Penutup Noda

Penutup Noda
Mengiyakan


__ADS_3

Ibu mertua kembali tersenyum dan meraih tangan menantunya.


"Jadi, kamu mau kan, satu kamar dengan suami kamu?" tanya sang ibu mertua memastikan.


Aluv mengangguk dan tersenyum, hanya itu yang bisa dilakukan untuk tidak membuat ibu mertuanya kecewa.


"Ya, Ma. Tapi ... Kak Edwin bagaimana? takutnya tidak mau dan menolak."


"Justru, Edwin meminta Mama untuk bertanya denganmu."


"Aluv nurut saja, Ma." Kata Aluv.


"Kalau begitu, biar asisten rumah yang akan membereskan kamar kamu untuk memindahkan pakaian serta yang lainnya. Jadi, mulai sekarang kamu bisa masuk ke kamar suami kamu. Kamu belum mandi, 'kan? mandinya di kamar suami kamu saja. Soalnya kamar kamu akan dibereskan." Ucap ibu mertua.


"Ya, Ma." Jawab Aluv dengan singkat, bingung harus berkata apa pada ibu mertuanya.


"Ya sudah kalau kamu mau mandi, Mama juga mau mandi. Badan Mama sudah gerah, seharian sibuk di Butik. Jadi, Mama duluan masuk kamar. Oh ya, itu kamar suami kamu yang sebelahnya ruangan kerja." Ucap ibu mertua sekaligus pamitan lebih dulu untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Ya Ma, tidak apa-apa." Jawab Aluv.


Kemudian, dirinya pun ikut bergegas masuk ke kamar suaminya. Pelan-pelan karena ada rasa sedikit takut dan juga gugup, Aluv berhati-hati juga ketika hendak masuk ke kamar suaminya.


Sejenak, Aluv berdiri di depan pintu. Berharap, dirinya tidak mendapatkan omongan dari sang suami.


"Masuk, tidak, masuk, tidak. Yang benar yang mana? benar-benar sangat memalukan." Gumamnya dengan perasaan campur aduk. Antara malu, takut, dan gugup telah menjadi satu.


"Kalau mau masuk, masuk saja. Tidak ada yang melarang kamu untuk masuk ke kamarku, termasuk aku sendiri." Ucap Edwin yang rupanya sudah berada dibalik punggung istrinya.


Aluv yang mendengarnya pun terkejut, segera ia memutar balikkan badan.


"Kak Edwin,"


Dengan reflek, Aluv menyebutnya.


Edwin meraih tangan istrinya dan mengajaknya masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Aluv hanya bisa nurut daripada harus menanggung resiko. Apalagi suaminya itu suka berubah-ubah sikapnya, mencari titik aman ktu jauh lebih baik daripada harus membangkang.


"Ini kamarku, tentunya kamar kamu juga. Kamu bebas mau ngapain, terkecuali tidak membuatku kesal." Ucap Edwin yang seolah memberi peringatan kepada istrinya.


Aluv lebih memilih untuk nurut, dari pada harus menanggung segala resikonya.


"Soal baju, sudah ada didalam kamar ini. Itu, lemari bajumu. Sejak kamu sah menjadi istriku, di kamar ini sudah disediakan baju untuk kamu." Ucapnya lagi.


"Jadi, boleh nih kalau aku masuk ke kamar Kakak?"


Karena gugup, Aluv kembali bertanya mengenai untuk masuk ke kamar suaminya.


"Kalau tidak mau masuk, berdiri aja terus disini sampai kaki kamu keram." Jawab Edwin dan segera masuk ke kamarnya.


Bahkan tak ada kata canggung dan malu untuk melepaskan pakaiannya serta menyisakan celana kolornya saja.


Aluv yang masih berdiri diambang pintu, dirinya dapat melihat sosok suaminya yang hanya mengenakan celana kolor saja.

__ADS_1


"Kenapa masih berdiri di situ? mau masuk atau tidak? karena aku mau menutup pintunya serta menguncinya."


Tanpa pikir panjang, Aluv segera masuk kedalam kamar sambil menggigit bibir bawahnya dan menutup kedua matanya karena gugup. Tidak hanya itu saja, Aluv memilih untuk berdiam diri karena merasa bingung harus bagaimana dan berbuat apa.


__ADS_2