
Setelah sampai di depan pintu ruang kerja Edwin, Naya langsung membuka pintunya dan diikuti Aluv dari belakang.
"Kakak."
"Kak Edwin."
Dengan reflek.
"Aw!" pekik Sora kesakitan akibat terjatuh ke lantai saat mendapatkan dorongan dari mantan suaminya yang cukup kuat, hingga Sora terjatuh karena Edwin sudah mendorongnya.
"Da*sar! perempuan mura*han. Kamu pikir, aku akan tergoda denganmu, cih. Aku sudah mempunyai istri yang jauh lebih baik dari kamu, paham." Ucap Edwin dengan suara yang cukup keras dan bercampur emosi.
Saat itu juga, Edwin langsung mendekati istrinya. Sedangkan Sora sendiri perlahan mencoba bangkit untuk berdiri sambil menahan rasa sakit, akibat perbuatan mantan suaminya yang sudah mendorongnya cukup kuat.
Sora langsung melirik ke arah perempuan yang baru saja datang dengan Kenaya, yakni istri baru mantan suaminya.
Aluv dan Naya yang baru saja datang, keduanya hanya menyaksikannya serta menjadi saksi diantara Edwin dan Sora.
"Sekarang juga, Kau segera keluar dari ruangan-ku ini. Aku tidak sudi untuk bertemu denganmu, paham."
Bukannya segera keluar dari ruangan mantan suaminya, justru dengan beraninya si Sora berjalan mendekatinya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, aku paham betul dengan sifat kamu yang suka mengerjai seseorang. Kamu sengaja kan, ingin membuatku cemburu? sudah dong, jangan bermain drama denganku." Ucap Sora dengan berani, pastinya dengan percaya diri bahwa dirinya masih bisa mendapatkan mantan suaminya untuk kembali.
Saat itu juga, Edwin langsung menghadap pada istrinya yang. Tanpa pikir panjang, Edwin langsung men*cium bibir milik istrinya.
Alangkah terkejutnya Aluv ketika sang suami telah menci*umnya dengan begitu lembut dan terus melakukannya dengan mata yang terpejam.
Tidak hanya Aluv saja yang terkejut, tetapi Sora dan Naya ikutan tidak percaya jika apa yang dilihatnya itulah adalah benar adanya yang dilakukan Edwin.
'Sial, kenapa bibirnya terasa manis seperti ini, bagaimana dengan yang lain? ah! otakku sudah tidak waras.' Batin Edwin sambil menikmati ciu*mannya sendiri.
Aluv yang tidak mempunyai perlawanan, akhirnya mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Tidak peduli dengan adik iparnya, karena dirinya sendiri tidak mampu untuk melakukan perlawanan. Mau tidak mau, Aluv membalasnya.
Tidak cukup hanya sekedar ciu*man, Edwin mulai menci*um bagian leher jenjang milik istrinya yang terlihat begitu mulus dan semakin lebih menggoda.
Naya yang melihat mantan kakak iparnya dulu, menahan tawanya ketika Sora menyaksikan langsung mantan suaminya sendiri.
Apa yang dilihat oleh Sora tidak seberapa sakit dengan apa yang pernah dilihat oleh mantan suaminya dulu yang tengah mendapati sang istri sedang melakukan hubu*ngan badan dengan lelaki lain.
"Brengsek! kamu Edwin!" teriak Sora dengan sangat keras saat otaknya terasa mendidih ketika melihat suaminya yang tengah bermain mesra dengan istri barunya.
Saat itu juga, Edwin langsung menghentikan aktivitasnya. Kemudian mengarahkan pandangannya pada mantan istrinya. Sedangkan tangannya, tetap menggandeng tangan istrinya.
__ADS_1
"Aku bren*gsek kata kamu? bren*gsek-ku dimana? ayo tunjukkan padaku. Dia ini istri sah ku, dan aku bebas melakukan apapun dengannya, paham. Sekarang juga, kau segera keluar dari ruanganku ini. Karena kantorku tidak menerima perempuan kotor sepertimu, camkan itu." Ucap Edwin dengan tatapan penuh kebencian terhadap mantan istrinya.
Sora yang sudah terpojok, dirinya hanya bisa mengepal kuat pada kedua tangannya. Tetapi, dirinya tidak mampu untuk melayangkan sebuah pukulan untuk mantan suaminya maupun istri barunya yang menjadi pesaingnya.
Karena terasa gondok dan gagal dengan rencananya, Sora segera keluar dan pergi dari ruangan kerja milik mantan suaminya.
Setelah itu, Aluv langsung menutup kancing bajunya kembali. Malu dengan adik iparnya itu sudah pasti, tapi mau bagaimana lagi, Aluv tidak bisa melakukan perlawanan dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Kalian berdua ngapain datang ke kantor?" tanya Edwin tertuju pada sang adik.
"Ini, ada berkas Kak Edwin yang tertinggal." Jawab Aluv sambil menyodorkan berkasnya.
"Ah ya, tadi aku lupa membawanya." Ucap Edwin ketika teringat dengan berkasnya yang tertinggal di ruang kerjanya.
"Ya sudah kalau begitu, kita berdua mau langsung pulang." Ucap Aluv berpamitan.
"Jangan pulang dulu,"
"Kenapa Kak?" tanya Naya ikut menimpali, sedangkan Aluv hanya diam.
"Bukan kamu, tetapi Kakak iparmu. Kalau kamu yang mau pulang, ya sudah pulang saja sana."
__ADS_1
"Apa, aku pulang sendirian? aku tidak mau."
Saat itu juga, Edwin menatap tajam pada adiknya sendiri seraya memberi ancaman serta kode untuknya. Naya yang mengerti maksud dari kakaknya sendiri, Naya tersenyum pesta gigi dan mengangguk.