Penutup Noda

Penutup Noda
Tidak di sangka.


__ADS_3

Di rumah kediaman keluarga Galeyandra, Naya tengah dibuatnya gelisah. Ditambah dengan waktu yang tidak lama lagi, tentu saja membuat pikiran Naya semakin tidak karuan.


Berulang kali Naya terus menghubungi teman dekatnya untuk dijadikan penolong, sayangnya tidak ada satupun yang mau mengangkat panggilan telepon darinya.


Frustrasi dan juga kesal, itu sudah pasti. Lebihnya lagi harus menerima perjodohan, semakin malas untuk menerima keputusan dari orang tuanya.


Bunda Holena yang sudah mempercayakan asisten rumah dan baby sitternya untuk menjaga Radien, cucu pertamanya.


"Nay, buka pintunya, sayang." Panggil Bunda Holena penuh harap sambil menggedor pintunya dengan hati-hati.


Naya yang mendengar pintunya seperti ada yang menggedor, membuatnya terasa malas untuk merespon maupun membukakan pintu.


"Nay, ini Mama. Sayang, ayolah buka pintunya. Mama ingin berbicara sesuatu denganmu." Ucap Bunda Holena berusaha untuk membujuk putrinya.


Naya yang tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih panjang lagi, akhirnya memilih untuk membukakan pintu kamarnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Naya tidak bersemangat.


"Sesuatu yang ingin disampaikan. Mama masuk, ya?"


"Ya, Ma. Silakan, boleh, kok." Kata Naya dan memutar balikkan badannya menuju tempat tidurnya, Naya duduk di tepi ranjang.


"Memangnya apa yang ingin Mama sampaikan?" tanya Naya yang sudah tidak sabar, serta ingin tahu.


Bunda Holena tersenyum dan ikutan duduk disebelah ibunya. Kemudian, meraih tangan putrinya serta menggenggamnya.


"Bagaimana dengan perasaan kamu yang sekarang, Nak?' tanya sang ibu dengan rasa ingin tahu.


"Tidak tahu, Ma." Jawab Naya dengan tatapan bersedih.


"Papa kamu melakukan perjodohan, takut jika kamu akan salah memilih calon suami. Bukan Papa tidak sayang, hanya saja ingin ada sosok yang jelas orangnya seperti apa, baik dan buruknya." Kata Bunda Holena.


"Tapi, Ma ... seseorang itu tidak bisa dinilai dari luarnya saja. Bisa saja, lelaki yang akan dijodohkan untuk Naya itu, hanya sebungkus kedoknya saja. Papa mana tahu, Ma? kalau Naya yang jalani duluan alias berpacaran, Naya pasti mengetahuinya." Jawab Naya dan tertunduk sedih.


"Terus, memangnya kamu sudah punya kekasih? dari dulu aja kamu tidak pernah menunjukkan siapa pacar kamu." Kata sang ibu, Naya sendiri tersenyum saat mendengar pertanyaan dari ibunya soal siapa pacarnya.


"Ya sih, Ma. Tapi ..."


"Tidak usah banyak tapi, lebih baik kamu terima perjodohan dari Papa. Nanti kamu bisa menilainya setelah bertemu, anaknya tampan dan pekerja keras. Mana yakin jika kamu akan menyukainya." Ucap sang ibu meyakinkan putranya.


"Terserah Mama dan Papa deh, Naya nurut saja. Kalau Naya tidak suka, Mama bantuin Naya untuk menolak perjodohan dari Papa ya, Ma." Jawab Naya sekaligus memintanya untuk memberi pembelaan.


Bunda Holena kembali tersenyum pada putrinya.


"Mama tidak janji, karena Mama juga jatuh hati memiliki menantu pilihan Papa." Kata Bunda Holena meledek.


"Ih, Mama."

__ADS_1


Dengan bibirnya Naya yang dibuat mengerucut, Bunda Holena tersenyum melihat ekspresi putrinya yang lucu itu.


"Permisi, Nyonya, Nona."


"Ya, Bi." Sahut Bunda Holena.


"Sudah ada tamu yang menunggu di ruang tamu, Nyonya. Tuan Topan meminta saya untuk memanggil Nyonya dan Nona untuk turun." Ucap Bi Inah.


"Baiklah, saya akan segera turun. Jangan lupa hidangkan minuman dan cemilan yang pantas ya, Bi."


"Baik, Nyonya."


Setelah itu, Bunda Holena langsung bangkit dari posisi duduknya.


"Sekarang juga, kamu segera bersiap-siap. Waktu kamu tidak banyak, kasihan mereka jika harus menunggu." Ucap Bunda Holena.


Dengan malas dan juga terpaksa, akhirnya Naya hanya bisa nurut dan bergegas untuk bersiap-siap.


Tidak suka berdandan ataupun bersolek, Naya memilih berpenampilan biasa-biasa saja. Bukan berarti tidak bisa, Naya tidak ingin lelaki yang akan dijodohkan dengannya akan mudah jatuh hati dengannya, pikir Naya dengan segala percaya dirinya.


Tidak ada lagi yang tertinggal, Bunda Holena segera mengajak putrinya untuk turun.


Sedangkan di ruang tamu, terdengar suara obrolan. Lelaki yang akan di jodohkan dengan Naya hanya bisa duduk tenang dan kalem.


Berbeda dengan Naya, pikirannya mulai tidak tenang memikirkan sesuatu mengenai perjodohan dirinya dengan lelaki pilihan orang tuanya.


"Kamu tidak perlu takut, mereka semua keluarga yang baik-baik. Bahkan, kamu akan terkejut melihatnya."


"Mama ih, jangan nakut-nakutin Naya kenapa sih, Ma? Naya gugup nih."


"Kenapa mesti gugup? biasa aja." kata Bunda Holena yang terus menggoda putrinya.


Di ruang tamu, nampaknya tengah serius membicarakan perjodohan. Lelaki yang akan dijodohkan dengan Naya, hanya menjadi pendengar setia.


Tak disengaja, pandangannya tertuju pada Naya yang baru saja menuruni anak tangga dan berjalan mendekat.


Sayangnya, wajah ayunya tertutup oleh tingginya sang ibu karena Naya memilih untuk menunduk dan bersembunyi dibalik punggung ibunya.


"Selamat Malam. Maaf, jika kami sudah membuat kalian menunggu." Ucap Bunda Holena dengan senyuman yang ramah, Naya sendiri malu-malu dan masih dengan posisinya.


"Tidak apa-apa, kami juga baru saja datang." Jawabnya tak lupa tersenyum ramah.


"Nay, duduk. Tidak baik bersembunyi di belakang Mama." Perintah Tuan Topan pada putrinya.


Naya mengangguk dan ikut duduk di sebelah ibunya, tak lupa masih menggenggam tangannya untuk menghindari grogi serta gugup.


Karena malu, Naya sama sekali tak mendongak. Karena apa? Naya merasa takut dengan sosok lelaki yang tidak dikenalinya itu.

__ADS_1


"Nay, jangan menunduk. Lihatlah calon suami kamu, dan juga calon mertua kamu. Tidak sopan, jika kamu terus menunduk." Bisik Bunda Holena untuk mengingatkan putrinya.


Lelaki yang ada didepannya pun, sudah tidak sabar untuk melihat sosok perempuan yang akan dijadikan istrinya.


Saat itu juga, akhirnya Naya menuruti permintaan ibunya.


Alangkah terkejutnya saat keduanya saling bertemu satu sama lain, meski baru sekali, tetapi ingatan oleh keduanya benar-benar masih tersimpan dalam memorinya masing-masing.


Naya maupun lelaki yang akan menjadi suaminya, keduanya sama-sama membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Kamu!"


" Kamu!"


Keduanya saling menunjuk satu sama lain dengan ekspresinya masing-masing.


"Jadi, kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Tuan Topan penasaran.


"Tidak, Pa. Aku tidak mengenalinya sama sekali, dia ini yang menabrak Naya dan menyalahkan Naya." Jawab Naya mencari alasan, meski kenyataannya dirinyalah yang menabrak lelaki pilihan orang tuanya.


"Bohong besar sekali, kamu ini. Jelas-jelas kamu yang menabrak, kenapa aku yang harus disalahin? jangan fitnah, kamu." Ucapnya tetap membela diri.


"Dih! memang benar kok, ya. Tuh kan, sudah kelihatan kalau kamu yang fitnah." Sahut Naya tetap mencari alasan.


"Kenapa kamu masih menuduhku? jangan ngada-ngada." Ucapnya yang tetap tidak mau disalahkan.


"Sudah, sudah, jangan berantem. Sepertinya kalian berdua sangat cocok, sama-sama membela diri. Sekarang juga, kalian berkenalan dulu. Nuza, ulurkan tanganmu dan memperkenalkan diri dengan calon istrimu." Ucap sang ayah yang akhirnya memberi perintah pada putranya.


"Tapi, Pa."


"Tidak ada tapi tapian, cepat perkenalkan diri kamu dengan sopan." Perintah sang ayah.


Karena tidak ingin membuat orang tuanya malu, Nuza menurutinya.


"Perkenalkan, namaku Nuza. Panggil saja sesukamu, asal itu masih namaku." Kata Nuza memperkenalkan diri.


Naya hanya mengernyit saat mendengar kata-kata memanggil nama dengan sesukanya.


'Ngaco ini orang, namanya aja satu kata, memangnya harus panggil apa lagi? benar-benar aneh.' Batin Naya sambil menatap kesal pada lelaki yang akan menjadi calon suaminya.


"Kenaya, panggil saja Naya." Jawab Naya dan menjabat tangan Nuza.


"Sepertinya kalian berdua butuh pendekatan, kalian bisa mengobrol santai di belakang rumah." Ucap Tuan Topan.


"Benar sekali, itu ide yang sangat cocok untuk pendekatan." Timpal Tuan Daka ikut mendukung.


"Naya, ajak calon suami kamu ke belakang rumah." Perintah ibunya, lagi-lagi Naya hanya menarik napasnya panjang dan langsung bangkit dari posisi duduknya dengan perasaan dongkol.

__ADS_1


__ADS_2