
Acara pernikahan telah usai, semua sudah tidak ada lagi di acara tersebut. Setelah keluarga Praja pamit pulang, Keluarga Galeyandra sama halnya pulang ke rumah utamanya.
Dalam perjalanan pulang, Edwin dan Aluv berada dalam satu mobil tanpa ada yang lainnya kecuali si supir.
Keduanya sama-sama diamnya dan tidak ada satupun yang berucap. Aluv yang tidak bisa menahan rasa kantuknya, ia memilih memejamkan kedua matanya agar dapat beristirahat dalam mobil sambil bersandar di jendela kaca mobil.
Sekilas Edwin menoleh pada istrinya, dan mendapati Aluv yang sedang tidur. Ada sedikit rasa kasihan, ada juga rasa kesal, Edwin tidak mempedulikannya dan memilih ke posisi semula. Menatap lurus ke depan, itulah yang dilakukan olehnya.
Perjalanan masih lumayan lama, tiba tiba Edwin merasa kasihan melihat istrinya. Terlebih lagi tengah hamil, semakin tidak tega melihatnya.
Benar kata Kenaya, meski terkadang sikapnya begitu dingin dan bahkan terkadang keras, tetap saja ada perhatian pada sosok Edwin.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu, Edwin meraih tubuh istrinya agar bersandar padanya. Aluv yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya itu, tidak peduli dengan apa yang dilakukan suaminya.
Pak Supir yang sedari memperhatikan Tuannya, akhirnya bisa tersenyum saat melihat sosok Edwin yang tiba-tiba perhatian pada istri barunya.
'Semoga saja, Tuan Edwin kembali jatuh cinta dan dapat bahagia. Tidak seperti Nona Sora, yang sudah menyia-nyiakan suami sebaik Tuan Edwin.' Batin Bapak Supir sambil fokus dengan setirnya.
Edwin yang juga merasa ngantuk, dirinya ikutan memejamkan kedua matanya. Setidaknya dapat beristirahat sebentar selama perjalanan pulang.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, akhirnya telah memasuki halaman rumah keluarga Galeyandra.
"Maaf Tuan, kita suda sampai." Ucap Pak Supir membangunkan Tuannya.
Pelan-pelan, Edwin membuka lebar kedua matanya. Kemudian, menyempurnakan penglihatannya.
Edwin tersadar, jika istrinya masih bersandar pada dirinya.
"Bangun, kita sudah sampai."
Sambil menggoyangkan tubuh istrinya, Edwin mencoba untuk membangunkannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ucap Aluv terasa malu, lantaran telah lancang karena tidur dan bersandar pada suaminya.
Secepatnya, Aluv membenarkan posisi duduknya. Takut, jika dirinya akan dianggap perempuan murahan.
Tetap saja, Aluv sudah menyadarinya sendiri. Jika dirinya itu tidak jauh bedanya dengan perempuan murahan. Yang mana dirinya tah melakukan hal yang sangat kotor dan tak bermoral.
"Sudah siap? ayo kita turun. Kita sudah sampai, ayo turun."
__ADS_1
Tanpa ekspresi apapun, Edwin mengajak istrinya untuk segera turun dan masuk ke rumah, tentunya.
Aluv hanya mengangguk dan melepas sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Edwin yang segera turun.
Tuan Topan dan istri serta putrinya, kini telah sampai setelah mobil yang dinaiki Edwin bersama istrinya sampai dihalaman rumah.
Saat turun dari mobil, Aluv tidak pernah menyangka. Jika dirinya telah menikah bukan dengan orang yang dicintainya. Orang yang pernah ia beri seluruh raganya bahkan mahkotanya, kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Menyedihkan, bukan? tentu saja sangat menyedihkan. Entah seperti apa hancurnya perasaan seorang Aluv yang sudah melakukan kesalahan yang sangat besar tanpa dipikir kembali sebelum melakukan perbuatannya itu.
Tapi mau bagaimana lagi, Aluv bagai patung tak berguna. Tidak hanya itu saja, dirinya menganggap diri sendiri adalah sampah yang tak pantas untuk didaur ulang.
"Tidak ada waktu untuk melamun, ayo kita masuk." Ajak Edwin membuyarkan lamunan istrinya.
"I--i-ya." Jawab Aluv terbata-bata karena gugup.
"Nak Aluv, ayo kita masuk. Sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Galeyandra, jangan sungkan untuk tinggal bersama kami." Ucap ibu mertua serta mengajak menantunya untuk masuk ke rumah.
Aluv berusaha untuk bisa tersenyum, meski ada rasa yang sangat malu karena kesalahan yang tidak bisa untuk dilupakan. Mau tidak mau, Aluv hanya bisa nurut.
__ADS_1