
Seketika, Edwin langsung menyangga tubuh istrinya dengan posisi menggendong Radien.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Edwin dengan cemas.
"Tidak apa-apa, cuman tadi itu kek muter-muter gitu. Tensi darahku mungkin saja rendah, karena tiba-tiba kepalaku terasa pening banget."
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku mau menghubungi Dokter dulu." Ucap Edwin yang begitu mengkhawatirkan istrinya.
"Tidak perlu, nanti juga mendingan." Jawab Aluv yang tidak ingin merepotkan suaminya.
"Jangan bandel, aku akan tetap menghubungi dokter untuk memeriksa kondisi kamu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, nurut saja denganku. Kesehatan jauh lebih penting dari apapun." Kata Edwin yang langsung meraih gagang telpon rumah untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Galeyandra.
Aluv hanya bisa nurut, meski sebenarnya tidak ingin merepotkan suaminya.
Selesai menghubungi dokter, Edwin kembali mendekati istrinya.
"Sudah waktunya untuk makan malam, mau turun atau minta Bi Inah untuk membawakannya ke kamar?"
"Turun saja, aku tidak enak sama Papa dan juga Mama."
"Kalau kamu sedang tidak enak badan, kenapa mesti tidak enak hati?"
"Aku serius, aku ikut makan malam bersama. Lagian juga sudah mendingan, nggak seperti tadi yang pusing." Jawab Aluv berbagai alasan.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita turun." Ajak Edwin pada istrinya untuk makan malam sambil menggendong Radien.
Aluv mengangguk, lalu keduanya segera keluar dari kamar.
__ADS_1
Sedangkan dikamar satunya, Naya tengah berdecak kesal lantaran harus menerima perjodohan yang sama sekali tidak terlintas didalam benaknya.
"Papa menikahkan Kak Edwin kan, juga ada embel-embel. Apa lagi kalau bukan itu, takut nama baiknya akan tercoreng. Terus, kalau aku apa dong. Jangan-jangan ada apa-apanya nih, awas kalau aku dijadikan umpan kek Kak Edwin." Gerutu Naya didepan cermin.
Berbeda lagi di ruang makan, justru suasana tidak begitu hening, lantaran Radien yang sudah dapat meresponnya.
Aluv sendiri entah kenapa dirinya memilih untuk diam dan tidak seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang tengah dirasakanya.
"Mbak Mala, kesini." Panggil Bunda Holena.
"Ya, Nyonya." Sahut Mbak Mala, dan menuju ke arah sumber suara.
Mbak Mala yang merasa namanya di panggil, secepatnya segera mendekat.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Mbak Mala sambil setengah menunduk.
Edwin yang merasa keberatan karena masih ingin bersama Radien, mau tidak mau menyerahkannya pada Mbak Mala, baby sitternya.
"Bi Inah, tolong panggilkan Naya ya, Bi. Sudah waktunya untuk makan malam, dan jangan lupa untuk bersiap-siap. Katakan pada Naya, kita semua sudah menunggu untuk makan malam bersama." Perintah Bunda Holena untuk memanggilkan putrinya.
"Baik, Nyonya." Jawab Bi Inah.
Rupanya saat hendak menapaki anak tangga, Naya sudah keluar dari kamarnya dengan penampilan seadanya.
"Baru saja, Bibi mau panggil Non Naya. Tidak tahunya Nona sudah keluar dari kamar. Silakan, Non. Semua sudah menunggu." Ucap Bi Inah.
Ya, Bi." Jawab Naya dengan datar. Terlihat jelas jika dirinya tengah kesal dan juga geram.
__ADS_1
"Naya, kok cemberut gitu sih, sayang. Muka kamu juga ditekuk gitu. Duduklah, kita makan malam bersama."
"Ya, Ma." Jawabnya dengan singkat, tak terlihat senyum manis sedikitpun dari kedua sudut bibirnya.
"Kenapa lagi Lu, Nay? jutek gitu, cepet tua nanti."
"Bod*oh amat." Sahut Naya dengan kesal.
"Lihat tuh, adik ipar kamu lagi ngambek yang berkepanjangan. Pingin nikah keknya, biasanya sih gitu, suka marah-marah tidak jelas." Ledek Edwin yang merasa puas karena dirinya dapat membalas ledekan dari adik perempuannya saat dirinya dipaksa untuk menikah dengan pilihan orang tuanya.
Dan kini, perjodohan itupun telah dialami oleh adiknya sendiri. Yang mana tidak akan bisa menolak perjodohan yang sudah menjadi keputusan orang tuanya.
Aluv yang tidak tahu menahu mengenai sebuah perjodohan tentang adik iparnya, dirinya lebih memilih untuk melayani suaminya.
Setelah semuanya sudah siap untuk menikmati makan malamnya, tiba-tiba Aluv merasakan sesuatu pada bagian perut dan juga kepala yang terasa pusing tidak karuan.
Sendok yang berada di tangannya saja ikut jatuh di atas piring. Keseimbangan pada tubuhnya serasa tidak mampu untuk menyangga anggota tubuh lainnya.
Edwin langsung memegangi tubuh istrinya karena takut jatuh.
"Sayang, kamu kenapa lagi? pusing?" tanya Edwin sambil mengecek suhu badannya, takut dan khawatir dengan kondisi istrinya yang mana wajahnya mulai terlihat pucat.
"Aku masuk angin, apa ya? kepalaku pusing banget, dan juga perutku yang mulai terasa mual." Jawab Aluv sambil memegangi kepalanya.
Tanpa pikir panjang, Edwin langsung menggendong istrinya sampai di dalam kamar. Sedangkan Bunda Holena cepat-cepat segera menghubungi dokter pribadinya.
Tidak hanya Bunda Holena dan Edwin saja yang merasa panik dan juga khawatir, tetapi semua ikutan panik, Tuan Topan dan juga Naya.
__ADS_1