
Pagi yang cerah, tetapi tidak secerah perjalanan hidupnya. Aluv yang tidak mempunyai kesibukan, ia lebih memilih untuk menyibukkan diri di dapur bersama asisten rumah.
"Selamat pagi, Bi." Sapa Aluv dengan senyum yang ramah.
"Pagi juga, Nona." Jawabnya dan balik menyapa.
"Perkenalkan, nama saya Aluvia, Bi. Biasanya orang-orang memanggil saya itu, Aluv. Bibi boleh panggil saya sesukanya Bibi, dan saya tidak melarangnya. Mau itu Aluv, Via, Uvi, dan lainnya, saya tidak keberatan. Asalkan yang dijadikan nama panggilan itu, masih mencakup nama saya, Bi." Ucap Aluv memperkenalkan diri dan tak lupa mengulurkan tangannya.
"Nama yang sangat bagus dan juga secantik yang punya. Perkenalkan juga nama Bibi, Inah Hesti, Non. Tetapi, semua orang memanggil saya dengan panggilan Inah." Jawab Bi Inah dan balik memperkenalkan diri.
Aluv tersenyum bahagia saat dirinya seperti menemukan teman baru, tidak peduli baginya dengan status yang dimiliki oleh Bi Inah.
Bagi Aluv, berteman tidak harus dengan yang muda dan status sosialnya.
"Bi, bolehkah saya bertanya?" tanya Aluv sebelum melakukan sesuatu di dapur.
"Tentu saja, Nona. Silakan, jika Nona ingin bertanya." Jawabnya.
"Kalau boleh tahu, biasanya Kak Edwin sarapan pagi dengan apa ya, Bi?" tanya Aluv ingin tahu.
"Nasi goreng di campur udang, Nona." Jawabnya berterus terang.
"Semuanya suka kan, Bi?"
Aluv kembali bertanya karena takut ada yang alergi udang, pikirnya.
"Nona Kenaya tidak menyukai nasi goreng, Nona. Tetapi sup ayam, sup iga, dan lainnya, yang jelas tidak untuk nasi. Sedangkan Tuan dan Nyonya tidak pilih-pilih, masakan apapun akan diterima." Jawabnya dan memberi tahu selera makan untuk majikannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya mau menyiapkan sarapan pagi untuk mereka." Ucap Kenaya dengan senyum manisnya.
"Jangan, Nona. Biarkan Bibi saja yang melakukan pekerjaan ini. Kalau Tuan dan Nyonya melihat, bisa-bisa saya dipecat." Ucapnya yang tidak ingin mendapatkan masalah.
"Tapi Bi, saya merasa jenuh jika tidak melakukan sesuatu. Jadi, biarkan saja saya ikut menyiapkan sarapan pagi bersama Bibi." Jawab Aluv yang tetap membujuk.
"Maaf, Nona. Bukannya Bibi melarangnya, tapi Nona sedang hamil. Kalau terjadi sesuatu pada Nona, Bibi yang akan mendapatkan masalah." Ucapnya yang berusaha untuk melarang istri Tuannya, agar tidak menambah masalah, pikirnya.
"Cuman pagi hari saja kok, Bi. Saya ingin membuat sarapan pagi untuk suami dan yang lainnya, intinya untuk suami saya, Bi." Jawab Aluv yang terus memaksa.
"Tapi Non, Bibi takut."
"Bibi tidak perlu takut, saya yang akan bertanggung jawab."
"Baiklah, Nona. Tapi, jangan salahkan Bibi, jika Tuan Edwin marah, dan juga Tuan Topan maupun Nyonya." Ucapnya dengan pasrah, baginya percuma jika terus melarangnya.
Dengan telaten, Aluv membuat sarapan pagi. Cukup lama berkutat di dapur, akhirnya Aluv mampu menyelesaikan kesibukannya di dapur.
"Coba di cicip ya, Bi. Takutnya ada yang kurang pas di lidah, soalnya saya tidak begitu paham dengan selera di rumah ini. Yang saya takutkan, di rumah ini tidak ada yang suka asin, atau sebaliknya. Begitu juga dengan rasa nasi gorengnya, saya takut ada yang kurang juga." Ucap Aluv.
"Baik Nona, saya akan mencicip-nya." Jawabnya.
Kemudian, Bi Inah mencicipi masakan Aluv.
"Wah, masakan Nona sangat enak. Bibi yakin, jika Tuan Edwin bakal ketagihan dengan masakan Nona. Rasanya sangat pas di lidah." Ucap Bi Inah memuji masakan istri majikannya.
"Bibi sedang tidak berbohong, 'kan? takutnya masakan saya tidak enak, Bi."
__ADS_1
"Kata siapa tidak enak, ini sangat enak. Tidak hanya Tuan Edwin saja yang suka, tetapi semuanya." Puji Bi Inah, Aluv tersenyum bahagia mendengarkannya.
Saat itu juga, alangkah terkejutnya, ibu mertua mendapati menantunya tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan yang ditemani asisten rumahnya.
"Nak Aluv, kamu sedang apa?" tanya ibu mertua sambil berjalan menuju meja makan.
"Ini Ma, Aluv membuat nasi goreng kesukaan Kak Edwin." Jawab Aluv dan tersenyum ramah.
"Tidak cuma membuat nasi goreng saja, Nyonya. Tetapi memasak sup ayam kesukaan Nona Kenaya." Sambung asisten rumah.
"Bi Inah serius?" tanya Beliau dan menoleh pada menantunya.
Aluv yang merasa malu, dirinya hanya mampu menggigit bibir bawahnya.
"Ya, Nyonya. Rasanya sangat menggoda, sepertinya Nona Kenaya akan ketagihan dengan masakan Nona Aluv." Jawab Bi Inah berterus terang dan tidak lupa untuk memuji istri majikannya.
"Jadi, kamu bisa masak? wah ... pasti suami kamu akan ketagihan dengan masakan kamu. Edwin itu sebenarnya lebih suka makan di rumah daripada makan diluar. Bukan karena takut boros, suami kamu lebih suka kebersamaan. Sayangnya, dulu si Edwin jarang mendapatkan perhatian penuh oleh istrinya. Jadi, mau tidak mau dirinya selalu makan di luar." Ucap ibu mertua.
"Mama tidak perlu berlebihan untuk memuji Aluv, karena Aluv sudah terbiasa menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga." Jawab Aluv yang tidak suka mendapatkan pujian.
Takut, akan menjadi bahan tertawaan dan juga bisa membuatnya menjadi besar kepala.
'Andai saja Erwan masih hidup, pasti hidupnya sangat beruntung karena mempunyai istri seperti Aluv. Tapi, rupanya mereka berdua tidak berjodoh. Semoga saja, Edwin akan segera jatuh cinta dan hidup bahagia bersama Aluv.' Batinnya yang tiba-tiba teringat dengan mendiang putranya.
"Ma, Aluv tinggal dulu ya. Badan Aluv terasa sangat lengket, sekalian mau membersihkan badan juga. Takutnya bau badan Aluv bisa menjadi pencemaran bau asem, Ma." Ucap Aluv berpamitan, karena dirinya merasa risih dengan badannya sendiri.
"Ya, silakan. Setelah itu, kamu segera kembali." Jawab ibu mertua dan tersenyum.
__ADS_1