Penutup Noda

Penutup Noda
Mertua Dengan Menantu


__ADS_3

Edwin masih saja tidak menyangka, jika perempuan yang akan menjadi istrinya itu adalah perempuan yang sudah ia tolong sebelumnya.


Begitu juga dengan Aluv, dunianya seakan selebar daun kelor. Dirinya pun benar-benar tidak menyangka-nya juga, jika dirinya akan menikah dengan lelaki yang sudah menyelamatkan nyawanya serta janin yang ada didalam kandungannya.


"Sudah ya, acaranya akan dimulai." Ucap seorang yang mengisi acara pernikahan.


Edwin dan Aluv mengangguk dan sama pasrah-nya. Keduanya sama sekali tidak ada penolakan apapun setelah mengetahui siapa orangnya yang akan menjadi suami ataupun istrinya.


Acara pun segera dimulai, semua para tamu undangan dan juga para saksi tidak ada yang ikut bicara. Hening. Suasana berubah menjadi sepi.


Kalimat demi kalimat telah terucap dari mulut Edwin sendiri, dengan suara tegas dan cukup keras, Edwin mampu mengucapkan kalimat sakral.


Sungguh tidak pernah terbesit di benaknya jika akan menikah kedua kalinya, tentu saja lebih menyakitkan dari pada di jodohkan.


Entah apa motif dari ayahnya sendiri, hingga rela mengorbankan putranya untuk menikah dengan keputusan dari orang tuanya.


Semua bernapas lega ketika Edwin mampu mengucapkan kalimat sakral tanpa adanya hambatan apapun.


Berbeda dengan Aluv, justru dirinya tak mampu untuk mendongakkan pandangannya. Dirinya lebih memilih untuk menunduk, malu itu sudah pasti.


Setelah acara pengucapan kalimat sakral telah selesai, semua para saksi dan para tamu undangan satu persatu mengucapkan Selamat untuk kedua mempelai pengantin. Kemudian, baru melanjutkan untuk makan bersama.

__ADS_1


Tapi sebelumnya, keluarga yang paling utama untuk memberi ucapan selamat pada sepasang pengantin.


Pertama, Tuan Topan yang lebih dulu memberi ucapan selamat untuk anak dan menantunya.


"Selamat untuk kalian berdua, semoga bahagia. Maafkan Papa jika pernikahan ini terburu-buru, ini demi kebaikan kalian berdua." Ucap Tuan Topan.


Edwin hanya mengangguk dan tanpa menjawabnya, begitulah sikap Edwin sekali marah dan tidak ada ampun kepada siapapun orangnya dan sekalipun itu orang tuanya sendiri.


Meski selalu nurut, Edwin tetap pada pendiriannya itu.


Aluv yang bingung, dirinya hanya bisa diam dan tanpa bersuara. Lebih lagi suaminya tidak mempedulikan ayahnya, semakin bingung dan juga takut, pikir Aluv.


"Selamat berbahagia untuk kalian berdua, semoga kalian dilimpahkan keberkahan dan juga kelanggengan dalam berumah tangga. Maafkan Mama, jika pernikahan kalian ini secara mendadak. Percayalah, doa Mama akan selalu menyertai kalian berdua. Selamat berbahagia ya, Nak." Ucap ibunya Edwin memberi ucapan selamat.


"Ya Ma, terimakasih atas doanya." Jawab Edwin dengan singkat.


"Terimakasih banyak atas doanya, Tante." Ucap Aluv yang bingung yang harus memanggilnya siapa.


Aluv merasa malu, dirinya serasa tidak pantas memanggil ibu mertuanya dengan sebutan Ibu maupun Mama.


"Kok Tante, panggil saja Mama. Karena sekarang kamu sudah menjadi menantu Mama." Ucap Ibu mertua, Aluv menatap Ibu mertuanya dengan malu.

__ADS_1


"Ya, Ma." Jawab Aluv yang tidak tahu harus berkata apa.


Kemudian, sekarang giliran Tuan Gentaram dan istrinya yang mengucapkan selamat kepada anak dan menantu lelakinya.


Seketika, Tuan Gentaram benar-benar dikejutkan saat mengetahui siapa menantunya itu.


"Rupanya kamu lelaki yang sombong itu." Ucap Tuan Gentaram terang-terangan dengan menantunya.


"Kalau saya tidak sombong, saya tidak akan di kenal oleh publik, Bapak Mertua." Jawab Edwin dengan berani.


"Awas saja ya, kalau kamu tidak mau menjaga putriku dengan baik." Ucap Tuan Gentaram.


"Bukannya memberi selamat kepada menantunya, ini Bapak Mertua sudah memberi ancaman kepadaku." Jawab Edwin tanpa peduli statusnya sebagai menantu.


"Aku tidak akan memberi ucapan selamat untukmu, sebelum kamu memperlakukan baik kepada putriku." Ucap Tuan Gentaram tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Pa, jangan begitu. Seharusnya Papa itu bersyukur, karena putri kita akhirnya ada yang bertanggung jawab." Sambung sang istri.


"Bapak mertua, dengarkan baik-baik yang dikatakan Mama mertua saya. Memang benar adanya. Seharusnya Bapak Mertua mengucapkan banyak terimakasih kepada menantunya, bukan mengancam saya." Ucap Edwin dengan percaya dirinya.


Bahkan, Edwin tidak peduli dengan ucapannya sendiri yang kedengaran sangat konyol. Dengan ayah mertuanya sendiri saja bak kakak beradik yang saling membenarkan ucapannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2