
Di kediaman keluarga Galeyandra, Edwin dan Aluv baru saja sampai. Keduanya tidak mendapati siapapun yang berada di dalam rumah, yang ada hanyalah asisten rumah dan pelayan lainnya.
Tanpa bersuara sepatah katapun, Aluv langsung menapaki anak tangga menuju kamarnya. Begitu juga dengan Edwin, capek badan dan capek pikiran. Tidak ingin pikirannya bertambah penat, ia bergegas masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Saat berada didalam kamar, Aluv langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berharap, apa yang sudah dilewatinya dapat dilupakan. Tetap saja, dirinya kembali teringat dengan keakrabannya bersama Nuza.
Aluv yang dibutakan oleh cinta, sampai-sampai dirinya sulit untuk mengendalikannya. Menyesal, itu sudah pasti. Lelaki yang tidak pernah menolak perjodohan, kini harus diabaikan segala kebaikannya.
"Kak Kemal, Mama, Papa, Maafkan Aluv. Karena kebodohan-ku, sekarang aku harus menerima akibatnya. Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan menentang kalian." Gumam Aluv penuh penyesalan.
Pasalnya, dirinya tidak bisa menjamin untuk memberi kebahagiaan yang sempurna untuk anaknya nanti ketika lahir, Aluv terus memikirkannya.
Air mata yang terus mengalir dengan derasnya bersama penyesalan, semua seakan tiada guna lagi. Hidupnya seakan menjadi berantakan, kebahagiaan yang dinantikan menjadi nyata, kini seperti mimpi buruk dan tidak bisa ia dapatkan. Hanya sebuah penyesalan dan trauma yang terus menghantui pikirannya.
__ADS_1
Pelan-pelan, Aluv menarik napasnya panjang. Kemudian, ia membuangnya dengan kasar. Berharap, dirinya bisa bernapas dengan lega. Meski kecemasan masih terus menghantui pikirannya, Aluv mencoba untuk menepis.
Karena tidak ingin terus-terusan terhanyut dalam penyesalan dan kesedihan, Aluv mencoba untuk menghibur diri. Tidak peduli baginya jika cemoohan yang akan terus ia dapati.
Nasi telah menjadi bubur, tetapi tidak untuk berputus asa, pikir Aluv selagi masih dapat bernapas.
Waktu sudah menandakan sore hari, Aluv segera bergegas bangun dari posisinya dan mengganti pakaian santai. Setelah itu, Aluv memilih untuk turun ke bawah. Tepatnya menuju ruang dapur, iseng-iseng untuk mencari kesibukan agar tidak terus-menerus memikirkan sesuatu yang dapat mengganggu pikirannya.
"Bi Inah," panggil Aluv mengagetkan.
"Bibi tenang saja, jangan takut. Pokonya Bibi mah tidak perlu khawatir, karena saya tidak akan membantu Bibi masak. Tetapi ... saya mau bikin puding, itu saja kok Bik."
"Tetap saja, Non. Mau masak atau membuat cemilan atau sekelas sibuk di dapur, Tuan Edwin melarang Nona Aluv untuk melakukan aktifitas di dapur. Mendingan Nona duduk saja, atau nggak jalan-jalan di taman belakang."
__ADS_1
"Saya bosan sama taman, Bik. Pokonya saya maunya bikin puding, boleh ya Bik? bolehlah."
"Kalau sampai ketahuan Tuan Edwin, bagaimana Non?"
"Biarkan saja, Bik. Yang terpenting tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat dan tidak berlama-lama berada di dapur." Ucap Edwin ikut berbicara, tentunya kedatangannya telah mengagetkan Aluv maupun Bi Inah.
"Kak Edwin serius nih?" tanya Aluv dibuat seceria mungkin.
Meski hatinya hancur berkeping-keping, Akuv berusaha untuk menutupi lukanya atas perbuatannya sendiri.
Edwin mengangguk dan meninggalkan dapur, dan mencari tempat yang kiranya cukup nyaman untuk duduk bersantai.
Walaupun sang suami tidak menjawab pertanyaan darinya, Aluv tidak begitu memikirkannya. Lagi pula dirinya sudah menyadari dengan segala kekurangannya sendiri.
__ADS_1
Bagi Aluv, sudah ada yang mau menikahi saja sudah lebih dari kata beruntung. Meski kenyataannya, bahwa dirinya tak akan bisa mendapatkan cinta.