
Masih berada di dalam kamar, Aluv tengah duduk di tepi tempat tidur sambil memperhatikan suaminya yang sedang berkaca dan menyisir rambutnya.
Seperti mimpi, itulah selalu dirasakan oleh Aluv sendiri mengenai statusnya yang sudah menikah dengan sosok yang tidak dikenalinya.
'Tak pernah hadir di dalam benakku, jika aku akan bersuamikan kakak dari kekasihku sendiri.' Batin Aluv sambil memperhatikan suaminya dan juga melamun.
Sedangkan di kamar Kenaya, sosok Alisa tengah berbaring di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya. Entah kemana pikirannya, Alisa terus melamun dan membayangkan sesuatu.
"Dih! senyum-senyum tidak jelas gitu. Kamu sedang tidak ke sambar hantu kan, Lis?"
"Enak saja, aku ini masih normal, Nay. Emangnya kamu, yang kadang-kadang kambuh." Sahut Alisa dan tak lupa menjulurkan lidahnya.
"Ya siapa tahu aja sih gitu." Kata Naya sambil nyengir kuda.
"Oh ya Nay, Kak Edwin belum punya pacar, 'kan?" tanya Alisa penasaran.
Kenaya sejenak terdiam, bingung untuk mengatakannya.
"Nay, jawab dong. Kak Edwin masih sendiri, 'kan?"
Naya hanya bisa tersenyum tanpa menjawabnya.
__ADS_1
"Nay, dijawab kenapa sih. Kak Edwin belum punya pasangan, 'kan?"
"Lebih baik kamu tanya aja langsung sama Kak Edwin. Kalau aku yang memberitahu ke kamu, takutnya nanti aku salah dan kamu tidak percaya, Lis."
"Hem, kebiasaan kamu Nay. Aku tuh mau menerima tawaran dari orang tua kamu yang dulu itu, habisnya aku gagal dapetin cowok yang aku sukai."
"Tawaran yang mana ya? aku belum mengerti sama yang kamu ucapkan."
"Kamu ini, lupa atau pura-pura lupa sih Nay. Tawaran untuk menikah sama Kak Edwin loh, ingat dong diingat."
"Menikah dengan Kak Edwin?"
"Ya iya lah Nay, memangnya menikah sama siapa lagi? Kak Erwan kan, dulu sudah punya pacar, kata kamu."
"Itu kan, dulu Nay. Sekarang aku sadar, rupanya mengejar cinta itu sulit. Bukannya sulit sih, cowok yang aku sukai itu lebih memilih perempuan lain dari pada aku. Padahal aku tuh cinta banget sama dia, tapi perempuan itu yang dicintai. Makanya, aku menyerah diri dan mau menerima tawaran dari orang tua kamu untuk menikah dengan Kak Edwin. Duda juga tidak masalah sih, yang terpenting sayang sama aku."
"Gimana ya, sepertinya kamu sudah terlambat deh. Tapi, untuk lebih jelasnya lagi, lebih baik kamu tanyakan aja langsung sama Kak Edwin."
"Jadi, Kak Edwin sudah punya pacar?"
"Tanya aja deh sama orangnya langsung, ok."
__ADS_1
"Hem, ya deh, ya." Kata Alisa dibuat cemberut.
"Mendingan juga kamu itu mandi, terus kita turun ke bawah. Katanya penasaran sama Kak Edwin, buruan sana mandi." Ucap Kenaya.
"Ya deh, ya." Lagi lagi Alisa mengiyakan dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan di kamar lain, Aluv masih berdiam diri di tepi ranjang karena bingung harus berbuat apa.
"Ayo kita turun, sudah waktunya untuk makan malam. Jangan sampai kita itu membuat mereka menunggu, tidak baik." Ajak Edwin pada istrinya.
Tiba-tiba Aluv merasakan sesuatu pada perutnya, Edwin yang melihat istrinya seperti menahan rasa sakit pun, ia menjadi khawatir.
"Kamu kenapa, sakit?" tanya Edwin khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya mules saja. Mungkin tadi aku salah makan waktu di restoran, kebanyakan sambal maksud aku." Jawab Aluv sambil menahan sakit.
"Kamu jangan berbohong, aku akan mengantarkan kamu ke dokter." Kata Edwin yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya dan juga kandungannya.
"Aku serius dan tidak berbohong. Lagian juga tidak ada yang Perlu dikhawatirkan. Lebih baik Kak Edwin duluan saja, perutku cuma mules doang kok. Kalau begitu aku mau ke toilet aja sebentar, nanti juga mereda rasa sakitnya. Setelah itu, nanti aku akan menyusul Kakak ke bawah." Jawab Aluv sambil menahan sakit pada bagian perutnya.
"Kamu pikir, aku setega itu sama kamu. Kalau terjadi sesuatu pada diri kamu, bagaimana? sudahlah, aku akan mengantarkan kamu ke dokter."
__ADS_1
"Tidak perlu, lebih baik Kak Edwin menunggu aku di kamar saja, aku mau ke toilet sebentar." Jawab Aluv dan bergegas masuk ke toilet.
Edwin yang diliputi rasa khawatir pada istrinya, lebih memilih untuk menunggunya di dalam kamar. Mau bagaimana pun, Aluv adalah istrinya, meski rasa cinta itu belum juga tumbuh diantara keduanya.