
Karena sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Aluv memilih untuk kembali ke kamarnya. Tapi, karena ibu mertua maupun ayah mertuanya belum juga pergi dari tempat duduknya, Aluv merasa enggan untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Mau tidak mau, Aluv ikut mengobrol bersama ibu mertuanya maupun adik iparnya dengan obrolan yang ringan.
"Karena sudah waktunya untuk istirahat, kita sudahi dulu obrolannya. Tidak baik waktunya istirahat dibuat untuk bergadang, sayangi kesehatan kalian bertiga. Dan kamu Aluv, jaga kesehatan kamu dan jangan banyak bergadang." Ucap Tuan Topan sekaligus pamit untuk beristirahat.
"Ya, benar. Lebih baik kalian bertiga segera beristirahat, tidak baik untuk kesehatan. Besok masih ada waktu untuk melanjutkan obrolan yang tadi." Timpal Ibunda Holena.
Ketiganya menjawab dengan serempak.
Aluv yang hendak menapaki anak tangga, perasaannya tiba-tiba berubah menjadi gugup dan juga takut. Pasalnya, dirinya akan tidur satu kamar dan juga satu tempat tidur bersama suaminya.
Tidak bisa membayangkan, jika dirinya harus mengingat kejadian yang sudah dilewatinya ketika berada di dalam kantor. Otak kotornya harus kembali mengingatnya.
Tidak ingin terlalu pusing untuk memikirkan hal yang semacam itu, Aluv berusaha untuk tetap tenang.
Saat membuka pintu kamar, Aluv di kejutkan dengan pemandangan yang mana suaminya sudah bersandar di atas tempat tidur. Tentu saja, pandangannya kini mengarah pada dirinya.
Bingung, itu sudah pasti. Aluv yang gugup, dirinya hanya menggigit bibir bawahnya karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Jangan lupa, pintunya di kunci." Ucap Edwin yang tiba-tiba mengagetkan istrinya.
__ADS_1
Aluv yang dibuatnya kaget, secepatnya untuk mengunci pintunya.
"Cepat ganti pakaian kamu dan segera tidur, tidak baik untuk kesehatan kamu jika harus bergadang." Ucap Edwin.
Aluv sendiri hanya mengangguk pelan dan berjalan menuju lemari pakaiannya.
Edwin yang tengah membaca buku, tak lepas tersenyum tanpa sepengetahuan istrinya.
Aluv merasa bingung untuk mencari pakaian tidurnya, ditambah lagi semua pakaiannya terlihat begitu menerawang dan dapat menggoda mata lelaki yang tengah melihatnya.
Ditambah lagi dengan berat badan yang mulai berisi karena kehamilannya, tentu saja semakin terlihat se*ksi. Edwin yang sadar diri karena dirinya tidak ingin membuang kesempatan emasnya, segala cara pun dilakukannya.
Sekilas Aluv menoleh pada suaminya, entah penasaran atau merasa bingung dan takut menggoda suaminya sendiri, Aluv mencoba menoleh.
"Memangnya tidak ada baju tidur yang model lainnya kah?" tanya Aluv yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Tidak peduli dengan rasa malunya, yang terpenting bukan orang lain yang ada di hadapannya itu.
"Tidak ada, itu yang menyiapkan asisten rumah. Jadi, mana aku tahu." Jawabnya beralasan tanpa menatap wajah ayu istrinya.
"Ooh."
__ADS_1
Hanya itu Aluv bersuara.
Tidak ingin banyak tanya dan hanya akan kecewa, Aluv mengambil baju gantinya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Edwin yang seperti menang lotre, seakan dirinya dapat bernapas lega. Ditambah lagi otak kotornya semakin liar dan semakin menjadi. Tentu saja, dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emasnya.
Aluv yang merasa risih ketika sudah mengganti pakaian tidurnya yang cukup menerawang dan juga menggoda mata bagi siapa yang melihat.
Ragu untuk keluar, itu sudah pasti. Tapi, mau bagaimana lagi, Aluv tidak mempunyai cara lain selain untuk pasrah.
Dengan sangat hati-hati, Aluv keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang terlihat benar-benar sangat menggoda.
Edwin yang mendengar suara membuka pintu kamar mandi, ia langsung mendongak dan pandangannya lurus pada istrinya tanpa berkedip.
Tentu saja, jiwa yang menggebu karena korsleting otaknya yang kotor itu, Edwin menelan ludahnya kasar.
Aluv yang juga gugup, pelan-pelan jalan mendekati suaminya sambil menutupi bagian da*danya. Saat sudah berada di sebelah tempat tidur, aluv sangat hati-hati agar suami tidak dapat melihatnya. Meski kebenarannya, bah sekujur tub*uhnya sudah dinikmati oleh suaminya sendiri. Tetap saja, Aluv kembali merasa takut jika suaminya akan mengulanginya lagi.
Bukan tidak bisa menolak, Aluv sendiri terkadang merasa sangat membutuhkan sent*uhan dari lawan jenisnya karena hormon-nya yang sering berubah-ubah.
Begitu juga dengan Edwin, dirinya sama halnya seperti sang istri yang juga sangat menginginkan hal yang serupa, yakni sent*uhan dari lawan jenisnya dan juga dapat memu*askan has*ratnya.
__ADS_1
Aluv yang sudah duduk bersandar di sebelah suaminya, Edwin menggeser posisinya dan jarak diantara keduanya sudah sangat dekat. Cukup tinggal menoleh saja, Edwin sudah dapat menc*ium bi*bir manis milik istrinya yang sudah menjadi candu baginya.