
Edwin yang masih berbaring di dekat istrinya, masih tidak dapat memejamkan kedua matanya.
Pelan pelan, Edwin mendaratkan ciu*mannya tepat pada kening milik istrinya.
Merasa ada sesuatu yang menempel pada bagian keningnya, Aluv langsung terbangun dari tidur pulas-nya dan membenarkan posisi untuk duduk di atas tempat tidur.
Tidak hanya itu, Aluv segera menyambar selimutnya dan menutupi tubuhnya. Takut, jika suaminya akan tera*ngsang ketika melihat pakaian yang dikenakannya.
"Kenapa Kak Edwin bisa berada di kamar ini? kamar Kakak kan, ada di sana." Ucap Aluv sambil menahan selimut yang dijadikan penutup tubuhnya.
"Memangnya aku ini siapanya kamu? sampai-sampai kamu menganggap kamar ini adalah kamar milikmu saja." Jawab Edwin yang kemudian bangkit dari posisinya yang berbaring sambil menatap wajah ayu istrinya.
"Bukankah sesuai perjanjian, jika aku hanya bisa tidur sementara di kamar Kak Edwin. Setelah Alisa angkat kaki dari rumah ini, maka aku harus kembali ke kamar ini."
Ucap Aluv mencoba mengingat dengan apa yang pernah diucapkan oleh suaminya sendiri yang meminta untuk tidur terpisah hingga sampai ketika sudah melahirkan.
"Waktu itu kan, aku belum mengetahui rumusnya. Ayolah kita tidur satu kamar, apa kamu tega melihat suami kamu kesakitan?"
Edwin tidak pernah untuk menyerah dan terus merayu istrinya agar bisa tidur satu kamar dengan dirinya. Berharap, dapat belas kasih dari sang istri. Tidak peduli jika itu sangat memalukan, setidaknya ada teman untuk tidur.
Edwin sendiri menyadarinya, berasa hampa ketika hanya seorang diri, pikirnya. Apapun alasannya dan juga caranya, Edwin tidak mudah untuk menyerah.
"Aku tidak mau, Kak Edwin tidur aja sendiri. Sekali-kali menahan sakit, tidak apa-apa. Kan, belum berkali-kali menahan rasa sakitnya."
Kata Aluv dengan entengnya, Edwin yang mendengarkannya pun, hanya membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna saat istrinya berkata tanpa ada rasa kasihan pada suaminya.
"Jangan begitu dong. Apa kamu tidak kasihan sama suami kamu yang nantinya menjadi uring-uringan? ayolah kita tidur satu kamar."
__ADS_1
Edwin terus merayu istrinya tanpa bosan. Berharap, usahanya tidak akan sia-sia, pikirnya penuh harap.
"Uring-uringan doang, tidak sampai kejang, 'kan? sudahlah, tahan aja dulu. Buktinya, Kak Edwin bisa menduda dengan waktu yang lama, ya 'kan?"
Aluv yang mendapati suaminya yang terus merengek, sebisa mungkin untuk menahan tawanya.
"Itu sangat menyiksa, ayo kita pindah kamar. Di kamar ini sangat tidak cocok untuk kamu, kualitas tempat tidurnya juga tidak baik untuk perempuan hamil."
Ucapnya yang terus berusaha membuat istrinya angkat kaki dari kamar tersebut.
"Kata siapa tidak cocok? bukankah ini kamar pilihan dari Kak Edwin sendiri? jelas kualitasnya dan pastinya sangat bagus dong."
Aluv terus memancing emosi suaminya, agar dirinya bisa tidur dengan pulas tanpa ada yang mengganggunya.
Edwin yang selalu gagal membujuk serta merayu istrinya, otaknya dipaksa untuk bekerja mencari ide yang cukup handal, pikir Edwin disela-sela berpikir untuk mencari idenya.
"Jangan, nanti aku laporkan ke Mama loh."
"Pokoknya satu kamar, titik. Kalau kamu masih menolak, aku akan memaksamu."
"Cuma satu kamar saja, 'kan?" tanya Aluv yang juga tidak kalahnya mencari ide.
"Ya, satu kamar." Jawab Edwin dibarengi anggukan, Aluv pun tersenyum.
"Dil, satu kamar." Ucap Aluv sambil menunjukkan jari kelingking miliknya, pertanda persetujuan.
Alangkah bahagianya ketika sang istri mengabulkan permintaannya, Edwin tersenyum lebar bak senyumnya pasta gigi.
__ADS_1
"Dil, juga." Kata Edwin dengan semangat membara, sedangkan Aluv sendiri justru menahan tawanya.
"Kalau begitu, ayo kita pindah kamar." Ajak Edwin bersemangat.
Pasalnya, sang istri akhirnya mau diajaknya tidur dalam satu kamar. Bersorak gembira lah hatinya, sampai-sampai sudah tidak sabar untuk dijabarkan.
Aluv yang sedari tadi menahan tawanya, sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan sesuatu yang sedang ia rencanakan untuk suaminya.
"Oh ya, hampir saja aku lupa. Sepertinya sudah waktunya untuk makan malam. Bagaimana kalau kita makan malam dulu, habis itu kita istirahat." Ucap Edwin yang teringat sudah waktunya makan malam.
"Ya, kebetulan aku juga sudah lapar." Jawab Aluv.
Kemudian, keduanya segera turun dan menuju ruang makan. Entah ada angin apa, Edwin terus menggandeng tangan milik istrinya. Sampai tidak sadar sudah berada di ruang makan.
Sang ibu maupun Naya telah mendapati Edwin tengah bergandeng mesra. Malu, Aluv segera melepaskan tangan suaminya.
"Cie ... yang takut kehilangan dan takut berpisah, ini rumah, Bos. Jadi, tidak mungkin Kakak ipar di culik orang." Ledek Naya yang suka iseng pada kakak laki-lakinya.
"Diam Lu ah, cerewet." Sahut Edwin sambil menarik kursi untuk istrinya.
"Ma, cepetan cariin jodoh buat Nay. Biar tidak gangguin aku terus, bising dengarnya." Ucap Edwin pada ibunya.
"Ye, kata Kak Edwin aku harus ngejar karir dulu. Lah ini, kenapa tiba-tiba diminta menikah? nggak mau, nggak mau. Akunya belum siap, ntar dapat suami yang bucin nya akut kek Kakak bisa-bisa tidurku tidak nyenyak." Timpal Naya yang tidak mau kalah.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar terus kalian ini. Ayo kita makan dulu, baru lanjutin obrolan kalian berdua." Kata sang ibu yang mencoba untuk melerai putranya dan juga anak perempuannya.
"Ya, Ma, ya." Jawab kedua anaknya bersamaan.
__ADS_1
Siap-siap buat babang Edwin yang akan dikerjain istrinya. Kira-kira apa ya, yang mau dilakukan oleh istrinya?