
Tidak ada lagi masalah dengan rumah tangga Edwin dan Aluv, semua baik-baik saja.
Tidak terasa, waktu pun telah dilewatinya sudah lebih beberapa bulan. Tidak menyangka juga , Radien sudah tumbuh dengan sehat. Sedangkan Tuan Topan dan istrinya tengah membicarakan keputusan yang akan diambil sejauh-jauh hari.
"Naya," panggil Bunda Holena pada putrinya yang baru saja pulang dari kantor bersama sang kakak.
"Ya, Ma." Sahut Naya sambil berjalan mendekat kedua orang tuanya. Sedangkan Edwin yang merasa tidak dipanggil, segera masuk ke kamarnya karena perasaan yang sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya.
Meski setiap hari bertemu, tidak membuat soso Edwin merasa bosan. Justru, ingin rasanya terus-terusan dekat dengan istrinya.
Berbeda dengan Naya, seakan tengah mendapati persidangan.
Naya duduk didekat ibunya, dengan posisi menghadap sang ayah. Seperti menjadi terdakwa, pikirnya.
"Ada apaan sih, Ma?" tanya Naya dengan penasaran.
Bunda Holena tersenyum, dan meraih tangan milik putrinya.
"Pa, mendingan Papa saja yang bicara." Ucap Bunda Holena pada suaminya.
"Naya, lihat Papa kamu ini." Kata Tuan Topan dengan tatapan yang begitu serius.
Tentunya, membuat pikirannya Naya terus mencari jawabannya.
"Ada apa sih, Pa? jangan membuat Naya penasaran dong. Naya tidak melakukan kesalahan apapun kan, Ma? di kantor maupun di rumah."
Kini, Naya bertanya pada ibunya. Ingin memastikan jika dirinya tidak melakukan kesalahan apapun yang di rumah maupun di luar rumah sekalipun.
"Tidak, Nak. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, di rumah dan juga di kantor." Jawab sang ibu meyakinkan putrinya.
__ADS_1
"Terus, kesalahan Naya apa, Ma? Papa jangan ngerjain Naya, ya? titik." Kata Naya bertanya tanya.
"Kamu sudah waktunya untuk menikah, dan Papa sudah siapkan calon suami untuk kamu." Ucap sang ayah tanpa ada embel-embel ucapan yang lainnya, tentu saja pada pokok inti pembahasan.
Naya membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Kemudian, ia mengarahkan pandangannya pada ibunya.
"Papa seriusan?"
Naya yang benar-benar tidak percaya, dirinya kembali bertanya untuk memastikan jawaban dari sang ayah maupun ibunya.
Tuan Topan mengangguk, bersuara saja pun, tidak. Begitu juga dengan Bunda Holena, juga tidak ikut bicara, melainkan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Pa, Naya masih pingin menikmati masa muda dulu." Ucap Naya beralasan, padahal usianya sendiri sudah cukup matang untuk menikah.
"Usia kamu tidak lagi ABG lagi, Nay. Kamu itu sudah cukup untuk menikah, Lagi pula sudah dewasa. Apanya yang masih ingin menikmati masa muda, Nay?"
"Tapi kan, Pa, Nay belum siap saja. Memangnya tidak ada pilihan lain, selain perjodohan? Nay cari sendiri aja ya, Pa."
Kata Tuan Topan tetap pada pendiriannya, tidak goyah dan tidak bisa di perintah.
Naya kebingungan untuk mencari idenya, ditambah lagi tidak bisa untuk merayu kedua krang tuanya, sekalipun harus merengek.
'Kak Edwin saja harus menjadi penutup noda tidak bisa membantah, apalagi aku.' Batin Naya dengan frustrasi karena tidak bisa memberi sebuah alasan pada kedua orang tuanya.
"Pa, apa jadinya jika Naya menikah dengan lelaki yang tidak dicintai? nanti rumah tangga berantakan, bagaimana? Papa tidak kasihan nih, jika anak Papa ini rumah tangganya berantakan?"
"Kamu bisa tanya sama kakak ipar kamu, atau sekalian bertanya dengan kakak kamu sendiri." Kata sang ayah yang tetap tidak bisa untuk goyah dalam menentukan sebuah pilihan.
"Setiap anak kan, berbeda-beda, Pa. Ya kan, Ma?"
__ADS_1
"Ya, tapi kalau orang tua kamu mempunyai pilihan yang baik, kenapa tidak?"
"Yah! Mama sama saja kek Papa. Gak ada pembelaan untuk Naya." Ucap Naya dengan menunjukkan muka cemberut nya.
"Bukannya tidak ada pembelaan, tapi pilihan Papa menurut Mama, baik." Kata Bunda Holena.
"Ya sudah, lebih baik sekarang ini kamu segera bersiap-siap. Papa sudah ada janji, sebentar lagi tamu Papa akan datang ke rumah."
Seketika, Naya terkejut dibuatnya. Benar-benar merasa jengkel dengan keputusan orang tuanya.
"Pa, memangnya tidak ada hari esok?" tanya Naya berharap waktunya akan mundurkan, pikirnya.
Setidaknya terus merengek apa salahnya, begitulah yang diharapkan oleh sosok Naya.
"Tidak ada waktu esok, janji tetaplah janji. Sekarang, cepetan kamu bersihkan badanmu itu. Jangan lupa, pakai baju yang sopan." Kata sang ayah dan menyuruh putrinya untuk segera bersiap-siap.
Naya yang tidak bisa berbuat apa-apa, mau tidak mau tetap menerima keputusan dari ayahnya.
Sambil mendengus kesal, Naya menapaki anak tangga dengan cara di hentak-hentakan.
Tuan Topan dan istrinya yang sudah mengetahui sifat dan karakter putrinya, sama-sama menggelengkan kepalanya karena tingkah lucu pada Naya.
Lain lagi di dalam kamar satunya, Edwin tengah memangku putra sambungnya sambil mengajaknya mengobrol. Meski kenyatannya, bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri.
Aluv benar-benar bahagia melihat suaminya yang pada akhirnya mau menerima kehadiran anak dari istrinya. Sampai-sampai, Radien tak mau lepas dari ayah sambungnya.
Aluv yang tidak ingin mengabaikan momen penting antara suami dan anak laki-lakinya.
Tanpa sepengetahuan Edwin, Aluv dapat merekam kebersamaan antara anak dan suami. Tawa pada keduanya benar-benar memecahkan keheningan di sore hari.
__ADS_1
Saat itu juga, Aluv tiba-tiba kepalanya merasa pusing. Keseimbangannya hampir saja membuatnya terjatuh.