Penutup Noda

Penutup Noda
Masih gugup


__ADS_3

Aluv yang merasa gugup, sebisa mungkin untuk tetap tenang. Meski sebenarnya detak jantungnya mulai tidak karuan.


Edwin sendiri merasa tidak sabar untuk meminta sesuatu pada istrinya. Alih-alih, dirinya meraih selimut tebalnya dan menutupi anggota tubuhnya dan juga milik istrinya dalam satu selimut.


Dengan idenya yang cukup cemerlang, sambil menarik selimutnya dengan pelan, Edwin menoleh pada istrinya. Kedua matanya saling beradu pandang satu sama lain, detak jantung milik Aluv semakin berdegup sangat kencang.


Edwin yang merasakan detak jantung milik istrinya, hatinya bersorak gembira, lantaran dirinya telah berhasil menguasai istrinya.


Aluv yang serasa tubuhnya terkunci, dirinya semakin bingung harus berbuat apa. Satu sisi, dirinya sudah bersuami. Yang kedua, dirinya sendiri tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.


Justru, Aluv ikut terbuai oleh tatapan suaminys. Sama-sama normal, tentunya akan terhipnotis satu sama lainnya.


Edwin yang sudah tidak sabar ingin mengulanginya lagi, otak kotornya kembali bekerja dengan cepat. Bahkan, satu tangannya sudah aktif untuk memb*elai istrinya.


Tidak cukup hanya sampai disitu, Edwin mendaratkan ciu*mannya pada istrinya. Aluv sendiri menikmatinya dan otak kotornya ikut melanglang buana.


"Lakukan seperti kamu melakukannya didalam kantor." Bisik Edwin yang sudah tidak sabar dan ingin mendapatkan pemu*asan yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh istrinya.

__ADS_1


Aluv yang seperti terhipnotis, ia nurut dan melakukannya seperti yang diinginkan oleh suaminya.


Satu-persatu tidak ada sehelai benang yang tersisa di tubuh mereka berdua, benar-benar sangat polos. Tanpa pengakuan cinta, keduanya tengah menikmati ritual malamnya dengan panas.


Meski terasa ada yang kurang dengan ritual malamnya, Edwin dapat menyadarinya sendiri jika dirinya memiliki batasannya dan tidak mungkin untuk ingkar atas keputusan yang sudah ditentukannya.


Selesai duel rasa solo, Edwin dan Aluv masih berbalutkan selimut yang sama polosnya. Keduanya sama-sama terdiam lantaran tidak ada pengakuan cinta.


"Aku atau kamu yang akan mandi duluan, tapi sepertinya tidak baik untuk perempuan hamil sepertimu mandi di malam hari meskipun dengan air hangat sekalipun. Lebih baik kamu tidur saja, nanti kalau sudah pagi kamu bisa membersihkan diri." Ucap Edwin yang tanpa malu membuka selimutnya. Sedangkan Aluv sendiri langsung menutup kedua matanya karena malu.


Aluv yang merasa benar-benar malu, segera mengenakan pakaiannya karena dirinya merasa takut jika kepergok suaminya lantaran masih dengan kondisi yang sama.


Sedangkan Edwin yang sudah tidak lagi mendapatkan tekanan tinggi akibat has*rat yang tidak terpenuhi, kini dapat bernapas lega. Kapanpun dirinya menginginkannya, Edwin tidak pusing pusing bermain sendirian.


Selesai membersihkan diri, Edwin cepat-cepat keluar dari kamar mandi dan segera beristirahat.


Ketika sudah sama-sama berbaring di atas tempat tidur, Aluv dan Edwin menatap langit-langit kamar dengan jalan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Edwin pun menoleh pada istrinya, dan tak lupa menggeser posisinya agar lebih dekat lagi.


"Kenapa kamu belum juga tidur? apakah kamu merindukan seseorang?" tanya Edwin membuka suara.


Aluv yang dibuatnya kaget, ia segera menoleh.


"Tidak ada yang aku rindukan, semua sama." Jawab Aluv dan kembali mendongak keatas.


"Semua sama? maksudnya apa?"


Karena penasaran, Edwin kembali bertanya.


"Tidak apa-apa, sudahlah aku mau tidur. Katanya aku tidak boleh bergadang, kenapa memberiku pertanyaan? sudahlah, aku mau tidur." Jawab Aluv dan mengganti posisinya dengan membelakangi suaminya.


Edwin yang tidak ingin melihat istrinya bersedih, ia memeluknya seraya berisik.


"Tidurlah dalam pelukanku." Ucap Edwin berbisik.

__ADS_1


__ADS_2