Penutup Noda

Penutup Noda
Seperti mimpi


__ADS_3

Edwan yang mendengar temannya tengah berbicara lewat sambungan telpon, sesekali mencoba untuk mencernanya.


'Seriusan nih, malam ini Edwin mau menikah? apa aku tidak salah dengar?' batinnya seperti tidak percaya jika sahabatnya akan segera menikah.


Edwin yang masih merasa dongkol karena sebuah paksaan, ia langsung menghubungi sekretarisnya untuk menggantikan pekerjaannya.


Sedangkan Edwan sendiri masih menyimpan rasa penasarannya dan kembali menanyakan lagi, takutnya salah tanggap.


"Bro, serius nih malam ini kamu mau menikah? apa tidak ada waktu lainnya? maksudku besok pagi, sore atau lusa, begitu."


"Ya, entahlah Bro, aku sendiri tidak mengerti dengan jalan pikirnya Papaku." Jawab Edwin sambil meletakkan ponselnya.


Karena penasaran, Edwan kembali bertanya.


"Memangnya kamu ada masalah apa sih Bro? sampai-sampai menikah saja dengan cara dadakan seperti ini. Maaf, bukan maksudku untuk ikut campur dengan urusanmu. Tapi serius, aku benar-benar tidak ada niat apapun denganmu."


"Aku diminta untuk menikahi perempuan yang sedang hamil, hanya itu saja alasannya." Jawab Edwin yang akhirnya berterus terang pada sahabatnya.


Edwan terkejut mendengar jawaban yang aneh itu dari Edwin, teman sekaligus sahabat.


"Kamu diminta untuk menikahi perempuan yang sedang hamil? yang benar saja, kamu jangan bercanda."


"Siapa juga yang bercanda, aku serius. Aku diminta untuk mengganti posisi adikku, Erwan. Mendiang adikku sudah menghamili kekasihnya, dan aku lah yang harus menjadi penutup nodanya. Awalnya aku sudah menolak, tetapi ayahku lebih keras kepala dariku."


"Maaf ya Bro, aku tidak bisa bantu untuk menyelesaikan masalah mu ini. Hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, asal mulut kamu itu tidak ember saja. Ingat, hanya kamu yang tahu segalanya. Jadi, simpan rapat-rapat ucapanku tadi." Ucap Edwin yang tidak lupa memberi ancaman untuk sahabatnya.


"Tenang saja kalau sama aku mah, aku tidak akan membeberkan rahasia kamu ini. Ya sudah kalau begitu, aku mau pulang. Aku pun sama, pekerjaan ku sendiri numpuk." Jawab Edwan.


"Sudah tahu pekerjaan numpuk, malah kabur."


"Bukan begitu Bro, hari ini aku memang sengaja libur. Karena beberapa hari lagi aku sudah melakukan perjalanan ke Paris, ada misi yang brelum aku selesaikan."


"Kamu mah enak, bolak balik ke Paris terus."


"Enak tidak enak sih Bro, yang ada tuh aku bosan. Pokoknya jangan sampai lupa, besoknya malam kita kumpul di rumahku, ok."


"Ya, kalau ingat."


"Jangan memancing emosiku, sudah sana pergi."


"Ya, ya, ya, Bro." Jawab Edwan dan segera keluar dari ruang kerjanya.


Kini tinggallah Edwin yang sendirian dan tanpa membuang-buang waktunya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Setelah itu, dilanjutkan oleh sekretarisnya.


"Sekretaris Le, tolong gantikan pekerjaanku ini dengan sebaik mungkin. Jika kamu menemukan kendala, secepatnya hubungi aku."


"Baik, Bos." Jawabnya disertai anggukan.


"Bagus, aku pulang duluan." Jawabnya, lalu segera meninggalkan kantornya.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Edwin memilih untuk tidur. Berharap, ketika bangun sudah berada didalam kamarnya dan sebuah pernikahan hanyalah sebuah mimpi baginya. Tapi sayangnya, semua hanya halusinasi semata.


"Tuan, bangun. Kita sudah sampai di depan rumah, Tuan." Panggil Pak Supir membangunkan majikannya.


Edwin yang tersadar dari tidurnya, pelan-pelan membuka kedua matanya. Dilihat sekelilingnya tidak sesuai harapan, dirinya masih berada dalam mobil. Yang berarti, bahwa dirinya sedang tidak bermimpi, nyata dan nyata.


"Bukankah aku sedang tidur di kamar ya, Pak."


"Kita ini baru sampai, Tuan. Sedari tadi itu, Tuan Edwin tidur selama perjalanan pulang dari kantor." Jawab Pak Supir.


"Apa! jadi, aku sedang tidak bermimpi, begitu maksud Pak Udin?"


"Tuan ini bicara apa? malam ini, Tuan diminta oleh Tuan Topan untuk istirahat. Karena besok adalah hari pernikahan Tuan, itu yang benar."


"Ah ya, aku kira semua itu mimpi." Ucapnya lirih, tak lupa menepuk keningnya sendiri.


Pak Udin hanya menahan tawanya saat majikannya terlihat aneh.


Tidak lagi melemparkan pertanyaan, Edwin segera turun dari mobil dan masuk ke rumah.


Sampainya didalam rumah, tepatnya dibawah anak tangga, Edwin melepaskan sepatu dan kaos kaki sebelum menapaki anak tangga.


Dengan perasaan dongkol dan penuh kesal, Edwin langsung masuk ke kamarnya.


"Edwin sayang, tunggu Nak. Mama ada perlu denganmu, jangan masuk ke kamar dulu." Panggil sang ibu sambil berjalan mendekati putranya.

__ADS_1


__ADS_2