
Edwin yang mendengar pertanyaan dari ibunya, ia bepikir sejenak agar keputusannya itu diterima.
"Ma, keputusan ini sudah bulat dan tidak bisa dirubah. Aku tetap tidak akan satu kamar dengannya sampai anaknya lahir, titik. Jika takut terjadi sesuatu pada Aluv, Mama bisa meminta asisten untuk menjadi teman tidurnya." Jawab Edwin kembali menjelaskan dan tetap pada keputusannya itu.
"Tidak apa-apa kok, Ma, Pa. Aluv bisa mengerti, bagi Aluv tidak masalah." Sambung Aluv ikut menimpali.
Tuan Topan dan istrinya menoleh pada menantunya, termasuk Edwin suaminya.
"Kamu serius tidak apa-apa? tapi, kalau ketahuan keluargamu bagaimana?" tanya ibu mertua.
Seketika, Aluv menoleh pada suaminya.
"Tidak perlu khawatir, didalam kamarku tetap akan ada pakaian Aluv dan yang lainnya." Timpal Edwin.
"Ya sudah, jika keputusan kamu ini tidak bisa dirubah, Mama dan Papa tidak akan merubahnya." Ucap sang ibu, Edwin mengangguk dan langsung masuk ke kamarnya.
Begitu juga dengan Tuan Topan, Beliau segera masuk ke kamar untuk beristirahat karena kecapean dalam sehari tengah sibuk dengan acara pernikahan putranya.
Kini, tinggal Kenaya dan ibunya serta Aluv.
"Kakak tidak usah khawatir, aku akan sering-sering menemani Kak Aluv tidur. Itupun kalau Kakak tidak keberatan." Ucap Kenaya yang tetap bersikap baik kepada kakak iparnya.
"Ya Aluv, kamu bisa ditemani Kenaya." Timpal ibu mertuanya, Aluv tersenyum.
"Terimakasih ya Ma, sudah baik dengan Aluv dan mau menerima Aluv menjadi menantu Mama." Ucap Aluv merasa malu.
__ADS_1
"Mama juga sangat senang, sebentar lagi Mama akan mendapatkan cucu. Dijaga kesehatan kamu, jangan banyak pikiran. Jika Edwin bersikap dingin, memang begitu sifatnya. Jika ada apa-apa, kamu ngomong aja sama Mama atau Kenaya. Karena sudah hampir sore, sebaiknya kamu mandi dan istirahat. Nanti Kenaya yang akan menunjukkan kamarmu, istirahat lah dengan cukup." Ucap Ibu mertua, Aluv mengangguk.
"Ya Ma, terimakasih banyak." Jawab Aluv.
Setelah itu, Aluv ditemani Kenaya menuju kamar sementaranya. Mau tidak mau, Aluv hanya bisa menerima keputusan dari suaminya.
Sampai didalam kamar, Kenaya mempersilahkan kakak iparnya untuk beristirahat.
"Kak Aluv," panggil Kenaya.
"Ya, ada apa Kenaya?"
"Kakak yang betah ya, tinggal di rumah ini. Percaya deh sama aku, Kak Edwin orangnya baik kok. Memangnya sih sikapnya itu dingin, tapi hatinya baik. Tapi ..."
"Tapi kenapa?"
"Ya, Kakak percaya kok sama kamu." Ucap Aluv saat teringat suaminya memberi perhatian padanya saat dalam dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Aku doakan, semoga Kak Aluv bisa melewati ini semua." Ucap Kenaya memberi semangat untuk kakak iparnya, lagi-lagi Aluv tersenyum.
"Terimakasih atas doanya darimu, Naya." Jawab Aluv dengan senyuman, begitu juga dengan Kenaya yang juga ikut tersenyum.
Saat itu juga, Kenaya tersadar jika kakak iparnya harus banyak istirahat lantaran dengan kondisinya yang sedang hamil muda.
"Karena badanku terasa pegal-pegal, aku balik ke kamarku dulu ya Kak. Aku ingin mandi dan beristirahat, capek. Jika Kak Aluv membutuhkan sesuatu, Kakak tinggal bilang aja sama aku atau sama asisten rumah yang bernama Ayun." Ucap Kenaya, Aluv mengangguk.
__ADS_1
"Ya, selamat beristirahat."
"Kakak juga, jaga diri baik-baik."
Karena tugasnya sudah selesai, Kenaya segera keluar dari kamar kakak iparnya yang tidak ingin mengganggu jam istirahat.
Setelah tidak ada Kenaya, Aluv sendirian di dalam kamar. Perasaannya saja tidak tahu harus menggambarkan yang seperti apa.
Apakah dirinya harus bahagia? atau ... harus bersedih. Aluv pasrah dengan semuanya, baginya yang terpenting adalah nasib baik untuk anaknya nanti.
Tidak tahu harus berbuat apa, Aluv memperhatikan di setiap sudut kamarnya. Diperhatikan disekelilingnya, tiba-tiba dirinya teringat dengan mendiang kekasihnya.
Rindu, itu sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi, Aluv tidak mungkin bisa mengubah kenyataan menjadi sebuah mimpi. Mau tidak mau, Aluv akan menerima kenyataannya itu dan tidak untuk mimpinya.
"Inilah akibat perbuatanku, sekarang aku harus menerima akibatnya. Karena kebodohan-ku, sampai-sampai calon anakku ikut menanggung beban kesalahan yang sudah aku perbuat." Gumam Aluv dengan penuh penyesalan.
Kenyataan yang tidak sama dengan mimpinya, Kenaya berusaha untuk kuat dan bersabar agar dirinya dapat melewati hari-harinya tanpa sebuah cinta.
Rasa capek dan rasa kantuk yang masih menguasai dirinya, Aluv bergegas untuk membersihkan diri dan beristirahat karena tidak ingin janin yang dikandungnya bermasalah.
Bagi Aluv tidak peduli dengan sikap suaminya yang dingin dan kaku itu, yang terpenting itu, dirinya mampu menerima segala resikonya dan bertahan pada kenyataan yang ada.
Menyakitkan memang, tapi apa dayanya yang hanya bisa berusaha untuk kuat dan tetap tegar.
Saat ini yang ada dalam pikiran Aluv hanyalah calon anaknya, tidak untuk yang lain.
__ADS_1
Aluv sadar diri dan tidak muluk-muluk untuk mendapatkan cinta dari suaminya, yang terpenting itu, anaknya tidak mendapatkan sial atas perbuatan ibunya.
Aluv mengakui, rasanya memang sakit dan juga perih di hatinya, apa salahnya jika dirinya mencoba untuk merubahnya menjadi lebih baik lagi.