Penutup Noda

Penutup Noda
Cemburu total


__ADS_3

Setelah turun dari mobil, Edwin menggandeng tangan istrinya sampai didalam rumah. Meski jarak usia diantara keduanya cukup jauh, tetap terlihat serasi.


Seketika, Aluv maupun Nuza sama-sama terkejut saat keduanya saling bertemu. Edwin yang juga sudah merasa cemburu ketika Nuza memperhatikan istrinya, semakin erat genggamannya yang seolah tidak akan pernah melepaskan perempuan yang berstatus istrinya.


"Maaf sebelumnya, kami berdua mau langsung ke kamar. Tuan Daka, Tante Enja, Nuza, permisi." Ucap Edwin yang langsung berpamitan.


"Tante, Paman, permisi." Ucap Aluv ikut berpamitan dengan perasaan malu, lantaran dirinya tengah menolak perjodohan.


Ditambah lagi ada Nuza, semakin tidak enak hati ketika dirinya bertemu. Pasalnya, Nuza begitu mengharapkan dirinya, tetapi karena tidak ada rasa cinta pada Aluv, dengan terpaksa menolaknya.


Edwin yang tidak ingin istrinya bertemu dengan Nuza, secepatnya mengajak masuk ke kamar.


Sedangkan Nuza sedari tadi pandangannya tertuju pada Aluv hingga bayangannya tak terlihat lagi.


Istri Tuan Daka yang mengerti akan perasaan putranya, perasaannya ikut bersedih harus melihat perempuan yang dicintainya telah dimiliki oleh lelaki lain.


Naya yang sedari memperhatikan Nuza, ada rasa curiga dengan tatapannya.


'Kenapa dia memperhatikan Kak Aluv sampai segitunya? ah ya, Kak Aluv kan, tadi menyapa. Jangan-jangan keduanya pernah menjalin hubungan, cinta monyet kek, cinta ABG kek, atau cinta yang lainnya. Tapi, kan pacaran sama Kak Erwan. Kenapa aku jadi penasaran dengannya? cih.' Batin Naya penasaran dan menerka-nerka.


Sudah berada dalam kamar, Edwin menatap wajah istrinya dengan lekat. Kamu istriku, selamanya akan menjadi istriku. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu untuk dekat dengan Nuza, apalagi mengobrol dengannya.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu sangat dekat dengannya. Tetapi aku tidak akan mengizinkan kamu dekat lagi dengannya, meski kamu bilang tidak ada rasa cinta sekalipun pada Nuza. Tetap saja, aku harus waspada." Ucap Edwin dengan segala ancaman.


Karena apa? karena Edwin tidak ingin mengulangi kesalahan dimasa kelamnya yang mana dirinya telah mendapatkan penghianatan dari istri sendiri, yakni berawal mempercayai setiap kata yang terucap dari mulutnya.


"Untuk apa aku harus berpaling, jika perhatian dari Kak Edwin saja sudah lebih dari segalanya. Dapat menerima keadaanku yang kotor ini saja, aku sudah sangat bahagia." Jawab Aluv meyakinkan suaminya, agar percaya dengan apa yang diucapkan.


Edwin langsung memeluk istrinya.


"Aku tidak peduli dengan keadaan kamu yang bagaimana. Karena aku hanya ingin bukti kesetiaan darimu, bukan sekedar dalam pengucapan saja." Ucap Edwin sambil memeluk istrinya.


Kemudian, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya yang ayu. Tak lupa tersenyum bahagia dan mendaratkan sebuah ciu*man mesra pada istrinya.


Aluv membalasnya hingga keduanya saling menikmatinya. Seketika, Aluv tersadar dan teringat dengan Radien, putra sulungnya.


"Radien, aku belum bertemu dengannya." Ucap Aluv dan menatap wajah suaminya yang sama halnya tengah menatap dirinya.


"Maaf, aku hanya khawatir dengan Radien."


"Tidak apa-apa, Radien juga butuh perhatian darimu. Tapi, kamu kan sedang hamil, jangan keseringan menggendongnya. Bukannya aku ingin menjauhkan kamu dengannya, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan-mu." Ucap Edwin mengingatkan.


Meski ada rasa cemburu, tapi itu sangat tidak masuk akal atas kecemburuan-nya dengan keponakan sendiri yang tidak lain anak dari istrinya.

__ADS_1


"Ya, aku mengerti. Nanti aku bisa meminta tolong pada Mbak Mala untuk menggendong Radien." Jawabnya dengan berat hati.


Mau bagaimanapun, rasanya begitu tidak tega untuk mengurangi perhatian pada putra sulungnya. Tetapi, Aluv harus bersikap adil. Dirinya tidak boleh egois, sebisa mungkin dirinya harus memperhatikan yang ada dalam kandungannya.


"Kamu di kamar saja, biar aku saja yang mengambil Radien dari Mbak Mala." Ucap Edwin yang tidak ingin istrinya kembali bertemu dengan Nuza. Apapun alasannya, rasa cemburunya lebih besar dari yang sudah sudah.


Aluv yang tidak ingin membuat masalah, lebih memilih untuk mengalah daripada harus berdebat.


Setidaknya Aluv mendapatkan perhatian penuh dari suaminya. Meski ada rasa sedikit kecewa karena sikap suaminya yang menurutnya sangat berlebihan, Aluv berusaha untuk bisa menerimanya dengan hati yang lapang.


Sedangkan di ruang tamu Nuza tampak tak tenang dan gelisah, pikirannya masih tertuju pada Aluv, perempuan yang sudah memgisi hari-harinya meski Aluv sendiri menjalani hubungan dengan mendiang Erwan.


Keduanya saling bertukar pendapat seperti kakak-beradik, dan tidak membuat sosok Nuza menyerah begitu saja.


Karena waktu hampir mendekati larut malam, Tuan Daka berpamitan untuk pulang.


"Keputusan kita sudah bulat, kalau begitu saya pamit pulang. Jika sudah menemukan hari dan tanggal yang baik, kabari kami." Ucap Tuan Daka berpamitan.


"Ya, tenang saja. Kalau kami sudah mendapatkan hari dan tanggal yang baik, segera saya hubungi." Jawab Tuan Galeyandra.


Naya yang mendengar keputusan kedua belah pihak, rasanya begitu berat untuk menerima perjodohan.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit pulang." Ucap Tuan Daka pamitan pulang.


__ADS_2