
Kenaya yang pada dasarnya memang perutnya yang mudah lapar, ia segera melapor untuk diantarkannya makanan ke kamar hotel.
Saat tangannya sudah memegang gagang telpon, Kenaya mengambil kertas kecil sebesar kartu nama. Yakni, tercantum beberapa nomor yang di butuhkan.
Karena penasaran siapa pemilik hotel yang dijadikan bulan madu untuknya bersama sang suami, Kenaya mencoba mengecek.
'Bikin penasaran aja ini hotel, siapa tahu aja, ini hotel masih di ruang lingkup keluarga Galeyandra. Tidak mungkin kalau hotel ini milik keluarga tuh cecenguk, Dia mah keluarga Restoran.' Batin Kenaya, tak lupa menoleh suaminya yang sudah melanjutkan tidurnya.
"Suami macam apa, Dia. Bukannya bangun kek, istrinya kelaparan. Eh! enak-enakan dengkur." Gerutu Naya mendengus kesal.
Kemudian, Kenaya mencoba mengeceknya lagi karena rasa penasarannya.
"Hotel Danuarta." Ucapnya lirih, susah payah Kenaya menelan ludahnya kasar. "Yang bener aja ini, masa ya, hotelnya." Sambungnya lagi.
Nuza rupanya sudah duduk bersandar sambil memangku bantalnya, tersenyum melihat ekspresi Kenaya yang merasa salah mengira.
"Kenapa ekspresi kamu berubah jadi jelek gitu, sudah sini tidur aja. Tenang, aku tidak bakal marah jika kamu membutuhkan guling hidup sepertiku." Ledek Nuza dengan berani.
"Dih! ogah. Mendingan juga aku mandi, eh! tapi."
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Nuza.
"Kamu keluar dulu." Jawab Kenaya dengan entengnya untuk mengusir suaminya dari kamar hotel.
"Kamu bilang apa tadi, aku suruh keluar?"
"Ya, keluar sebentar. Aku mau mandi dulu, kamu kan gitu, suka jahil." Jawab Naya dengan anggukan.
"Dih, kepedean. Sudah sana kalau mau mandi, atau gak kita mandi bareng aja, lumayan ada yang bantuin bersihin badan kita secara gantian." Kata Nuza yang tak pernah bosan untuk membuat istrinya semakin kesal dan juga geram.
"Da_sar! me-sum." Jawab Kenaya yang langsung berdiri sambil berkacak pinggang.
Dengan perasaan geram dan kesal, Kenaya langsung naik ke atas tempat tidur. Kemudian meraih bantal dan dilemparkannya pada suaminya.
Naas, Nuza tidak begitu sigap saat istrinya melemparkan bantal ke arah dirinya.
"Aw!" pekik Nuza menahan sakit.
BRUK!
__ADS_1
"Aw! gila, kamu ya. Udah kek preman aja, kamu ini." Pekiknya lagi saat dirinya terjatuh dari tempat tidur karena ulah istrinya yang sekali dorong dengan salah satu kakinya yang cukup mengeluarkan energinya yang ekstra.
Bukannya untung, tambah buntung. Begitulah nasib sial yang diterima sosok Nuza yang tidak semanis bulan madu pada umumnya sepasang suami-istri. Meski tidak ada cinta sedikitpun, setidaknya tidak seperti tommy and jerry, pikir Nuza.
"Makanya, jangan mes_um."
"Yang mes_um juga siapa, aku kan cuma ngajak kamu mandi bareng doang. Apanya yang mes_um, coba."
"Pura-pura polos, Elu ya." Tuduh Naya dengan geram, bahkan semua giginya menggerutuk.
"Polos gimana maksudnya , aku tidak telan_jang."
"Dah ah, capek ngomong sama kamu. Aku mandi, jangan ikut-ikutan, apa lagi ngintip."
"Mendingan juga kita mandi bareng, dari pada aku dikatain ngintip kamu. Dari pada mubazir, rugi akunya dong."
Naya menatap tajam pada Nuza, seraya ingin melayangkan tamparan keras pada suaminya yang semakin membuatnya geram.
Tidak ingin terus-terusan berdebat, Naya langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1