
Sampainya di depan rumah, terasa berat untuk Edwin meninggalkan istrinya. Meski di rumah sendiri, tetap saja terasa tidak rela untuk pergi.
Sedangkan Aluv sendiri segera masuk ke dalam rumah sambil membawa sebagian belanjaannya, lantaran suaminya akan berangkat ke kantor lagi.
"Kenapa lagi? sudah sana kalau mau berangkat lagi. Kasihan Naya jika harus pulang sendirian."
"Mama tenang aja, nanti aku hubungi sekretaris Lee untuk pulang bareng sama Naya. Lagi pula, sekretaris Lee satu arah dengan Naya. Jadi, Mama tidak usah khawatir."
"Kamu ini, selalu nyusahin orang. Tidak. Mama tidak akan izinkan Naya pulang dengan sekretaris Lee, titik. Kamu harus jemput adik kamu, apapun alasannya."
"Tapi, Ma ... nanggung ini loh. Lagian juga, sebentar lagi waktunya untuk pulang." Kata Edwin mencari alasan, meski kenyataannya masih cukup lama hingga waktunya untuk pulang.
"Kalau kamu tidak mau berangkat juga, malam ini tidak Mama izinkan untuk tidur satu kamar dengan istrimu."
Ucap sang ibu tak lepas untuk memberi ancaman ketika anak-anaknya susah untuk mengerjakan perintah orang tuanya.
"Ma. Jangan begitu sih, Ma." Rengek Edwin terus merayu ibunya.
"Tidak bisa, titik. Cepat kamu jemput adik kamu, atau ucapan Mama tadi akan terlaksana."
"Ya deh, ya."
__ADS_1
Edwin yang tidak punya pilihan lain, terpaksa segera berangkat lagi ke kantor untuk menjemput adik perempuannya.
Sedangkan ibunya, Bunda Holena segera masuk ke rumah setelah mengusir putranya untuk berangkat lagi.
Aluv sendiri yang sudah berada dalam kamar, dirinya kembali berpikir.
"Berarti malam ini aku tidur di kamarku yang kemarin, bukan di kamar ini. Benar juga kata Kak Edwin, suamiku lelaki normal dan bisa saja lepas kendali. Baiklah, aku harus membereskan pakaianku yang kotor." Ucapnya lirih sambil bercermin.
Ketika sudah terlihat rapi dan tidak ada sesuatu miliknya yang terlihat di kamar suaminya, Aluv meminta asisten rumah untuk membawa baju kotor dan lainnya dari kamar.
Kemudian, ia pindah tempat tidurnya. Tempat mana lagi kalau bukan tempat yang pernah ia tempati ketika sampai di kediaman keluarga Galeyandra.
Perjalanan hidupnya tak lagi berwarna bak dirinya masih sendiri menikmati kebebasan. Tetapi, dirinya telah salah menjalani kebebasannya hingga masuk ke lembah hitam penuh sesal.
Karena rasa kantuknya yang sudah menguasai rasa lelah pada tubuhnya, Aluv tak sadarkan diri telah tidur hingga sore hari. Bahkan, dirinya sendiri sampai tidak mengetahui ketika suaminya pulang dari kantor bersama adik iparnya.
"Dimana istriku? kenapa tidak ada di kamar? mungkinkah dia pergi lagi dengan Mama? tapi, barusan aku lihat Mama sendirian di ruang keluarga." Ucapnya lirih sambil mencari keberadaan istrinya.
Karena khawatir dan juga mencemaskan keadaan istrinya, Edwin segera keluar dari kamar dan mencari istrinya.
Dengan terburu-buru, Edwin menuruni anak tangga. Hingga suaranya mengagetkan Ibundanya.
__ADS_1
"Ma, Aluv dimana?" tanya Edwin dengan cemas.
"Aluv? bukannya tadi langsung masuk ke kamar? memangnya istri kamu tidak ada di kamar?"
Bunda Holena sama halnya kaget karena putranya tiba-tiba mencari keberadaan istrinya.
"Aluv tidak ada di kamar, Ma." Jawab Edwin dengan gusar.
"Permisi, Tuan. Maaf. Apakah Tuan Edwin mencari Nona Aluv?"
"Ya, Bi. Dimana istriku? pergi? atau dimana?"
"Nona Aluv tengah tidur di kamar yang pernah di tempati-nya, Tuan." Jawab Bi Inah yang akhirnya memberitahu pada majikannya.
Edwin maupun ibunya langsung membuang napasnya dengan kasar dan merasa lega.
Tetap saja, Edwin belum yakin jika belum melihatnya. Cepat-cepat, dirinya segera melihatnya. Takut, jika yang diucapkan oleh Bi Inah adalah salah.
Karena penasaran, Edwin langsung membuka pintunya. Dan benar saja, rupanya sang istri tengah tidur dengan pulas.
Edwin sendiri langsung melepaskan dasi dan juga baju kemejanya serta celana panjangnya, dan hanya menyisakan kaos oblong berwarna putih dan celana kolor saja. Kemudian, ia ikutan berbaring di sebelah istrinya dengan posisi kedua tangannya disilangkan di atas dada bidangnya.
__ADS_1