
Sambil mengatur pernapasan, Aluv mencoba untuk menenangkan pikirannya. Yang mana bahwa dirinya telah bertindak ceroboh dengan mulutnya sendiri.
Aluv tertunduk sedih dipinggir jembatan sungai besar yang menghubungkan jalan satu ke jalan yang satunya. Edwin yang takut jika istrinya kembali bertindak ceroboh, dirinya segera menghentikan tindakan dari sang istri.
Edwin langsung memeluknya dari belakang, tentunya membuat Aluv sangat terkejut dan juga kaget pastinya.
"Maafkan aku yang sudah membentak kamu yang tidak sepatutnya aku memarahi-mu. Seharusnya aku menasehati kamu dengan benar, bukan dengan cara seperti tadi. Hentikan tindakan konyol-mu ini, jangan limpahkan segalanya hanya dengan satu cara, yakni bunuh diri, itu perbuatan sangat bodoh." Ucap Edwin yang takut istrinya terjun bebas, pikirnya.
Mau bagaimana pun, Aluv adalah istrinya. Meski berat untuk menerima kehadirannya, Edwin berusaha untuk tidak menunjukkan dihadapan sang istri. Takut, jika perlakuan darinya akan berbanding terbalik dengan apa yang diperlihatkan.
Sedangkan Aluv segera memutar balikkan badannya dan menatap wajah suaminya.
"Siapa juga yang mau bunuh diri, aku bukan orang bodoh untuk menghilangkan nyawa yang ada dalam tubuhku. Karena tidak hanya nyawaku saja yang ada didalam tubuhku, tetapi calon anakku." Jawab Aluv, tak lupa langsung mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Kalau begitu, ayo kita pulang." Ucapnya dan mengajak istrinya untuk pulang.
__ADS_1
Aluv yang tidak mempunyai alasan apapun, hanya bisa nurut dan ikut pulang bersama sang suami.
Dalam perjalanan pulang, Aluv masih tidak bersuara, melainkan memilih untuk diam. Bicara pun tiada gunanya, karena tidak ada yang bisa dijadikan bahan bicara.
Edwin yang juga malas bersuara, dirinya lebih memilih untuk bersandar sambil melihat jalanan yang dipadati oleh orang-orang yang berlalu lalang.
Sedangkan di Restoran Merpati Jaya, Nuza tengah duduk di ruangan khusus miliknya. Duduk sendirian dengan penuh kekecewaan.
"Nuza, apakah kamu tadi bertemu dengan Aluv?" tanya sang ayah.
"Ya, Pa. Nuza tadi bertemu dengan Aluv, rupanya dia sudah menikah." Jawabnya sambil memainkan pena.
"Nuza belum bisa memikirkannya, mungkin lebih baik Nuza kembali ke luar negri saja."
"Untuk apa? melupakan Aluv? tidak perlu kamu pergi jauh-jauh hanya untuk melupakan Aluv. Kamu masih punya cara lain untuk melupakannya tanpa harus pergi jauh, berpikirlah. Kamu ini keturunan dari keluarga Danuarta, bersikaplah yang optimis. Contoh sikap dari kakek kakek kamu dahulunya, jangan pesimis begitu."
__ADS_1
"Kakek siapa? Kakek Kazza? Kakek buyut Tirta? Kakek Ferdi ayah dari kakek Tirta? atau ... Kakek Danuarta."
Tuan Daka justru tertawa mendengar putranya telah menyebutkan satu persatu dari keturunan yang sebelumnya.
"Kakek Tirta."
"Kok Kakek Tirta? apanya yang berkesan, Pa?"
"Memantapkan diri, dan tidak mudah untuk mengungkapkan perasaan. Pengakuan dari Kakek Tirta setelah menikah."
"Ya iyalah Pa, orang Kakek Tirta di jodohkan, pantas aja pengakuannya setelah menikah."
"Kamu mau?" tanya Tuan Daka sambil menggoda putranya. Nuza sendiri bergidik ngeri melihat ayahnya sendiri.
"Maksudnya Papa, di jodohkan, begitu kah? tidak, tidak akan."
__ADS_1
Tuan Daka tersenyum mendengarnya.
"Aku pingin seperti Papa, tapi rupanya gagal. Padahal aku ingin terus berjuang dan terus setia, tapi rupanya aku tidak mendapatkannya." Ucapnya lagi dengan lesu.