Penutup Noda

Penutup Noda
Memikirkan sesuatu


__ADS_3

Tengah berjalan sang ayah dan putranya kini berjalan mendekati Aluvia dan ibunya.


"Kemal, apa kabarnya sayang?" sapa sang ibu dan memeluk putranya.


"Kabarku sangat baik, Ma. Bagaimana kabarnya Mama? semoga baik-baik saja seperti yang aku lihat." Jawab Kemal.


Setelah itu, Kemal melepaskan pelukan dari ibunya.


Sedangkan Aluv sama sekali tidak menyapanya. Takut, jika dirinya hanya akan dicuekin dan sama sekali tidak dihiraukan keberadaannya.


"Aluv, kamu kenapa? bagaimana kabarmu? kenapa kamu bersembunyi dibalik punggung Mama? apakah ada masalah denganmu?" sapa Kemal pada adik perempuannya sambil memberi kode pada ibunya untuk menggeser posisinya.


Aluv yang ketakutan, dirinya terus mengikuti kemana perginya sang ibu dari belakang sambil menundukkan pandangannya agar bayangannya tidak dapat ditangkap oleh sang kakak. Bahkan, dirinya tidak mampu untuk menunjukkan wajahnya pada kakaknya sendiri.


Saat itu juga, Kemal langsung meraih tangan Aluv dan menariknya hingga terpisah jarak sang ibu dan adiknya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Aluv?" tanya sang Kakak mengulangi kalimatnya.


Karena rasa takut yang masih bersemayam dalam pikirannya, Aluv sama sekali tidak berani mendongak.


Kedua orang tuanya yang tidak ingin mengganggu kedua anaknya, Tuan Gentaram dan istrinya menyingkir dengan jarak yang cukup jauh.


Kini, tinggallah Kemal dan adiknya. Karena tidak ingin melihat adiknya frustrasi dan bersedih, memeluk ada jalan yang terbaik untuk menenangkan pikiran.


"Kamu kenapa, Aluv? apakah kamu sedang ada masalah? katakan saja pada Kakak, apa yang membuatmu seperti ini."


Aluv masih diam, dirinya sama sekali tidak tahu apa yang harus diucapkan untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya.


Kemal sengaja berpura-pura tidak tahu, dan memilih untuk mendengar sendiri dari pengakuan adiknya.


Kemal melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayu adiknya itu sambil menghapus air matanya dengan ibu jari.

__ADS_1


"Kamu kenapa menangis, Aluv? ayo cerita saja sama Kakak. Tidak perlu takut, aku ini kakakmu."


Aluv menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya saja terasa kelu untuk berucap. Diam adalah cara terbaik untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari sang kakak.


"Ya sudah kalau begitu, Kakak tidak akan memaksamu untuk bercerita. Kalau kamu belum siap untuk bercerita bersama Kakak, lebih baik tenangkan dulu pikiranmu itu agar jauh lebih enakan. Kakak mau masuk ke kamar dulu untuk mengganti baju. Setelah itu, Kakak mau menemanimu duduk santai seperti biasa." Ucap Kemal sambil memegangi kedua lengan adiknya, lagi-lagi Aluv hanya mengangguk tanpa menjawabnya.


Kemal yang tahu kondisi adik perempuannya, sedikitpun tidak berani mengganggu pikirannya. Takut, akan berdampak buruk pada calon anak yang ada dalam kandungannya.


Setelah itu, Kemal segera masuk ke kamarnya. Aluv sendiri masih berdiri dan berdiam diri mematung.


'Maafkan Aluv, Kak. Karena perbuatan kotor Aluv, semuanya harus menanggung malu. Andai saja bunuh diri adalah jalan yang terbaik, maka aku akan melakukannya. Tapi aku tidak berdaya, aku tak kuasa dan tidak mungkin untuk menyakiti janin yang sedang aku kandung.' Batin Aluv dengan penuh sesal atas pergaulan bebasnya hingga ia rela direnggut mahkotanya oleh lelaki yang dianggapnya akan menjadi suaminya nanti.


Tapi nasib berkata lain, dirinya harus ditinggalkan sendiri dalam keadaan hamil. Siapa sangka, jika keadaannya yang sekarang harus menanggung beban yang begitu berat.


Belum lagi nanti setelah menikah, Aluv sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana perlakuan dari suaminya nantinya. Akankah menganggap dirinya itu layaknya sampah? Aluv masih terus memikirkan sejauh mana dirinya akan bertahan dalam hubungan pernikahannya itu.

__ADS_1


Ditambah lagi ketika dirinya melahirkan, akankah sang suami akan menganggapnya anak? ataukah akan membencinya dan tidak menganggapnya ada.


Aluv masih memikirkan hal itu, yang mana dirinya akan melewati berbagai macam lika-liku tentang nasib kedepannya setelah dinyatakan sebagai seorang istri.


__ADS_2