Penutup Noda

Penutup Noda
Meyakinkan


__ADS_3

Suasana ada yang tengah bahagia, ada juga yang sedang terasa panas karena harus menyaksikannya.


Kalau bukan Alisa, siapa lagi? hanya dia seorang yang hatinya terbakar oleh api cemburu.


Edwin yang sudah menghabiskan sarapan paginya, ia segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


"Edwin," panggil Tuan Topan sambil mengunyah makanan.


"Ya, Pa." Sahut Edwin saat hendak berdiri dari posisi duduknya.


"Ajak Kenaya ke kantor, dia harus belajar." Kata sang ayah berpesan.


"Baik, Pa." Jawab Edwin.


"Pa, Kenaya belum siap." Ucap Kenaya ikut angkat bicara.


"Mau sampai kapan kamu akan siap? usia kamu tidak lagi muda, Nay. Kamu harus belajar mandiri dan juga bekerja keras. Memangnya kamu bisa menjamin bahwa suami kamu akan selamanya sukses? sekarang juga, cepat kamu bersiap-siap." Jawab sang ayah tetap pada keputusan Beliau.


"Tapi, Pa ... Nay benar-benar belum siap." Kata Nay berusaha untuk tetap pada keinginannya.


"Tidak ada tapi tapian, dan juga tidak ada alasan apapun darimu." Ucap Tuan Topan tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Ya deh, ya. Nay akan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor." Jawab Nay dengan pasrah.


Tidak ingin mendapatkan hukuman dari orang tuanya, Naya bergegas masuk ke kamarnya.


Begitu juga dengan Aluv, ia menyusul suaminya ke kamar.


Kini, tinggal Tua Topan bersama istrinya dan Alisa yang masih berada di ruang makan.


Karena seperti berada di dalam oven, akhirnya Alisa memutuskan diri untuk angkat kaki dari rumah yang membuatnya terasa terbakar.


"Paman, Tante." Panggil Alisa dengan yakin atas keputusannya.


"Alisa mau pamit pulang ke rumah Oma, Tante." Jawab Alisa yang akhirnya berterus terang.


"Kamu beneran mau pulang? kenapa?" tanya Ibunda Holena penasaran.


"Tidak apa-apa, Tante. Alisa pingin tinggal bareng Oma, kebetulan Mama dan Papa mau pulang dalam waktu dekat ini." Jawab Alisa.


"Mau pulang? kamu seriusan?" tanya Tuan Topan memastikan.


"Ya, Paman. Kata Papa, ada pertemuan penting dengan rekan kerjanya. Tidak cuma itu saja, Papa dan Mama sudah lama tidak pulang, tentunya sangat merindukan Omma." Jawab Alisa meyakinkan.

__ADS_1


"Apa karena Edwin sudah menikah? jadi, kamu kecewa dengan kami."


"Tidak, Tante. Mungkin saja kita memang tidak berjodoh, dan Alisa tidak mempermasalahkannya kok, Tante." Jawab Alisa beralasan, meski kenyataannya sangat kecewa.


"Maafkan kami ya, Nak Alisa. Sebenarnya Paman Topan mau memberi kabar pernikahan Edwin ketika sampai di Paris. Tetapi kenyataannya, kamu datang. Jadi, maafkan kami." Ucap Ibunda Holena meminta maaf.


"Tidak apa-apa kok, Tante. Alisa dapat mengerti. Kalau begitu, Alisa mau pamitan langsung sama Naya."


"Ya, silakan." Kata Ibunda Holena yang merasa tidak enak hati.


Meski perjodohan untuk putranya dengan Alisa pernah ditolak karena statusnya yang menduda, tetap saja merasa tidak enak hati.


Ketika Alisa sudah bangkit dari posisi duduknya dan sudah berada dikamar Naya, tinggallah Tuan Topan bersama sang istri.


"Pa, bagaimana ini? Mama takut jika kedua orang tua Alisa akan kecewa ketika putrinya gagal untuk mendapatkan Edwin?"


"Kenapa Mama mesti takut? mungkin jodoh Edwin memang Aluv, mana kita tahu? cukup doakan yang terbaik untuk anak kita serta menantu kita untuk tetap bertahan dengan pernikahannya serta menjadi keluarga yang bahagia." Jawab Tuan Topan dengan yakin.


"Ya sih, Pa. Karena Mama hanya takut saja, jika orang tua Alisa akan marah."


"Tidak, percayalah sama Papa." Jawab Tuan Topan meyakinkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2