
Di tempat yang tidak begitu besar bangunannya, tetapi mampu menciptakan suasana yang cukup megah untuk dilihat.
Ruangan yang sudah di dekor sedemikian rupa bagusnya, tentu saja untuk menjadikan momen pernikahan Edwin Galeyandra dan Aluvia Gentaram Praja.
Didalam ruangan masih terlihat sepi, belum ada tanda-tandanya para tamu undangan sudah hadir. Semua tengah disibukkan dengan urusannya masing-masing.
Begitu juga dengan Aluv bersama kedua orang tuanya dan ditemani sang kakak, kini berempat tengah dalam perjalanan menuju suatu tempat yang sudah disiapkan untuk pengikatan hubungan suami-istri yang sah.
"Aluv, kenapa sayang?" tanya sang ibu membuyarkan lamunan putrinya yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
Aluv menoleh, wajahnya tak secerah sebagaimana wanita yang berbahagia saat akan menikah.
Justru, wajah Aluv terlihat lesu dan tidak bersemangat. Wajah ayunya tertutup karena ketakutannya dengan sebuah pernikahan yang diawali dengan kesalahannya sendiri.
Sang ibu yang tidak tega melihat putrinya bersedih, Beliau meraih tubuh Aluv untuk tiduran di pangkuannya.
Sambil mengusap lengannya, sang ibu merasa sedih melihat putrinya harus menanggung semuanya sendirian.
"Ma," panggil Aluv sambil tiduran dipangkuan ibunya.
"Ya, ada apa sayang?"
"Maafin Aluvia ya, Ma. Jika Aluv sudah menyakiti hati keluarga, ada Papa, Mama dan Kak Kemal." Ucap Aluv yang mana dirinya selalu dihantui dengan rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Semua sudah memaafkan kamu dari awal, tinggal kamunya untuk kuat dan bisa melewati semua ini. Mama, Papa, dan Kak Kemal hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." Jawab sang ibu.
"Terimakasih ya Ma, Aluv janji untuk memperbaiki semuanya. Aluv juga sudah siap, jika suami Aluv nanti tidak menganggap sebagai istrinya." Kata Aluv.
Seketika, hati seorang ibu begitu sakit ketika mendengarnya. Perempuan yang diharapkannya yaitu, menjadi seorang istri yang disayangi oleh suaminya dan perlakuan baik pula.
Tetapi tidak untuk bayangan Aluv sendiri, justru dirinya harus mempersiapkan diri ketika suaminya tidak menganggapnya ada.
Tidak hanya itu saja, perlakuan entah seperti apa, Aluv siap tidak siap harus menerimanya.
"Jangan bicara seperti itu, Nak. Berdoalah, semoga suami kamu tetap memperlakukan kamu sebagaimana posisi kamu menjadi istrinya yang harus diperlakukan baik oleh suami kamu."
"Sangat mustahil, Ma. Keadaan Aluv sudah kotor, tidak mungkin Aluv berpikiran yang muluk-muluk. Setidaknya, Aluv sudah menyiapkan diri dan menerima segala resikonya."
"Terimakasih ya Ma, sudah menjadi penyemangat Aluv." Ucap Aluv.
Kemudian, Aluv membenarkan posisi duduknya dan memeluk ibunya.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya mobil pun telah berada di tempat yang sudah disiapkan untuk pernikahan Aluv bersama suami.
"Aluv, kita sudah sampai. Ayo kita turun, sepertinya sudah ada yang datang." Ajak sang ibu sambil melihat sudah banyak mobil di parkiran.
Aluv pun mengangguk dan melepaskan sabuk pengamannya yang terlihat seperti pasrah. s
__ADS_1
Setelah itu, ia segera turun dan juga dengan ayah maupun kakaknya dan juga ibunya.
Sedangkan di dalam ruangan, rupanya calon pengantin laki-lakinya sudah datang lebih awal bersama keluarga.
Pelan-pelan, Aluv berjalan ditemani oleh sang ibu. Sampainya didalam ruangan, Aluv mengganti pakaian dan juga dandanannya untuk di rapikan kembali.
Sedangkan Tuan Gentaram dan putranya tengah menunggu didepan ruangan dimana putrinya tengah megubah penampilannya yang ditemani ibunya tercinta.
Selang beberapa waktu, Aluv sudah selesai di rias. Kemudian, Aluv segera keluar. Saat itu juga, datanglah seorang perempuan yang mana perempuan itu adalah sahabatnya yang sengaja diminta oleh ibunya untuk menemani Aluv.
Saat itu juga, Aluv terkejut ketika sahabatnya sudah datang lebih dulu.
"Aluv, selamat ya. Akhirnya kamu menikah, aku ikut bahagia." Ucapnya memberi ucapan selamat.
Aluv tersenyum, kemudian keduanya saling berpelukan.
"Terimakasih ya Ayna, kamu sahabatku satu-satunya." Jawab Aluv.
"Sudah dulu pelukannya, acara akan segera dimulai. Ayna, kamu temani Aluv untuk duduk di sebelah calon suaminya ya. Tante mau duduk di sebelah sana, tepatnya bersebelahan dengan kedua orang tua calon suami Aluv." Ucap ibunya Aluv, Ayna mengangguk.
"Ya Tante, tidak apa-apa." Jawab Ayna.
Setelah itu, Ayna menemani Aluv untuk duduk didekat calon suaminya.
__ADS_1