Penutup Noda

Penutup Noda
Kedatangan seseorang


__ADS_3

Tidak lagi berada di rumah sakit, Aluv sudah berada di rumah kediaman keluarga Galeyandra.


Dikamar suami, Aluv dan bayinya tengah tidur dengan pulas. Edwin yang juga baru saja pulang dari kantor di siang hari, dilihatnya bayi yang menggemaskan tengah tidur disebelah istrinya.


Diperhatikannya dengan seksama, Edwin tersenyum melihat bayi yang tengah tidur dengan pulas dan juga terlihat sangat lucu. Namun, tiba-tiba senyumnya berubah menjadi kecut.


'Cih! kenapa juga aku cemburu dengan bocah bayi ini.' Batin Edwin dan melepaskan jaket serta baju kemejanya maupun celana panjangnya dan menyisakan celana kolor dan juga kaos oblong berwarna putih.


Kemudian, Edwin masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya serta hajat lainnya. Setelah itu, Edwin tiduran disebelah sang istri sekaligus memeluknya.


Aluv yang merasa ada yang memeluk tubuhnya, ia langsung membuka matanya dengan sempurna.


"Kak Edwin, sudah pulang?" tanya Aluv yang begitu terkejut dengan kehadiran suaminya yang sudah berada disebelahnya.


"Belum, ini hantunya yang pulang." Jawab Edwin sambil mengeratkan pelukannya.


"Aw! sakit, sayang." Pekik Edwin saat merasakan cubitan dari sang istri pada bagian pinggangnya.


"Salah sendiri, tadi bilangnya hantu. Ya sudah, aku cubit aja pinggang Kakak. Kalau berteriak dan kesakitan, berarti suamiku. Tetapi kalau diam dan menatap tajam yang sangat menakutkan, perlu diwaspadai." Kata Aluv.

__ADS_1


Bukannya melepaskan pelukannya agar sang istri leluasa dapat bernapas, justru Edwin semakin jahil.


"Lepaskan, Kak. Sesak nih buat bernapas." Pinta sang istri dan berusaha untuk berlepas diri dari suaminya yang semakin berulah.


"Mau sampai kapan, kamu akan terus memanggilku dengan sebutan Kakak. Aku ini suami kamu, berhak mendapatkan kata mesra darimu."


Aluv hanya nyengir pasta gigi saat mendengarkan permintaan dari sang suami.


"Oh ya, memangnya kantor sudah pada pulang? kok Kak Edwin sudah pulang. Berarti Naya juga sudah pulang dong."


"Belum, nggak tahu kenapa aku pingin pulang aja. Badanku sedikit tidak enakan, jadi aku paksa untuk pulang."


"Nggak panas, kok. Ini mah alasan Kak Edwin aja deh, ya, 'kan? ngaku aja."


Edwin yang ketahuan beralasan, akhirnya tersenyum juga.


"Kan, kan, udah bisa ditebak." Tuduh Aluv yang mengetahui jika suaminya tengah bermain drama.


Sialnya, saat mencium istrinya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Sialan, pakai ganggu orang aja rupanya. Aku mau lihat dulu siapa yang ketuk pintu." Ucap Edwin yang merasa dongkol.


Aluv hanya menahan tawanya saat suaminya merasa sial dan harus menghentikan aktivitasnya bersama otak kotornya.


"Bi Inah, ada apa, Bi?"


"Itu, Tuan." Jawab Bi Inah sambil menunjuk ke bawah, maksudnya di ruang tamu.


"Ada siapa sih, Bi?"


"Itu, ada Dokter Viktor dan kembarannya Tuan sendiri." Jawab Bi Inah, Edwin hanya mengernyit.


"Kembaran-ku, Bi? yang benar saja. Memangnya sejak kapan kalau aku punya kembaran, Bi? aneh-aneh saja Bi Inah ini."


"Itu loh, Tuan. Namanya Tuan Edwan." Kata Bi Inah mengingatkan.


"Edwan, bilang dong Bi, dari tadi. Ya sudah kalau begitu, Bi Inah cepetan buatkan minuman untuk mereka berdua. Katakan padanya, bentar lagi aku akan segera turun." Ucap Edwin, Bi Inah mengangguk dan bergegas pergi dari hadapan Bosnya.


Begitu juga dengan Edwin, ia segera menghampiri istrinya untuk berpamitan. Mau bagaimanapun, tetap saja harus pamitan.

__ADS_1


__ADS_2