Penutup Noda

Penutup Noda
Penjelasan


__ADS_3

Alisa yang merasa dongkol dan juga kesal serta cemburu ketika melihat Edwin tengah menikmati makan malamnya yang juga belum selesai.


'Sial, awas saja kamu Luv. Aku akan membalas semua ini, kamu harus membayarnya dengan lunas.'


Batin Alisa dengan kekesalannya karena harus gagal yang kedua kalinya, dan kini harus berebut lagi dengan perempuan yang pernah dijadikan pesaingnya.


Kenaya yang tidak peduli dengan sang kakak maupun kakak iparnya, ia terus menikmati buah serta pudingnya juga.


Alisa yang berada di hadapan Edwin maupun Aluv, benar-benar hatinya terasa panas terbakar oleh api cemburu.


"Kak, diam sebentar ya."


"Kenapa?" tanya Edwin.


Aluv tidak menjawabnya langsung, justru jari tangannya telah mengambil sesuatu yang berada pada sudut bibirnya sebelah kiri.


Edwin yang tidak mempunyai penolakan atas sikap dari istrinya itu, sedikitpun tidak ada kata penolakan apapun untuk dirinya maupun untuk istrinya sendiri.


"Ini," kata Aluv sambil menunjukkan sesuatu yang ada ditangannya.


Bukannya melihat sesuatu yang ditunjukkan dari istrinya, justru Edwin menatap wajah Aluv yang sudah seperti candu untuk dirinya.


"Selesaikan dulu makannya, dan jangan lupa untuk menghabiskan susunya." Ucap Edwin dan kembali melanjutkan makannya.

__ADS_1


Alisa yang semakin terasa panas, segera menarik tangan Naya untuk cepat-cepat meninggalkan ruang makan tersebut.


"Alisa, kamu itu kenapa sih? kok jadi jutek gitu."


Alisa langsung menatap pada Naya, seakan ingin memarahinya.


"Aku itu cemburu melihat Kak Edwin yang begitu mesra dengan istrinya. Kenapa secepat itu Kak Edwin menikah? padahal aku sudah siap untuk menjadi istrinya."


Naya yang mendengarnya pun, ia tersenyum ketika Alisa mengatakan ingin menikah dengan kakaknya yang berstatus duda.


"Berarti kamu bukan jodohnya Kak Edwin. Mungkin saja kamu jodohnya lelaki yang ada diluaran sana." Jawab Naya mencoba untuk mengalihkan agar tidak membicarakan kakaknya.


Saat itu juga, Naya kembali teringat dengan seseorang yang tentunya pernah gagal untuk didapatkannya.


Batin Alisa yang tidak lagi ingin merebut Edwin dari Aluv. Justru, Alisa akan kembali memperjuangkan untuk mendapatkan cinta dari Nuza, pikirnya.


"Hei! bengong aja dari tadi, ayo kita kumpul bareng dan duduk bersantai di ruang keluarga." Ucap Naya yang tak lupa menepuk punggung milik Alisa agar tersadar dari lamunannya.


"Eh ya, ayuk." Jawab Alisa dan ikut duduk santai bersama Tuan Topan dan Ibunda Holena.


Selesai makan, Aluv tak lupa untuk menghabiskan susunya. Kemudian, keduanya segera bergegas bangkit dari posisinya serta meninggalkan ruang makan.


Sedangkan Edwin sendiri lebih memilih untuk kembali ke kamarnya daripada harus ikut berkumpul bersama kedua orang tuanya maupun yang lainnya termasuk istrinya sendiri. Bagi Edwin hanya akan membuang-buang waktu saja jika dirinya ikut mengobrol, pikirnya.

__ADS_1


Dengan canggung dan juga malu, Aluv ikut duduk bersama mertuanya dan juga adik ipar maupun Alisa sebagai tamu di rumah mertuanya.


"Bagaimana, apakah kalian berdua sudah lebih mendingan?" tanya Ibunda Holena membuka suara menatap Aluv dan Alisa secara bergantian.


"Sudah, Ma." Jawab Aluv lebih dulu.


"Dan, kamu Alisa?"


"Sudah, Tante." Jawab Alisa dan tak lupa mengangguk pelan.


"Sebelumnya Tante dan Paman mau minta maaf sama kamu, kalau Edwin sudah menikah. Sebenarnya Paman mau memberi kabar pernikahan Edwin kepadamu dan kedua orang tua kamu itu, sekalian ketika sudah berada di Paris. Tetapi rupanya kamu datang lebih dulu, terpaksa kabar pernikahan pun di tunda sampai kamu-nya datang." Ucap Ibunda Holena menjelaskan.


"Ya Nak Alisa, yang dikatakan Tante Holena itu benar. Kalau boleh tahu, kalian berdua berteman kah? soalnya Paman lihat itu, kalau kamu dan Aluv saling mengenal satu sama lainnya." Timpal Tuan Topan ikut bicara.


"Ya, Paman. Alisa mengenal Aluv, karena kita pernah kuliah bareng di Paris. Itu masa lalu yang sudah lama, Paman. Aluv sudah merebut cowok yang Alisa sukai, tapi rupanya Aluv tidak dengannya sekarang dan ternyata menjadi istrinya Kak Edwin." Jawab Alisa dan dengan sengaja nyeletuk mengenai Aluv.


"Itu bukan salahku, karena aku sudah mengatakannya padamu, bahwa aku tidak akan pernah menerima Nuza, meski aku dan Nuza telah dijodohkan. Karena aku tahu, kamu juga menyukainya."


Aluv yang sudah merasa geram, dirinya langsung menyambar ucapan dari Alisa karena geram.


"Cukup, sudah. Jangan dilanjutkan pertengkaran kalian, tidak baik. Sekarang sudah jelas, jika Aluv sudah menikah dan menjadi istrinya Edwin. Dan untuk Nak Alisa, Paman berharap kamu akan menerima kebenaran ini semua. Percayalah, jodoh tidak akan pernah tertukar, walau harus bercerai sekalipun, pastinya akan bertemu jodoh yang sebenarnya." Ucap Tuan Topan ikut berkomentar.


Alisa yang mendengarnya pun, dirinya tidak begitu peduli dengan apa yang dijelaskan oleh Tuan Topan. Karena sudah memiliki misi lain, Alisa langsung hilang niatnya untuk mendapatkan Edwin. Justru, yang sekarang di incar adalah Nuza, sosok laki-laki yang pernah diperjuangkan oleh dirinya meski pernah gagal untuk mendapatkannya.

__ADS_1


Dengan percaya dirinya, Alisa mulai sibuk untuk memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya berhasil untuk mendapatkan Nuza, pikirnya.


__ADS_2