
Ketika Aluv mendapatkan izin dari suaminya, alangkah senangnya untuk beraktivitas di rumah mertua. Setidaknya ada waktu yang tidak sia-sia.
"Bi Inah, saya sudah mendapatkan izin. Jadi, Bibi tak perlu khawatir dengan saya." Ucap Aluv dengan senyum.
"Ya, Non. Kalau begitu, Bibi mau lanjutin masaknya. Kalau ada sesuatu yang Nona butuhkan, tanya saja sama Bibi." Jawab Bi Inah.
"Ya, Bi. Nanti kalau saya butuh bantuan, saya akan meminta tolong sama Bibi." Ucap Aluv dan mengangguk.
'Nona Aluv benar-benar sangat berbeda dengan Nona Sora, yang tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur. Tidak hanya itu saja, Nona Sora selalu merepotkan pelayan. Tapi tidak untuk Nona Aluv, meski dari keluarga yang sama kayanya, tetapi sikapnya sangat baik dan mau menyapa semuanya. Meski banyak kekurangan, semoga Tuan Edwin bisa menerima istrinya dan hidup bahagia.'
Batin Bi Inah sambil memperhatikan istri majikannya.
"Bi Inah, kenapa Bibi yang melamun? Bibi sedang merindukan siapa?" tanya Aluv sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat puding.
Bi Inah tersenyum saat mendapati Aluv tengah membuyarkan lamunannya.
"Bibi sedang tidak melamun kok, Non. Bibi hanya sedang mengingat keluarga di kampung." Jawab Bi Inah beralasan, tidak mungkin untuk berkata jujur.
"Sama aja itu Bi, sama-sama melamun. Kalau boleh tahu, anak Bi Inah ada berapa?" tanya Aluv untuk menghindari pikiran yang penat.
"Bibi cuma mempunyai satu anak saja, Non. Sekarang sudah besar, sebentar lagi mau lulus sekolah." Jawab Bi Inah yang juga sambil menyiapkan sesuatu yang akan dimasak.
"Perempuan atau laki-laki, Bi?" tanya Aluv kembali.
Setidaknya, sambil mengobrol dapat menghilangkan pikiran penatnya.
"Laki-laki, Non." Jawab Bi Inah.
"Terus, suami Bi Inah kemana?"
Lagi-lagi Aluv terus bertanya, dan tidak ada bosannya bisa mengobrol dengan asisten rumah.
__ADS_1
"Suami Bibi ... sudah meninggal, Non. Waktu itu usia anak Bibi masih 3 bulan di dalam kandungan." Jawab Bi Inah dan tertunduk sedih.
Bahkan, Bi Inah tanpa sadar meneteskan air matanya. Kenangannya begitu pahit ketika harus kehilangan orang yang dicintainya dan harus membesarkan anaknya sendiri.
Aluv yang mendengarnya pun, hatinya ikut teriris. Pasalnya, dirinya pun hampir sama nasibnya.
"Maaf ya Bi, jika pertanyaan saya tadi sudah sangat lancang. Bukan maksud saya ingin tahu, tapi saya telah kebablasan memberi pertanyaan pada Bibi." Ucap Aluv merasa bersalah, tentunya dirinya sendiri ikut merasakan apa yang sudah pernah dirasakan oleh Bi Inah.
"Tidak apa-apa kok, Non. Justru, seharusnya saya yang meminta maaf. Bukan maksud saya untuk menyamakan keadaan." Jawab Bi Inah yang justru merasa tidak enak hati, seolah dirinya tengah menyindir istri majikannya.
Tapi itulah kenyataan, yang terkadang kita akan bertemu dengan seseorang yang hampir bernasib sama. Hanya saja, jalan hidup yang berbeda.
"Tidak Bi, saya yang salah. Sampai-sampai saya membuat Bibi bersedih." Ucap Aluv yang terus menyalahkan diri sendiri karena dengan lancang yang sudah memberi banyak pertanyaan.
"Loh loh loh, Bi Inah dan Aluv kenapa? kok Bi Inah menangis?" tanya istri Tuan Topan mendapati asisten dan menantunya di dapur seperti ada sesuatu.
"Tidak ada apa-apa, Nyonya. Kita berdua sedang bernostalgia dengan cerita masing-masing, dan kebetulan cerita saya ...." Jawab Bi Inah yang lupa, jika majikannya telah mengetahui keluh kesah masa lalunya Bi Inah sendiri.
"Oooh, ya ya ya, saya mengerti. Terus, Aluv di dapur sedang ngapain? jangan bilang kalau kamu mau membantu Bi Inah memasak. Tidak, Mama tidak mengizinkan kamu untuk sibuk di dapur. Kamu sedang hamil, lebih baik hindari aktivitasmu di dapur. Di rumah sudah ada pelayan maupun asisten rumah, kamu tidak perlu ikutan masak, Nak." Ucap Beliau.
"Tidak apa-apa kok, Ma. Aluv hanya mau membuat puding saja, tidak memasak." Jawab Aluv sedikit canggung.
"Puding? kamu kan, bisa meminta Bi Ina untuk membuat pudingnya. Atau tidak, pelayan lainnya. Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada calon cucu Mama. Ayo tinggalkan dapur, Mama tidak mau kamu kenapa-napa." Ucap Ibu mertua yang tidak ingin terjadi sesuatu pada menantunya, lebih lagi tengah hamil.
"Cuma puding saja kok, Ma. Lagian juga cuma sebentar, tinggal di aduk, di tuang dan dan diamkan." Kata Aluv tak lupa tersenyum ramah pada ibu mertuanya.
"Ya sudah kalau kamu tetap memaksakan diri untuk membuat puding, tetapi tidak untuk ikutan memasak." Ucap Ibu mertua.
"Ya, Ma." Jawab Aluv merasa lega dan kembali melanjutkan untuk membuat puding sesuai keinginannya.
Sedangkan di dalam ruang kerja, Edwin tengah duduk bersantai sambil memeriksa pekerjaannya.
__ADS_1
Tanpa disadari, sudah ada sang ibu yang tengah berdiri dihadapannya.
"Edwin," panggil sang ibu mengagetkan.
Edwin segera mendongak, tentu saja sangat kaget dengan keberadaan sang ibu yang sudah berdiri dihadapannya.
"Mama, sejak kapan Mama berdiri di depanku?"
"Sejak kamu masih sibuk dengan layar komputer-mu." Jawab sang ibu dan duduk didepan putranya.
"Mama ada perlu apa denganku?" tanya Edwin sambil bersandar di kursinya.
"Alisa mau datang serta tinggal disini, malam ini kalau tidak besok dia sudah sampai di rumah kita. Jadi, Mama minta sama kamu untuk satu kamar dengan istrimu." Jawab sang ibu penuh harap.
Edwin yang mendengarnya pun, dirinya seakan mendapatkan godaan yang sangat besar. Sambil memijat pelipisnya, Edwin mencoba berpikir untuk memberi keputusan pada ibunya.
Bukan tidak mau, Edwin yang tidak ingin akal sehatnya akan terkalahkan dengan naf*sunya.
"Memangnya Mama tidak memberitahu pada keluarga Artagan kalau aku sudah menikah?"
"Papa kamu belum sempat untuk memberi kabar pada keluarga Artagan. Bukannya tidak ada waktu, karena pikir Papa itu, dua hari lagi mau ke Paris dan sekalian memberi kabar pernikahan kamu. Tapi, rupanya Alisa pingin liburan dan memilih tinggal di rumah kita daripada di keluarga Radensa." Jawab sang ibu menjelaskan.
"Mama bilang saja sama Aluv, suruh pindah tidurnya mulai nanti malam." Ucap Edwin yang akhirnya memberi keputusan tanpa harus memikirkannya lagi.
Sang ibu pun tersenyum ketika putranya tudak melakukan penolakan.
"Baiklah, Mama akan menyampaikannya pada istrimu. Ingat, jangan bersikap dingin dengan istrimu."
"Ya Ma, ya." Jawab Edwin meyakinkan ibunya.
Merasa lega karena sudah menyampaikan pesan dari suaminya, ibunya Edwin segera keluar dari ruang kerja putranya.
__ADS_1
Sedangkan Edwin sendiri mulai gelisah lantaran harus satu kamar dengan istrinya. Ditambah lagi keduanya sudah pernah melakukannya meski tidak berujung fatal, tentunya membuat kepala Edwin pusing tujuh keliling dibuatnya.