
Aluv yang begitu ceroboh dengan pengakuan atas kehamilannya terhadap Nuza, benar-benar menyesal. Karena sudah menjadi kebiasaannya yang selalu mencurahkan keluh kesahnya, kini tanpa sadar telah mengakui kesalahannya sendiri.
Malu, itu sudah pasti. Bagaimana tidak merasakan malu, aib nya sendiri ditunjukkan didepan sosok lelaki yang mencintainya dari dulu.
Karena dibutakan dengan cinta, Aluv tak bisa membedakan lelaki baik dan lelaki buruk. Sampai-sampai dirinya terbuai dengan janji manis dari seorang pacar, bahkan hubungan nya tidak pernah diketahui oleh keluarganya.
Sedangkan Nuza, kecewa itu sudah pasti. Ketulusannya seakan sia-sia. Dirinya rela kembali ke Tanah Air karena kabar bahagia jika kekasih Aluv telah meninggal, tetapi kenyataannya menorehkan pengakuan yang begitu menyakitkan.
Nuza yang tidak bisa mempunyai harapan apapun, tidak ada cara lain untuk berhenti berjuang. Baginya tiada guna lagi menunggu seseorang yang sudah memberi kekecewaan.
Nuza sendiri pun sadar, jika Aluv tak pernah mencintainya.
"Pergilah," ucap Nuza dengan satu kalimat, tapi terasa sakit untuk dilontarkan.
Aluv yang mendengarkannya pun, seperti kehilangan keluarga. Menyesal, itu sudah pasti dirasakan Aluv yang tidak mau mendengar perkataan orang tuanya.
Aluv yang tidak bisa berkata apa-apa, dirinya hanya bisa diam dan pergi dari hadapan Nuza.
__ADS_1
Sedangkan Nuza yang benar-benar kecewa mendengarkannya, ia langsung mengepalkan kedua tangannya dan meninju tembok di sampingnya.
"Padahal aku tulus dan mencintai kamu, Aluv. Tapi, kenapa begitu bodohnya kamu yang mudah terbuai dengan cinta yang sudah membutakan mata hatimu dan juga pikiran kamu." Gumam Nuza dengan penuh kecewa.
"Aaaaaaaaaaa!" teriak Nuza meluapkan segala emosinya.
Di ruang privat, Edwin tengah banyak mengobrol dengan Tuan Daka. Keduanya begitu asyik membicarakan sesuatu mengenai pekerjaannya.
Aluv yang sudah berada di dekat suaminya, wajahnya terlihat lesu. Edwin pun merasa ada yang aneh dengan istrinya.
Aluv terpaksa berpura-pura tersenyum, agar tidak dicurigai suaminya.
"Aku baik-baik saja kok Kak, mungkin perasaan Kak Edwin saja." Jawab Aluv beralasan dan tak. lupa untuk tersenyum.
"Ya loh Nak ALuv, muka kamu pucat sekali." Ucap Tuan Daka ikut menimpali, Aluv sendiri untuk bersikap tenang dan biasa-biasa saja.
"Tuan Edwin, lebih baik Nak Aluv di bawa ke Dokter untuk diperiksa, takutnya kenapa-napa. Tapi sebelumnya, kita makan dulu. Sayang loh, saya sudah menyiapkannya." Ucap Tuan Daka, sekaligus mengajaknya untuk menikmati makanan yang sudah dihidangkan.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Setelah ini, saya akan mengajak istri saya untuk periksa." Jawab Edwin, sedangkan Aluv hanya bisa pasrah.
Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Aluv dan Edwin telah menyelesaikan makan bersamanya dengan Tuan Daka.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, Edwin segera berpamitan untuk pulang.
Dalam perjalanan, Aluv masih diam. Begitu juga dengan Edwin, sama halnya ikutan diam tanpa membuka suara
Sambil memperhatikan istrinya, Edwin merogoh ponselnya. Dirinya pun teringat jika mendapatkan pesan masuk saat menikmati makanannya bersama Tuan Daka.
Karena harus menjaga etika ketika tengah bersama orang lain, Edwin sama sekali tidak menyentuh ponselnya.
Dan kini, Edwin mencoba untuk memeriksa ponselnya.
Karena penasaran, cepat-cepat membuka pesan masuk ke nomor ponselnya. Dengan seksama, Edwin begitu fokusnya saat mendengar sebuah percakapan lewat handsetnya.
Alangkah terkejutnya ketika mengetahui kebenarannya, Edwin benar-benar tidak menyangka dengan sebuah video yang ia terima. Edwin yang mulai terasa panas didalam dadanya, ia segera mematikan ponselnya.
__ADS_1