
Tidak ada lagi yang dikhawatirkan, Tuan Topan maupun Tuan Gentaram memilih untuk pulang dan meninggalkan istrinya masing-masing setelah cukup lama berada di rumah sakit. Begitu juga Kenaya, dirinya masih ada tugas dari ayahnya dan juga memilih untuk pulang lantaran sudah waktunya makan siang.
Saat ini, tinggallah Aluv ditemani sang suami bersama ibunya sendiri dan ibu mertuanya. Karena sudah waktunya untuk makan siang, Edwin melayani istrinya begitu telaten dari suapan pertama hingga tak ada lagi sisa makanan di piringnya.
Selesai makan siang, giliran Edwin yang menyuapi dirinya sendiri dengan lahap dan juga ibunya maupun ibu mertuanya juga ikut makan siang bersama di dalam ruangan tersebut. Habis itu, istri Tuan Gentaram duduk didekat cucunya.
Berbeda dengan Bunda Holena, duduk dekat menantunya bersama putranya.
"Nak Aluv, kalau kamu ingin istirahat, istirahat saja. Kamu tidak perlu cemas, juga tidak sendirian." Ucap Ibunda Holena, sedangkan ibunya sendiri tengah duduk di dekat cucu pertamanya.
"Yang dikatakan Mama ada benarnya, lebih baik kamu istirahat saja. Ada aku yang akan selalu menemani kamu. Jadi, kamu tak perlu khawatir." Timpal Edwin ikut menyahut.
"Beneran tidak apa-apa?" tanya Aluv untuk memastikan.
"Ya, Nak. Kamu istirahat saja, biar Mama yang akan menjaga putramu, cucu Mama. Lihatlah, putramu sendiri tidur dengan pulsa. Jadi, kamu bisa tidur untuk istirahat." Timpal ibunya ikut menyuruh putrinya beristirahat dengan cukup.
__ADS_1
Edwin mengangguk, kemudian Aluv membalas dengan anggukan juga.
"Baiklah, aku istirahat ya, Kak."
"Ya, istirahatlah. Nanti biar aku yang gantiin Mama menjaga si kecil." Ucap Edwin dengan anggukan.
Aluv yang menyadari jika anak yang dilahirkannya adalah bukan darah daging istrinya, Aluv tidak mempermasalahkan suaminya mau memanggil dengan sebutan apapun tentang anak yang baru dilahirkan.
Karena merasa kantuk dan ingin beristirahat, Aluv akhirnya istirahat juga. Sebelumnya, Edwin kembali mencium kening milik istrinya tanpa malu ada ibunya maupun ibu mertuanya.
"Mama istirahat saja, biar aku yang gantian jaga." Ucap Edwin tanpa basa-basi dan langsung ke intinya.
"Apa tidak sebaiknya kamu yang istirahat? kamu juga harus fit. Lagian cuma menemani saja, tidak apa-apa." Jawab ibu mertua berusaha untuk tidak merepotkan menantunya, lantaran cucunya bukanlah darah daging menantunya, pikir istri dari Tuan Gentaram.
"Tidak, Ma. Mau bagaimanapun, aku sudah menganggapnya anak. Jadi, aku ikut bertanggung jawab. Yang dikatakan Mama Holena itu benar. Meski bukan darah daging-ku, tetapi bayi ini bagian keluarga Galeyandra, keponakanku sendiri." Ucap Edwin berusaha untuk meyakinkan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Nak Edwin. Kamu sudah mau menerima cucu Mama sebagai putramu, semoga kebahagiaan akan kamu dapatkan tanpa putus." Kata ibu mertua merasa lega, karena mau menerima cucunya dengan lapang.
Edwin mengangguk, dan menggantikan ibu mertuanya.
Karena tidak ada yang perlu dikerjakan, istri Tuan Gentaram duduk didekat besannya.
"Saya sangat beruntung mempunyai menantu seperti Nak Edwin." Ucap istri Tuan Gentaram memujinya.
"Mamanya Aluv jangan berlebihan untuk memuji putra kami, justru kami takut jika Edwin akan melakukan kesalahan. Jujur, suaminya Aluv pernah gagal dalam berumah tangga. Tentunya banyak komentar misterius mengenai putra kami, karena ketidaksempurnaannya yang tidak bisa memiliki keturunan. Jadi, kami yang seharusnya mengatakan sangat beruntung memiliki menantu seperti putrimu, Aluv Gentaram Praja." Jawab Ibunda Holena.
"Tidak masalah, jugaan sudah hadir malaikat kecil ditengah-tengah mereka berdua. Doakan saja, semoga keduanya dapat menerima satu sama lainnya tanpa harus meninggikan derajat mereka masing-masing." Ucap istri Tuan Gentaram.
"Semoga saja, Aluv tetap setia dengan pernikahannya. Begitu juga dengan putra saya, tetap menjadi suami yang bijaksana." Kata Bunda Holena dengan lirih.
Takut, jika putranya dapat menangkap pembicaraan bersama besannya.
__ADS_1