
Sambil mengatur pernapasan, Edwin kembali melanjutkan pembicaraannya bersama mertua.
"Maaf, Pa. Bukannya Edwin tidak ada sopan santun untuk menjelaskannya sama Papa dan Mama, tetapi Edwin tidak mau disangka hanya akal-akalan saja. Jadi, Edwin minta, tolong dengarkan apa yang ada dalam video yang akan memberikan penjelasan." Ucap Edwin berusaha untuk berkata sebaik mungkin dengan mertua.
"Ya, Papa akan mendengarkannya. Sekarang juga, kamu bisa menunjukkan videonya." Jawab Tuan Gentaram berusaha untuk tetap tenang, meski kenyataannya sangat penasaran.
Saat itu juga, Edwin segera membuka layar ponselnya. Kemudian, ia mencari video dari temannya.
Ketika video yang akan ditunjukkan kepada ayah dan ibu mertua sudah ditemukan, Edwin memutarnya dan menunjukkannya langsung di hadapan mertua.
Dengan seksama, Tuan Gentaram bersama istrinya tengah mendengar serta melihat video tersebut begitu teliti dan tidak ada yang terlewatkan.
Sampai tidak terasa, durasinya semakin lama, hingga sampai ke titik final atas penjelasan yang begitu detail. Setelah selesai mendengarkan, Tuan Gentaram sekilas melirik pada putrinya.
Ada rasa sedih pada seorang ayah dan ibu ketika melihat putrinya harus menerima kenyataan yang begitu pahit.
__ADS_1
Tidak hanya itu saja, beban itupun harus diterima oleh cucunya yang tidak tahu apa-apa atas kesalahan orang tuanya sendiri.
Meski bisa melakukan apa saja, Tuan Gentaram tidak berani menentang hukum yang sudah diyakininya. Apapun yang sudah menjadi keputusan mutlak, Tuan Gentaram tidak berani untuk melanggarnya.
Segela sesuatu perbuatan yang salah, akan ada resikonya masing-masing. Siap atau tidaknya, resiko itu akan diterimanya.
Sambil menarik napasnya dengan pelan, Tuan Gentaram sejenak untuk diam. Setelah pikirannya dirasa cukup tenang, Tuan Gentaram mengarahkan pandangannya pada Edwin, menantunya.
"Papa tidak bisa berkata apa-apa, semua keputusan ada pada Aluv, putriku. Jika Aluv mau mengikuti keputusan darimu, itu haknya." Ucap Tuan Gentaram pasrah dengan segala keputusan.
"Aluv ngikut saja apa yang menjadi keputusan suami Aluv, Pa." Sahut Aluv ikut menimpali.
Edwin mendongak dan menatap wajah ayah mertuanya.
"Ya, Pa." Jawab Edwin.
__ADS_1
"Papa hanya meminta sama kamu, tolong sayangi cucuku dan terima dia dengan segala kondisinya. Jangan sekali-kali kamu mengatakan hal yang tidak pantas untuk di dengar. Jika cucuku kamu abaikan, maka Papa akan mengambil alih dan tidak akan di zinkan untuk menginjakkan kakinya di rumah ini." Ucap Tuan Gentaram dengan ancaman.
Edwin yang mendengarnya pun, seakan sudah disediakan peluru yang siap di layangkan tepat pada ulu hatinya.
"Edwin akan terus berusaha untuk menyayanginya, dan juga menganggapnya sebagai anak kandung sendiri." Jawab Edwin meyakinkan ayah dan ibu mertuanya, serta istrinya sendiri.
"Jadi, pegang baik-baik omongan Papa tadi." Ucap Tuan Gentaram kembali memastikan.
"Edwin akan pegang omongan Papa dan juga kesepakatan yang dibuat sekarang ini." Jawab Edwin kembali meyakinkan.
"Baik lah, Papa percaya sama kamu. Kalau boleh tahu, siapa nama cucuku?"
"Radien Praja." Jawab Edwin begitu jelas.
Tuan Gentaram mengangguk, tanda setuju jika cucunya mengenakan nama dari keluarga ibunya dengan alasan yang sudah dijelaskan dalam video tersebut.
__ADS_1
Kecewa, tentu saja tidak. Meski minim ilmu, Tuan Gentaram tidak berani menentang hukum yang berlaku dan tidak dapat di ganggu gugat.
"Nama yang sangat bagus, semoga kelak besar nanti akan menjadi sosok lelaki yang bijaksana." Ucap Tuan Gentaram.