perlu bersedih, semua sudah menjadi kehendak-Nya dan juga sudah dituliskan menjadi takdir. Aluv sendiri tidak bisa untuk menolaknya, Ma. Mau tidak mau, Aliv harus menerima kenyataan ini semua."
__ADS_1
Bunda Holena segera memeluknya dengan penuh haru atas kesabaran dari sosok Aluv yang begitu sabar menjalani kehidupannya yang tidak sebahagia perempuan hamil lainnya. Bahkan, Beliau sendiri tidak pernah mendapati menantunya bermanja atau mengeluh sekalipun.
"Aw! perutku, kenapa menjadi sakit." Rengek Aluv yang tiba-tiba merasakan bagian pinggulnya yang mulai terasa sakit dan menjalar pada bagian perutnya.
Aluv memegangi perutnya yang sudah membesar dengan sempurna, tentunya sudah siap untuk melahirkan. Sedangkan Ibunda Holena ikutan panik ketika melihat menantunya merengek kesakitan.
"Edwin! Naya! Edwin!" teriak Bunda Holena memanggil kedua anaknya dengan menekan tombol panggilan di setiap ruangan dengan cahaya sesuai ruangan.
"Ma, perut Aluv sakit banget." Rengek Aluv yang merasa terasa sakit dan belum mengerti ketika mau melahirkan.
"Tahan dulu, pegangan tangan Mama, akan Mama tuntun kamu sampai dalam rumah sambil menunggu siapa yang datang lebih dulu. Jika kamu tidak mampu untuk berjalan, duduk aja dulu." Ucap ibu mertua.
Edwin yang masih berada di ruang kerjanya, ia segera keluar dan menuju tempat sesuai cahaya yang menunjukkan ruangan dimaksudkan.
"Aluv, kenapa dengan Aluv, Ma?" tanya Edwin, sedangkan Aluv sendiri tidak bisa merespon dan lebih memilih untuk menahan rasa sakit pada perutnya karena kontraksi hebat.
"Istrimu seperti mau melahirkan, cepat kamu gendong dan bawa ke rumah sakit. Ayo, cepetan." Perintah sang ibu, Edwin mengangguk dan menggendongnya sampai didalam mobil dan diikuti oleh Bunda Holena yang tampak gelisah dan tidak lupa untuk menghubungi pihak rumah sakit.
"Ma, Kak Aluv kenapa?" tanya Naya yang baru saja berhenti dianak tangga yang terakhir.
"Kakak kamu kamu melahirkan, sampaikan pada Papa untuk menghubungi keluarga Gentaram." Sahut Bunda Holena sambil berjalan terburu-buru.
__ADS_1
"Ada apa, Nay? Mama kamu kenapa panik begitu? mau kemana?" tanya sang ayah yang baru saja keluar dari kamar.
"Kak Aluv mau melahirkan, Pa. Kata Mama, Papa diminta untuk menghubungi orang tua Kak Aluv." Jawab Naya dan segera bersiap-siap untuk ikut menyusul ke rumah sakit.
Saat itu juga, Tuan Topan bergegas meraih gagang telpon dan segera menghubungi besannya untuk memberinya kabar.
Sedangkan dalam perjalanan, Aluv terus menahan rasa sakitnya itu karena kontraksi hebat.
Edwin yang melihat istrinya meringis menahan sakit, rasanya benar-benar tidak tega untuk melihatnya.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Edwin telah sampai di depan rumah sakit dan segera ditangani oleh anggota pihak rumah sakit.
Dengan langkah kakinya yang cukup gesit, akhirnya Aluv sudah masuk ke dalam ruang persalinan. Bunda Holena yang hendak ingin masuk, tiba-tiba dihalangi oleh satu perawat. Sedangkan Edwin merasa dilema antara ikut menemani atau tidak. Pasalnya, anak yang dilahirkan oleh istrinya bukanlah anak hasil ben*ihnya sendiri.
Bunda Holena yang melihat putranya yang tidak ikutan masuk ke ruang persalinan, Beliau menepuk punggungnya.
"Istrimu sedang mempertaruhkan nyawanya, kenapa kamu tidak ikut menemaninya?"
"Aku tidak sanggup, Ma." Jawab Edwin sangat singkat.
"Kenapa? apa karena bukan darah daging-mu? sehingga kamu enggan untuk menerima kehadirannya? Edwin, bayi yang dilahirkan oleh istrimu adalah anak dari adikmu sendiri, yang tidak lain adalah keponakan kamu. Ayo, temani istrimu yang sedang mempertaruhkan nyawanya. Buang ego kamu itu, jangan sampai kamu dibutakan oleh kesombongan kamu."
__ADS_1
Ucap sang ibu memberi nasehat kecil untuk putranya agar hatinya terketuk karena ketidaksempurnaan satu sama lainnya dan berharap dapat melengkapi kekurangannya masing-masing.
Sedangkan di dalam ruang persalinan, Aluv mengamati yang ada disekelilingnya. Satu per satu rupanya tidak ada sosok suami yang berdiri diantara mereka.