Penutup Noda

Penutup Noda
Takut menolak


__ADS_3

Karena tidak ingin membuat Tuan Daka menunggu lama, Edwin segera kembali ke ruang kerjanya.


Sampainya di ruang kerjanya, Edwin mendapati sang istri tengah tidur di sofa dan ia pun tersenyum melihatnya.


Pelan-pelan, Edwin duduk disebelah istrinya agar tidak terbangun. Entah karena kecanduan, entah karena apa, Edwin mendekatkan diri ke wajah Aluv.


"Kak Edwin."


Dengan gelagapan, Aluv segera membenarkan posisi duduknya. Gugup, tentu saja. Bahkan, Aluv tidak lupa membenarkan pakaiannya karena takut akan terulang kembali.


"Tidak perlu ditutupi, aku sudah melihat semuanya. Hari ini aku diajak untuk makan bareng di restoran, dan aku akan mengajakmu." Ucap Edwin sekaligus mengajak istrinya.


"Memangnya ada acara apa? jangan bilang, kalau Kak Edwin mau mengerjai-ku."


Bukannya menjawab ajakan suaminya, justru Aluv balik bertanya.


"Tidak ada acara apa-apa, hanya kerja sama saja dan tidak lebih. Tuan Daka memintaku untuk makan bersama di restoran miliknya, dan aku sendiri tidak bisa menolaknya. Bahkan, aku diminta untuk mengajakmu. Selain membawa keberuntungan, Tuan Daka adalah bagian orang sukses dari keluarga sebelumnya."


'Tuan Daka, apakah benar ayahnya Nuza? tidak, itu tidak mungkin.' Batin Aluv yang tiba-tiba melamun serta mencoba untuk menebak seseorang yang disebutkan oleh suaminya.


"Kamu kenapa?" tanya Edwin sambil mengamati ekspresi istrinya yang terlihat aneh.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sepertinya aku tidak bisa ikut makan bersama." Jawab Aluv yang tiba-tiba menolak ajakan suaminya.


"Kenapa? seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, ayo jawab."


Karena mencurigai istrinya, Edwin kembali bertanya karena penasaran.


"Serius, tidak ada apa-apa dengan alasan aku yang tidak bisa ikut makan bersama di restoran. Aku hanya masih kenyang saja, aku serius." Jawab Aluv berusaha untuk tetap tenang dan meyakinkan suaminya.


"Tidak ada alasan apapun, kamu tetap ikut denganku. Kalau kamu menolak, jangan salahkan aku yang akan meminta mantan istriku untuk menemaniku." Ucap Edwin sengaja memberi ancaman untuk istrinya.


Aluv yang merasa tidak rela jika suaminya bersama mantan istrinya, mau tidak mau akhirnya ikut dengannya.


"Ya deh, aku ikut." Jawab Aluv dengan pasrah.


'Jadi penasaran, ada hubungan apa dengan Tuan Daka, sampai-sampai menolak ajakan-ku.' Batin Edwin mencurigai.


"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Edwin pada istrinya. Kemudian, keduanya segera keluar dari ruangan tersebut.


Selama dalam perjalanan menuju restoran, Aluv mulai gelisah lantaran memikirkan pertemuannya bersama sang istri dengan Tuan Daka.


Edwin yang sedari tadi tidak bersuara, tak lepas untuk memperhatikan istrinya yang terlihat gusar.

__ADS_1


'Ada apa dengan dirinya? kenapa terlihat gusar seperti itu? apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui? atau ... ada masalah yang lainnya.' Batin Edwin sambil memperhatikan istrinya dengan rasa penasaran.


Dengan berani, Edwin langsung memegangi tangan milik istrinya. Tidak lupa untuk mengenggam-nya dengan erat.


"Kamu kenapa? kelihatannya gusar begitu."


Dengan berani, Edwin bertanya pada istrinya.


"Tit-tidak, maksudku tidak kenapa-kenapa. Aku tidak bohong, serius. Kenapa Kak Edwin memperhatikan aku begitu? aku tidak ada masalah apapun, aku sedang tidak berbohong." Jawab Aluv sedikit gugup.


"Oh, syukurlah kalau kamu tidak kenapa-kenapa. Sebentar lagi kita akan sampai, jangan gugup." Ucap Edwin.


"Ya, Kak. Kalau boleh tahu, kita mau ke restoran induk nya atau ke cabangnya?"


"Restoran induknya."


"Oh,"


'Bagaimana ini, kalau aku bertemu dengan Tuan Daka? apa yang harus aku jawab. Semoga saja gagal pertemuannya.' Batin Aluv sedikit cemas.


"Kok Oh, kenapa?"

__ADS_1


Aluv menggeleng dan berusaha untuk tersenyum. Tidak peduli baginya jika sang suami akan menganggapnya sangat konyol. Yang terpenting baginya bisa mengelak dari kecurigaan suaminya.


__ADS_2