Penutup Noda

Penutup Noda
Tuduhan


__ADS_3

Dokter Viktor yang merasa penasaran, mencoba untuk memastikan dan bertanya pada sahabatnya.


"Jadi, kamu beneran sudah menikah lagi?" tanya Dokter Viktor untuk memastikannya lagi.


"Terserah kamu saja mau menuduhku apa, lagian juga percuma bicara sama kalian berdua, tetap aja akan sia-sia." Jawab Edwin deng ekspresi datar.


"Berarti manjur dong, berobat kemana kamu. Bukankah media mengatakan jika kamu itu tidak bisa mempunyai keturunan? sepertinya aku harus belajar lewat Dokter spesialis mu itu."


Seketika, Edwin menatap tajam pada Dokter Viktor.


"Sudahlah, aku masih banyak urusan. Apa tujuan kamu memanggilku untuk datang ke ruangan mu ini, Dokter Elsa." Ucap Edwin yang sengaja mengalihkan obrolannya bersama Dokter Viktor.


"Tidak ada tujuan apapun, aku hanya ingin mengingatkan saja. Jaga kesehatan istri kamu, dan jangan dibiarkan untuk melakukan pekerjaan berat. Hanya itu saja, untuk vitamin dan lainnya kamu tinggal menebusnya dan nanti kamu tinggal menerimanya."

__ADS_1


"Hanya itu?" tanya Edwin yang memang tidak mengerti soal perempuan hamil.


"Ya, hanya itu saja. Ah ya, hampir saja aku lupa. Selamat ya, atas kehamilan istri kamu. Aku yakin sebentar lagi media akan meliput berita tentang kehamilan istri kamu. Dan tentu saja, istri pertama mu akan menyesalinya." Ucap Dokter Viktor ikut menimpali.


"Sok tahu, kamu itu." Jawab Edwin dengan ketus.


"Biarin, bukankah kamu itu orang yang cukup terkenal di media manapun? hem." Ucap Dokter Viktor ikut menimpali.


"Aku pulang, bisa-bisa aku jadi gila karena pertanyaan kalian berdua." Kata Edwin dan segera bergegas pergi meninggalkan ruangan Dokter Elsa.


"Nih, untukmu. Sekarang juga telpon suamimu atau keluarga kamu untuk menjemputmu. Aku tidak sudi mengantarkan kamu pulang, cukup sampai disini aku menolong kamu." Ucap Edwin dan balik badan untuk pergi dari ruangan tersebut.


"Aku tidak mau sendirian di sini, setidaknya tunggu keluargaku datang. Setelah itu, kamu boleh pergi." Pintanya dengan memohon.

__ADS_1


"Enak saja, aku tidak mau. Aku ada urusan lain, dan harus segera pulang. Ini saja kamu sudah memberiku kesialan, aku tidak mau mendapatkan kesialan yang ketiga kalinya, kau paham."


"Hanya sebentar saja, serius. Jika lama menunggu, boleh pulang. Tapi, setidaknya tunggu hingga keluargaku datang." Ucapnya yang terus memohon dan penuh harap.


"Ya, aku akan menunggunya di luar. Awas saja kalau kamu menjebak ku, tahanan menantimu." Ancam Edwin dengan tatapannya yang tajam, tapi tidak membuat sosok perempuan yang ada dihadapannya itu takut.


"Ya, tenang saja. Aku janji, aku tidak akan melakukan jebakan apapun terhadap mu." Jawabnya merasa beruntung.


Karena malas berada didalam ruangan pasien, Edwin segera keluar dan duduk sendirian sambil bersandar.


Tidak lama kemudian, akhirnya datanglah suami istri yang sudah berdiri di depan pintu rawat pasien. Lalu, keduanya segera masuk kedalam untuk menemui putrinya.


"Aluvia, kamu kenapa Nak? bisa-bisanya kamu berada di rumah sakit ini. Bagaimana dengan keadaan kamu, baik-baik saja, 'kan? Mama sangat khawatir, apalagi dengan kondisi kamu ini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok Ma, Aluv baik-baik saja. Untung saja ada yang menolong Aluv. Jika tidak, Aluv tidak tahu dengan nasib calon bayi yang ada dalam perut ini." Jawab Aluvia sambil mengusap perutnya dan tertunduk sedih."


"Oh ya Ma, orang yang menolong Aluv sudah pulang ya?" tanya Aluv sambil celingukan.


__ADS_2