
Ketika Aluv sudah berada dalam kamar untuk membersihkan diri, Aya mertua, adik ipar dan suami telah berada di ruang makan.
"Tumben, aroma sup-nya menggoda." Gumam Edwin sambil membenarkan posisi duduknya.
"Ya ih, sepertinya menggoda selera makan deh Kak." Timpal Kenaya yang sudah tidak sabar untuk menikmatinya.
"Ya nih, nasi gorengnya juga kelihatannya menggoda." Sambung Tuan Topan ikut memuji, padahal belum ada satupun yang mencicipinya kecuali ibunda Holena.
"Sabar dulu kalian, kita tunggu Aluv datang." Ucap sang ibu.
"Memangnya Kak Aluv belum bangun ya, Ma?" tanya Kenaya.
"Sudah dari tadi Kakak ipar-mu bangun, Nay." Jawab sang ibu.
Saat itu pun, Aluv tengah menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang makan.
"Selamat pagi, Pa, Ma, Kak Edwin, dan Kenaya. Maaf, sudah membuat menunggu." Sapa Aluv yang masih berdiri didekat suaminya.
"Ya, tidak apa-apa. Silakan duduk, kita akan sarapan pagi bersama." Jawab ibu mertua tak lupa senyum ramah dengan menantunya.
"Ya, Nak. Silakan duduk, kita sarapan bareng." Sambung sang ayah mertua.
"Ya Kak, kita sarapan bareng." Timpal Kenaya yang juga ikutan bersikap ramah dengan kakak iparnya.
Edwin yang sudah tanggap, ia langsung menarik kursinya agar sang istri lebih mudah untuk duduk.
"Duduklah, kita akan sarapan pagi bareng." Ucap Edwin setelah menarik kursi untuk istrinya.
"Terimakasih banyak, Kak." Jawab Aluv dan duduk disebelah suaminya.
Meski dingin dan terlihat kaku, Aluv merasa semua tengah memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan, dirinya seperti berada di dalam lingkungan keluarga sendiri.
"Jangan malu-malu ya Nak, kita sudah menjadi keluarga. Jadi, kamu tidak perlu canggung ataupun enggan dan yang lainnya." Ucap sang ibu mertua sebelum menikmati sarapan paginya.
"Ya, Ma." Jawab Aluv dengan malu.
"Sudah dong Ma, kalau ngobrol terus, kapan kita sarapan paginya." Timpal Tuan Topan yang sebenarnya sudah tidak sabar untuk menikmati sarapan paginya yang disuguhkan dengan nasi goreng dan sup ayam.
__ADS_1
Tidak hanya Tuan Topan saja, sebenarnya kedua anaknya juga sudah tidak sabar untuk menikmati sarapan paginya yang tergoda dengan aroma masakan.
"Ya ya ya, Pa. Ya sudah kalau begitu, ayo kita nikmati sarapan paginya." Jawab ibunda Holena.
Aluv yang merasa memasak semuanya, dirinya lumayan cukup tegang. Takut, jika masakannya tidak ada yang pas di lidah ayah mertua, ibu mertua, adik ipar, dan tentunya suami sendiri.
Aluv sama sekali belum berani mencicipinya sebelum yang lain telah menikmati dan berkomentar tentang masakannya itu.
Satu persatu mulai menyuapi mulutnya masing-masing, termasuk Edwin yang baru saja menyuapi dirinya sendiri.
Semua benar-benar tidak menyangka dengan apa yang tengah dirasakan atas makanan yang baru saja dikunyah dan juga dengan sup yang baru saja di seruput.
"Tumben, masakan Bi Inah enak. Biasanya juga hambar." Ucap Edwin membuka suara lebih dulu setelah merasakan masakan istrinya sendiri.
Tanpa sadar, Edwin telah memujinya. Sedangkan Aluv tetap bersikap biasa-biasa saja.
'Ih, ya loh. Masakan Bi Inah enak banget, sup ayamnya tidak seperti biasanya. Benar-benar sangat menggugah selera, benar deh." Timpal Kenaya yang tidak kalah untuk memuji masakan kakak iparnya.
"Ya ya, benar-benar enak masakan Bi Inah." Sang ayah pun ikut memuji masakan menantunya.
Sedangkan Bunda Holena tersenyum ketika suami dan kedua anaknya tengah memuji masakan menantunya, benar-benar bisa memberi suprise di pagi hari.
"Bi Inah, cepat lah kesini." Panggil Edwin sambil menikmati nasi gorengnya.
Bi Inah yang merasa namanya dipanggil, segera menuju ke sumber suara.
"Ya, Tuan." Jawabnya setelah sudah berada di tidak jauh dari Edwin.
"Tumben masakan Bi Inah kali ini enak dan tidak seperti biasanya. Bi Inah belajar dari mana? apakah di dapur ada pelayan baru?" tanya Edwin ingin tahu.
"Maaf, Tuan. Di dapur tidak ada pelayan baru. Yang menyiapkan sarapan pagi juga bukan Bibi." Jawab Bi Inah dengan jujur.
"Tidak ada pelayan baru, bukan Bibi yang menyiapkan sarapan pagi? terus, siapa dong?" tanya Edwin lagi karena masih penasaran dan ingin mengetahui siapa orangnya yang sudah menyiapkan sarapan pagi dengan masakan yang benar-benar menggugah selera.
"Kalau bukan Bibi, terus siapa? Mama ya?" tanya Edwin lagi dan kini melemparkan pertanyaan pada sang ibu.
Bunda Holena tersenyum mendengarkan putranya memberi pertanyaan pada Beliau.
__ADS_1
"Bi Inah, coba beritahu pada Edwin." Ucap Bunda Holena mengarahkan pandangannya pada Bi Inah.
Sedangkan Aluv sendiri memilih menunduk, takutnya sang suami akan hilang selera ketika mengetahui siapa orangnya yang masak.
"Cepetan Bi, beritahu aku." Ucap Edwin yang sudah tidak sabar.
"Ya nih, Kenaya juga sudah tidak sabar ingin tahu siapa yang menyiapkan sarapan pagi." Timpal Kenaya yang juga penasaran.
Sambil menikmati sarapan pagi, semua menunggu jawaban dari Bi Inah.
"Yang membuat sarapan pagi sebenarnya itu, Nona Aluv istrinya Tuan Edwin sendiri." Ucap Bi Inah dengan jujur.
Semua ayah dan kedua anaknya sama kagetnya.
"Minumlah, hati-hati jika makan." Ucap Aluv sambil menyodorkan satu gelas air minum.
Edwin langsung menerimanya karena tersedak.
"Biasa aja sih masakannya, tadi aku hanya ingin bikin heboh saja." Ucap Edwin dengan terang-terangan dan melanjutkan sarapan paginya hingga nambah dan tandas sampai tidak tersisa di piringnya.
Semua yang ada di ruang makan hanya menahan tawa saat melihat Edwin yang suka bersikap gengsi, tetapi tidak untuk Aluv, dirinya hanya diam tanpa berucap.
"Cie ... Kak Edwin, bilang aja kalau ketagihan. Tuh, buktinya tadi nambah porsinya." Ledek Kenaya sambil memainkan satu alisnya.
"Berisik, aku itu lapar. Jadi, tentu saja tidak bisa membedakan mana masakan enak dan masakan tidak enak." Ucap Edwin beralasan.
"Bi, tolong siapkan sup-nya untuk aku bawa ke kantor. Hari ini aku lagi malas untuk pergi ke kantin ataupun memesan makanan. Karena aku pulangnya jam nanggung." Ucapnya lagi meminta untuk dibawakan bekal walaupun hanya sup saja.
"Baik, Tuan."
'Dih! katanya biasa saja, tapi ujungnya juga dijadikan bekal.' Batin Aluv sambil menghabiskan sarapan paginya.
Setelah itu, Edwin segera kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kantor.
Sedangkan Tuan Topan beserta anak dan istri masih duduk di ruang makan bersama Aluv.
"Kamu tidak perlu sedih, Edwin memang begitu sikapnya. Dia paling malu untuk mengakui kebenaran, tetapi sebenarnya dia tertarik dengan masakan kamu. Buktinya suami kamu menambah nasi gorengnya dan juga menghabiskan satu mangkok sup-nya. Bahkan, Edwin meminta disiapkan sup-nya untuk dijadikan bekal di kantor. Jadi, kamu tidak perlu minder." Ucap ibu mertua untuk meyakinkan menantunya.
__ADS_1
"Ya Nak, Edwin memang begitu sikapnya. Tapi percayalah, suatu saat Edwin akan menyadarinya." Sambung ayah mertua yang juga ikut bicara.
"Ya Ka, memang begitu sikap gengsinya Kak Edwin. Kenaya yakin, jika Kak Edwin bakal jatuh cinta dengan Kak Aluv. Dari masakan turun ke hati, begitulah kira-kiranya." Timpal Kenaya ikut meyakinkan kakak iparnya.